Skip to content

Month: April 2012

Nggak Jelas

  1. Know your limits, but don’t limit yourself.
    1. This is not contradictory since the actual limits and the limits one makes against oneself is clearly different.
    2. The limits I’m writing here are limits that are beyond one’s control.
    3. I.e. the limits are what limits human as a finite being. E.g. the fact that we eat, we need rest, we die, etc.
    4. Believers and unbelievers alike will not reject the fact that human is a finite being. For believers, the limits are divine laws. And for unbelievers, it is just the way human is.
    5. Actually, the limits are the physical, psychological, and physiological limits of human.
    6. There is no way a human can be actually free since he has his limits. Even so, he must not further limit himself and strive to use the remaining freedom to fulfill his life.
  2. Sartre: we define who we are by choices we made.
    1. This is an example of existentialist philosophy. Existentialism holds that any kind of thought must start from the individual rather than the universal.
    2. Example: some philosophers stated that there is a universal, objective truth. But existentialits would say that truth only exist within an individual and is therefore subjective.
    3. The above statement is the explanation of the ‘existence precedes essence’ notion.
      1. Essence: the immaterial nature of things. E.g. what makes a human human.
      2. Existence: the fact that a thing exists. Obvious enough.
      3. Traditional philosophy holds that essence is more important than the essence. But existentialism reverses it.
      4. By saying that existence precedes essence, it is meant that human actually has no essence (or, no meaning) to begin with. People must go on by making choices in order to create their meaning.
Leave a Comment

Kata Ganti Orang Pertama

Ketika aku membuat tulisan di manapun, aku selalu bingung untuk menulis kata ganti orang pertama. Aku baru menggunakan kata ganti “aku” di blog ini sekitar akhir tahun lalu (entahlah, males nyari tahunya). Seperti yang kubilang tadi, ini cuma berlaku untuk tulisan. Untuk berbicara, tentu saja menggunakan kata ganti “saya” itu aneh untuk orang yang kira-kira masih sebaya. Meski kata “saya” kesannya terlalu kaku, tapi kata “aku” juga terlihat narsis. Apalagi aku bukan orang yang suka banyak bercerita tentang diriku sendiri kecuali ke orang-orang terdekat.

Di karangan-karangan ilmiah, penulis tidak merujuk dirinya sendiri menggunakan kata ganti orang pertama. Biasanya penulis merujuk dirinya dengan kata “penulis”, “peneliti”, atau semacamnya. Mungkin sebabnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu harus objektif, atau setidaknya dibuat seobjektif mungkin. Menggunakan kata ganti orang pertama memberi kesan bahwa karangan itu bersifat subjektif dan dengan demikian mengurangi kesan keilmiahannya.

Lain lagi kalau kita lihat di esai. Esai pada dasarnya adalah cerminan pendapat penulisnya. Jadi menggunakan kata ganti orang pertama bukan masalah. Namun karena sebagian besar esai dibaca khalayak umum, maka penulis esai biasanya menggunakan kata “saya”, atau malahan berusaha menghindari merujuk diri sendiri. Di tulisan-tulisan lain yang sifatnya resmi dan dibaca umum, penulis juga akan merujuk dirinya adengan cara yang serupa.

Tidak semua bahasa punya lebih dari satu kata untuk merujuk pada diri sendiri. Bahasa Inggris dan Arab hanya punya satu kata untuk itu. Untuk bahasa Inggris, kata ganti ini lebih sering diterjemahkan sebagai “saya” dan bukannya “aku”.  Tapi aku menemukan sesuatu yang unik ketika membaca karya-karya terjemahan dari bahasa Arab (dalam hal ini, tulisan soal agama Islam). Kata-kata yang merujuk pada penulis diterjemahkan sebagai “aku” dan bukannya “saya”. Ulama Indonesia sendiri jarang kutemui menulis menggunakan kata “aku”.  Pertanyaannya: apa alasan penerjemah menerjemahkannya menjadi “aku”?

5 Comments

Melawan Paradigma

  1. Ajakan untuk “berpikir positif” itu menyesatkan. Kalau kita mau disuruh berpikir positif terus-terusan, sama saja dengan menipu diri sendiri. Karena di dunia ini, tidak semua yang kita jumpai itu hal yang positif bagi kita. Apa iya kalau kita menemui apel busuk kita harus melihatnya sebagai apel yang masih segar?
  2. Penjelasan dengan analogi, seperti analogi apel di atas sebenarnya hanya bagus untuk retorika saja. Dalam diskusi pemikiran, yang namanya analogi itu harus dijauhkan. Mengapa? Analogi sebenarnya hanya jalan pintas untuk membandingkan hal baru yang ingin seseorang pahamkan dengan hal yang sudah dipahami oleh orang lainnya. Analogi tidak akan pernah bisa menjelaskan keseluruhan konsep pemikiran yang ingin dipahamkan, dan karenanya tidak baik kalau diutamakan dalam diskusi.
  3. Sebenarnya yang mau kukritik adalah tren motivasi yang sering kita tonton, dengar, atau baca di sekitar kita. Banyak kata-kata motivasi yang kalau kita mau kritisi sedikit akan terlihat cacatnya. Tapi motivasi itu bisa terlihat indah dan menyentuh karena penyampaiannya. Entah itu karena untaian kata-katanya yang (sok) puitis atau penyampainnya menggunakan cara yang menarik (misalnya melawak atau bahkan dengan suara yang menggekegar bak ESQ).
  4. Tapi meski banyak dari isi motivasi yang sebenarnya dangkal, kenapa orang tetap menyukainya? Mungkin karena orang lebih suka dihibur dengan kata-kata yang indah daripada diberikan motivasi sesungguhnya. Orang lebih suka dengan, “semua hal tercipta karena ada maksudnya,” daripada: “bangkitlah bila engkau gagal” karena itu lebih menenangkan untuk mereka. Meski itu hanya akan menyembunyikan masalah sebenarnya.
Leave a Comment
In word we trust