Skip to content

Gadis Dandelion – 5-6 (Tamat)

Catatan dikit:

  1. Cerita ini adalah terjemahan serampangan saya dari The Dandelion Girl karangan Robert F. Young. Aslinya ini bukan cerita bersambung, tapi untuk mengurangi prokrastinasi saya memecahnya jadi enam bagian. Selain itu, cerita ini diterjemahkan bersambung biar yang baca penasaran supaya saya juga terpacu untuk menyelesaikan.
  2. Seperti yang sudah dibilang tadi, ini terjemahan serampangan. Akan banyak perbedaan diksi dan gaya bahasa antara terjemahan ini dengan cerita aslinya. Maklum masih amatiran. Jadi, tolong kasih saran dan kritik, ya. 😉
  3. Bagian-bagian lain dari terjemahan ini:
    Bagian 1
    Bagian 2
    Bagian 3
    Bagian 4
    Bagian 5-6

Sesudah itu, sang gadis pergi, berlari kecil menuruni bukit, dan sesaat kemudian dia menghilang di balik rerimbunan pohon mapel. Tangan Mark gemetar ketika ia menyalakan pipanya, dan nyala korek api melukai jari-jemarinya. Setelah itu, ia tidak bisa mengingat perjalanannya kembali ke kabin atau menyiapkan makan malam atau pergi ke tempat tidur, namun ia pastilah sudah melakukan semua itu, karena ia terbangun di kamarnya sendiri, dan ketika ia pergi ke dapur, ada piring bekas makan yang tergeletak di bak cuci piring.

Dia mencuci piring dan membuat kopi. Ia menghabiskan pagi hari dengan memancing di dermaga, menjaga pikirannya yang kosong. Ia akan menghadapi kenyataan selepasnya. Sekarang sudah cukup baginya bahwa Julie mencintainya, dan bahwa beberapa jam lagi ia akan melihatnya. Tentu mesin waktu yang sudah rusak pun masih bisa mengantarkannya dari perkampungan ke atas bukit.

Mark tiba di sana lebih awal, duduk di bangku granit, dan menunggu Julie keluar dari hutan dan mendaki lereng. Dia bisa merasakan palu godam menghantam jantungnya, dan dia sadar tangannya gemetar. Hari sebelum kemarin, saya melihat kelinci. Kemarin, rusa. Hari ini, Anda.

Ia menunggu dan dia menunggu, namun Julie tak juga tiba. Julie pun tak datang keesokan harinya. Saat bayang-bayang mulai memanjang dan udara mulai dingin menusuk, Mark menuruni bukit dan memasuki rerimbunan pohon mapel. Di situlah ia menemukan sebuah jalur, dan Mark mengikutinya masuk ke dalam hutan dan dari hutan itu menuju ke perkampungan. Ia berhenti di depan sebuah kantor pos kecil dan mengecek apakah ada pesan untuknya. Setelah sang kepala kantor pos yang sudah lanjut usia memberitahu bahwa tidak ada pesan untuknya, Mark masih tetap tinggal beberapa saat. “Apa—apa ada keluarga bernama Danvers yang tinggal di dekat sini?” ujarnya tiba-tiba.

Sang kepala kantor pos menggeleng. “Belum pernah dengar.”

“Apa ada orang dimakamkan di daerah sini baru-baru ini?”

“Belum ada, setengah sampai setahun belakangan ini.”

Setelah itu, meski Mark tetap mengunjungi bukit setiap sore hingga liburannya habis, ia sadar dalam hatinya bahwa Julie tak akan kembali, bahwa Julie telah hilang darinya seolah tak pernah ada. Tiap malam ia berjalan membayangi perkampungan, keras-keras berharap bahwa kepala kantor pos itu salah ingat, namun tidak juga ia dapati tanda-tanda kedatangan Julie, dan pertanyaan yang dia ajukan kepada tiap orang yang lewat tak pernah membuahkan hasil.

Di awal Oktober, Mark kembali ke kota. Ia bertindak sebaik-baiknya pada Anne seolah tak ada yang berubah di antara mereka; namun Anne langsung tahu bahwa sesuatu telah berganti. Dan, meski ia tak bertanya apa pun, Anne bertambah murung dan semakin murung seiring minggu berganti. Dan, rasa takut di pelupuk matanya yang membuat Mark takut menjadi bertambah dan bertambah jelas.

Mark mulai menyetir mobil ke pedesaan setiap Sabtu sore dan mengunjungi puncak bukit. Pepohonan sekarang sudah berwarna keemasan, dan langit tampak semakin biru ketimbang sebulan yang lalu. Berjam-jam ia habiskan dengan duduk di atas bangku granit, menatap tempat terakhir kalinya ia memandang Julie. Hari sebelum kemarin, saya melihat kelinci. Kemarin, rusa. Hari ini, Anda.

________________________

Kemudian, pada suatu malam yang berpenghujan di pertengahan November, Mark menemukan sebuah koper milik Anne. Semacam kebetulan ia menemukan koper itu. Anne sedang pergi ke kota untuk bermain bingo, dan Mark tinggal sendirian di rumah. Selepas dua jam dia habiskan menonton empat acara TV yang semuanya membosankan, Mark teringat mainan bongkar pasang yang dia masukkan gudang musim dingin yang lalu.

Ia sedang putus asa mencari apa saja—apa pun—untuk mengalihkan pikirannya dari Julie, dan karena itulah ia naik ke atas loteng mencari mainan itu. Sebuah koper jatuh dari atas lemari saat ia meraba-raba beberapa kotak yang tertumpuk di sebelahnya. Koper itu langsung terbuka saat menghantam lantai.

Mark membungkuk seraya memegangnya. Koper itu adalah yang Julie bawa saat ia pindah ke apartemen kecil yang mereka sewa setelah mereka menikah, dan Mark ingat bahwa Anne selalu menyimpannya dalam keadaan terkunci, dan Mark ingat Anne tertawa memberitahunya bahwa ada beberapa hal yang harus dirahasiakan seorang istri dari suaminya. Kunci koper itu telah berkarat dimakan umur, dan saat jatuh kunci itu pun pecah.

Mark mulai menutup kembali koper yang terbuka itu, tapi terhenyak saat ia melihat lipatan yang menonjol dari sehelai gaun putih. Bahannya tampak familiar. Ia pernah melihat bahan semacam itu belum lama ini—bahan yang membawa pikirannya pada katun, buih laut, dan salju.

Tutup koper itu ia angkat kembali, dan gaun putih tadi diambilnya dengan jari jemarinya yang sekarang bergetar. Dia junjung kedua bahu gaun itu dan membiarkannya terbentang. Gaun itu membeber ke bawah layaknya salju yang sedang turun. Dipandangnya gaun itu lamat-lamat. Kerongkongannya kering. Lalu, dengan lembut, gaun itu ia lipat lagi dan ia kembalikan lagi ke dalam koper, yang kemudian ditutupnya. Koper itu ia kembalikan ke tempat semulanya. Hari sebelum kemarin, saya melihat kelinci. Kemarin, rusa, Hari ini, Anda.

Hujan menghantam atap rumah. Rasa tercekat di kerongkongan Mark begitu menjadi sekarang, hingga selama beberapa saat ia rasa ia akan menangis. Perlahan, ia menuruni anak tangga dari loteng. Dia turun dari tangga spiral sampai ke ruang keluarga. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lima belas. Beberapa menit lagi, bus Julie akan tiba di sudut jalan. Anne akan meniti jalan raya, masuk ke jalan kecil, hingga sampai ke pintu depan rumah. Anne akan tiba… Julie akan tiba. Julianne?

Apa itu nama lengkapnya? Mungkin. Orang hampir pasti menyisipkan sebagian nama aslinya saat memakai nama samaran, dan mungkin setelah sepenuhnya mengubah nama belakangnya, Julie pikir sah-sah saja menyisakan sedikit nama depannya. Ia pasti juga melakukan banyak hal lainnya, di samping mengubah namanya, guna menghindari polisi waktu. Itulah makanya dia tidak pernah mau difoto! Dan pasti ia begitu takut bertahun-tahun yang lalu pada hari ketika ia berjalan malu-malu ke kantor Mark untuk melamar kerja! Seorang diri di masa yang aneh, tanpa yakin betul apakah konsep waktu yang dipikirkan ayahnya itu benar, tanpa yakin betul apakah lelaki yang mencintainya pada saat usianya empat puluhan tahun juga akan merasakan hal yang sama di usia dua puluhannya. Julie sudah kembali, persis seperti yang ia janjikan.

Dua puluh tahun, gumam Mark, dan selama itu ia pasti tahu bahwa suatu hari aku akan mendaki bukit di bulan September dan melihatnya berdiri, dia yang masih muda dan menawan di bawah terik matahari, dan jatuh hati padanya lagi dan lagi. Pasti Julie sadar bahwa saat itu adalah masa lalunya persis seperti aku sadar bahwa saat itu adalah masa depanku. Tapi, mengapa dia tak memberitahuku? Mengapa ia tak memberitahuku sekarang?

Tiba-tiba, Mark memahami semuanya.

Mark kesulitan menarik napas, dan dia pergi mengambil jas hujannya, lalu berjalan di bawah guyuran hujan. Ia menyusuri jalan kecil di tengah hujan, dan hujan itu memercik di mukanya, dan mengalir sebagai tetes-tetes di pipinya, dan sebagian tetes air itu adalah air hujan dan sebagiannya lagi adalah air mata. Mengapa orang yang cantik awet mudanya seperti Anne—seperti juga Julie—takut bertambah tua? Apa Julie tak sadar bahwa dalam benak Mark ia tak bisa menjadi tua—bahwa bagi Mark ia tak menua sehari pun sejak Mark mendongak di meja kerjanya dan melihat Julie berdiri di kantor kecilnya dan seketika jatuh hati padanya? Tak bisakah ia sadar bahwa itulah mengapa gadis yang berdiri di atas bukit itu tampak seperti orang asing bagi Mark?

Mark telah mencapai jalan raya dan berjalan hingga ke tepi persimpangan. Ia hampir tiba saat bus yang membawa istrinya tiba di persimpangan jalan raya dan berhenti, dan seorang perempuan dengan jas hujan tebal turun dari sana. Rasa tercekat di lehernya kini menjadi tajam seperti pisau, dan dia sama sekali tak mampu bernapas. Rambut berwarna dandelion itu sekarang lebih gelap warnanya, dan pesona kegadisan itu sudah pudar, namun kelembutan yang menawan masih tinggal di raut wajahnya yang halus, dan kakinya yang panjang dan jenjang punya keanggunan dan keseimbangan sendiri di tengah cahaya lampu jalan yang redup di bulan November, yang sama sekali tak tampak di tengah sinar matahari yang memancar keemasan di bulan September.

Perempuan itu maju mendekatinya, dan Mark melihat rasa takut yang familiar di kedua matanya—rasa takut yang sekarang pedih tak terperi sebab Mark sudah memahami alasannya. Perempuan itu tampak kabur di kedua pelupuk matanya, dan Mark sontak berjalan padanya tanpa berpikir apa pun lagi. Perempuan itu sadar bahwa sekarang semuanya sudah baik-bak saja, dan rasa takut itu pergi selama-lamanya, dan mereka berdua berjalan pulang ke rumah bergandeng tangan di tengah hujan.

Tamat

Published inFictional works

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

In word we trust