Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Kata Ganti Orang Pertama

Ketika aku membuat tulisan di manapun, aku selalu bingung untuk menulis kata ganti orang pertama. Aku baru menggunakan kata ganti “aku” di blog ini sekitar akhir tahun lalu (entahlah, males nyari tahunya). Seperti yang kubilang tadi, ini cuma berlaku untuk tulisan. Untuk berbicara, tentu saja menggunakan kata ganti “saya” itu aneh untuk orang yang kira-kira masih sebaya. Meski kata “saya” kesannya terlalu kaku, tapi kata “aku” juga terlihat narsis. Apalagi aku bukan orang yang suka banyak bercerita tentang diriku sendiri kecuali ke orang-orang terdekat.

Di karangan-karangan ilmiah, penulis tidak merujuk dirinya sendiri menggunakan kata ganti orang pertama. Biasanya penulis merujuk dirinya dengan kata “penulis”, “peneliti”, atau semacamnya. Mungkin sebabnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu harus objektif, atau setidaknya dibuat seobjektif mungkin. Menggunakan kata ganti orang pertama memberi kesan bahwa karangan itu bersifat subjektif dan dengan demikian mengurangi kesan keilmiahannya.

Lain lagi kalau kita lihat di esai. Esai pada dasarnya adalah cerminan pendapat penulisnya. Jadi menggunakan kata ganti orang pertama bukan masalah. Namun karena sebagian besar esai dibaca khalayak umum, maka penulis esai biasanya menggunakan kata “saya”, atau malahan berusaha menghindari merujuk diri sendiri. Di tulisan-tulisan lain yang sifatnya resmi dan dibaca umum, penulis juga akan merujuk dirinya adengan cara yang serupa.

Tidak semua bahasa punya lebih dari satu kata untuk merujuk pada diri sendiri. Bahasa Inggris dan Arab hanya punya satu kata untuk itu. Untuk bahasa Inggris, kata ganti ini lebih sering diterjemahkan sebagai “saya” dan bukannya “aku”.  Tapi aku menemukan sesuatu yang unik ketika membaca karya-karya terjemahan dari bahasa Arab (dalam hal ini, tulisan soal agama Islam). Kata-kata yang merujuk pada penulis diterjemahkan sebagai “aku” dan bukannya “saya”. Ulama Indonesia sendiri jarang kutemui menulis menggunakan kata “aku”.  Pertanyaannya: apa alasan penerjemah menerjemahkannya menjadi “aku”?

5 Comments

Melawan Paradigma

  1. Ajakan untuk “berpikir positif” itu menyesatkan. Kalau kita mau disuruh berpikir positif terus-terusan, sama saja dengan menipu diri sendiri. Karena di dunia ini, tidak semua yang kita jumpai itu hal yang positif bagi kita. Apa iya kalau kita menemui apel busuk kita harus melihatnya sebagai apel yang masih segar?
  2. Penjelasan dengan analogi, seperti analogi apel di atas sebenarnya hanya bagus untuk retorika saja. Dalam diskusi pemikiran, yang namanya analogi itu harus dijauhkan. Mengapa? Analogi sebenarnya hanya jalan pintas untuk membandingkan hal baru yang ingin seseorang pahamkan dengan hal yang sudah dipahami oleh orang lainnya. Analogi tidak akan pernah bisa menjelaskan keseluruhan konsep pemikiran yang ingin dipahamkan, dan karenanya tidak baik kalau diutamakan dalam diskusi.
  3. Sebenarnya yang mau kukritik adalah tren motivasi yang sering kita tonton, dengar, atau baca di sekitar kita. Banyak kata-kata motivasi yang kalau kita mau kritisi sedikit akan terlihat cacatnya. Tapi motivasi itu bisa terlihat indah dan menyentuh karena penyampaiannya. Entah itu karena untaian kata-katanya yang (sok) puitis atau penyampainnya menggunakan cara yang menarik (misalnya melawak atau bahkan dengan suara yang menggekegar bak ESQ).
  4. Tapi meski banyak dari isi motivasi yang sebenarnya dangkal, kenapa orang tetap menyukainya? Mungkin karena orang lebih suka dihibur dengan kata-kata yang indah daripada diberikan motivasi sesungguhnya. Orang lebih suka dengan, “semua hal tercipta karena ada maksudnya,” daripada: “bangkitlah bila engkau gagal” karena itu lebih menenangkan untuk mereka. Meski itu hanya akan menyembunyikan masalah sebenarnya.
Leave a Comment

Hari Ini, 66 Tahun Lalu

@GNFI : Hari ini,66 tahun lalu, Bandung mjd buah bibir para pejuang krn pengorbanannya yg luar biasa. #BandungLautanApi

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memperingati suatu peristiwa yang sudah terjadi itu tidak ada artinya. Kalau Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dan kita akan merayakan kemerdekaan negara kita yang ke-67 pada tanggal 17 Agustus 2012 nanti. Tapi apa hubungannya tanggal 17 Agustus 1945 dengan 17 Agustus 2012? Karena 67 tahun yang lalu di tanggal yang sama Pak Soekarno membacakan proklamasi? Itu kan kalau kalendernya masehi, bagaimana kalau kalender hijriyah atau saka? Atau malah kalender Julian atau Yahudi?

Kalender, jam, hari, dan ukuran waktu lainnya hanya hasil ciptaan manusia untuk mengukur seberapa jauh jarak kita dengan masa lalu dan masa depan. Sedangkan waktu sendiri pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita ketahui secara kuantitatif. Kita hanya bisa membedakan antara yang sudah berlalu dengan yang akan datang dengan batas waktu kini (the present). Kalender hanya mengambil suatu waktu sebagai titik acuannya (misalnya, peristiwa hijrah Rasulullah atau lahirnya Isa Al-Masih menurut keyakinan Kristiani) dan mulai penghitungannya dari sana. Entahlah, filsafat tidak habis-habisnya bicara soal waktu, dan bahasan soal waktu memang biasanya njelimet.

Seperti apa yang pernah kita pelajari, sejarah tidak bisa diulang kembali. Kita sebenarnya hanya mengingat suatu peristiwa di saat yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang kita peringati itu. Indonesia merdeka hanya sekali, kita lahir dari rahim ibu juga hanya sekali. Intinya, peristiwa apapun hanya terjadi sekali dan tidak akan ada yang menyamainya.

Leave a Comment
In word we trust