Skip to content

Category: Thoughts

Nggak Jelas

  1. Know your limits, but don’t limit yourself.
    1. This is not contradictory since the actual limits and the limits one makes against oneself is clearly different.
    2. The limits I’m writing here are limits that are beyond one’s control.
    3. I.e. the limits are what limits human as a finite being. E.g. the fact that we eat, we need rest, we die, etc.
    4. Believers and unbelievers alike will not reject the fact that human is a finite being. For believers, the limits are divine laws. And for unbelievers, it is just the way human is.
    5. Actually, the limits are the physical, psychological, and physiological limits of human.
    6. There is no way a human can be actually free since he has his limits. Even so, he must not further limit himself and strive to use the remaining freedom to fulfill his life.
  2. Sartre: we define who we are by choices we made.
    1. This is an example of existentialist philosophy. Existentialism holds that any kind of thought must start from the individual rather than the universal.
    2. Example: some philosophers stated that there is a universal, objective truth. But existentialits would say that truth only exist within an individual and is therefore subjective.
    3. The above statement is the explanation of the ‘existence precedes essence’ notion.
      1. Essence: the immaterial nature of things. E.g. what makes a human human.
      2. Existence: the fact that a thing exists. Obvious enough.
      3. Traditional philosophy holds that essence is more important than the essence. But existentialism reverses it.
      4. By saying that existence precedes essence, it is meant that human actually has no essence (or, no meaning) to begin with. People must go on by making choices in order to create their meaning.
Leave a Comment

Kata Ganti Orang Pertama

Ketika aku membuat tulisan di manapun, aku selalu bingung untuk menulis kata ganti orang pertama. Aku baru menggunakan kata ganti “aku” di blog ini sekitar akhir tahun lalu (entahlah, males nyari tahunya). Seperti yang kubilang tadi, ini cuma berlaku untuk tulisan. Untuk berbicara, tentu saja menggunakan kata ganti “saya” itu aneh untuk orang yang kira-kira masih sebaya. Meski kata “saya” kesannya terlalu kaku, tapi kata “aku” juga terlihat narsis. Apalagi aku bukan orang yang suka banyak bercerita tentang diriku sendiri kecuali ke orang-orang terdekat.

Di karangan-karangan ilmiah, penulis tidak merujuk dirinya sendiri menggunakan kata ganti orang pertama. Biasanya penulis merujuk dirinya dengan kata “penulis”, “peneliti”, atau semacamnya. Mungkin sebabnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu harus objektif, atau setidaknya dibuat seobjektif mungkin. Menggunakan kata ganti orang pertama memberi kesan bahwa karangan itu bersifat subjektif dan dengan demikian mengurangi kesan keilmiahannya.

Lain lagi kalau kita lihat di esai. Esai pada dasarnya adalah cerminan pendapat penulisnya. Jadi menggunakan kata ganti orang pertama bukan masalah. Namun karena sebagian besar esai dibaca khalayak umum, maka penulis esai biasanya menggunakan kata “saya”, atau malahan berusaha menghindari merujuk diri sendiri. Di tulisan-tulisan lain yang sifatnya resmi dan dibaca umum, penulis juga akan merujuk dirinya adengan cara yang serupa.

Tidak semua bahasa punya lebih dari satu kata untuk merujuk pada diri sendiri. Bahasa Inggris dan Arab hanya punya satu kata untuk itu. Untuk bahasa Inggris, kata ganti ini lebih sering diterjemahkan sebagai “saya” dan bukannya “aku”.  Tapi aku menemukan sesuatu yang unik ketika membaca karya-karya terjemahan dari bahasa Arab (dalam hal ini, tulisan soal agama Islam). Kata-kata yang merujuk pada penulis diterjemahkan sebagai “aku” dan bukannya “saya”. Ulama Indonesia sendiri jarang kutemui menulis menggunakan kata “aku”.  Pertanyaannya: apa alasan penerjemah menerjemahkannya menjadi “aku”?

5 Comments

Melawan Paradigma

  1. Ajakan untuk “berpikir positif” itu menyesatkan. Kalau kita mau disuruh berpikir positif terus-terusan, sama saja dengan menipu diri sendiri. Karena di dunia ini, tidak semua yang kita jumpai itu hal yang positif bagi kita. Apa iya kalau kita menemui apel busuk kita harus melihatnya sebagai apel yang masih segar?
  2. Penjelasan dengan analogi, seperti analogi apel di atas sebenarnya hanya bagus untuk retorika saja. Dalam diskusi pemikiran, yang namanya analogi itu harus dijauhkan. Mengapa? Analogi sebenarnya hanya jalan pintas untuk membandingkan hal baru yang ingin seseorang pahamkan dengan hal yang sudah dipahami oleh orang lainnya. Analogi tidak akan pernah bisa menjelaskan keseluruhan konsep pemikiran yang ingin dipahamkan, dan karenanya tidak baik kalau diutamakan dalam diskusi.
  3. Sebenarnya yang mau kukritik adalah tren motivasi yang sering kita tonton, dengar, atau baca di sekitar kita. Banyak kata-kata motivasi yang kalau kita mau kritisi sedikit akan terlihat cacatnya. Tapi motivasi itu bisa terlihat indah dan menyentuh karena penyampaiannya. Entah itu karena untaian kata-katanya yang (sok) puitis atau penyampainnya menggunakan cara yang menarik (misalnya melawak atau bahkan dengan suara yang menggekegar bak ESQ).
  4. Tapi meski banyak dari isi motivasi yang sebenarnya dangkal, kenapa orang tetap menyukainya? Mungkin karena orang lebih suka dihibur dengan kata-kata yang indah daripada diberikan motivasi sesungguhnya. Orang lebih suka dengan, “semua hal tercipta karena ada maksudnya,” daripada: “bangkitlah bila engkau gagal” karena itu lebih menenangkan untuk mereka. Meski itu hanya akan menyembunyikan masalah sebenarnya.
Leave a Comment

Hari Ini, 66 Tahun Lalu

@GNFI : Hari ini,66 tahun lalu, Bandung mjd buah bibir para pejuang krn pengorbanannya yg luar biasa. #BandungLautanApi

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memperingati suatu peristiwa yang sudah terjadi itu tidak ada artinya. Kalau Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dan kita akan merayakan kemerdekaan negara kita yang ke-67 pada tanggal 17 Agustus 2012 nanti. Tapi apa hubungannya tanggal 17 Agustus 1945 dengan 17 Agustus 2012? Karena 67 tahun yang lalu di tanggal yang sama Pak Soekarno membacakan proklamasi? Itu kan kalau kalendernya masehi, bagaimana kalau kalender hijriyah atau saka? Atau malah kalender Julian atau Yahudi?

Kalender, jam, hari, dan ukuran waktu lainnya hanya hasil ciptaan manusia untuk mengukur seberapa jauh jarak kita dengan masa lalu dan masa depan. Sedangkan waktu sendiri pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita ketahui secara kuantitatif. Kita hanya bisa membedakan antara yang sudah berlalu dengan yang akan datang dengan batas waktu kini (the present). Kalender hanya mengambil suatu waktu sebagai titik acuannya (misalnya, peristiwa hijrah Rasulullah atau lahirnya Isa Al-Masih menurut keyakinan Kristiani) dan mulai penghitungannya dari sana. Entahlah, filsafat tidak habis-habisnya bicara soal waktu, dan bahasan soal waktu memang biasanya njelimet.

Seperti apa yang pernah kita pelajari, sejarah tidak bisa diulang kembali. Kita sebenarnya hanya mengingat suatu peristiwa di saat yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang kita peringati itu. Indonesia merdeka hanya sekali, kita lahir dari rahim ibu juga hanya sekali. Intinya, peristiwa apapun hanya terjadi sekali dan tidak akan ada yang menyamainya.

Leave a Comment

Akibat Jam Kosong

Kakilangit Sastra Pelajar
Kakilangit Sastra Pelajar

Kemarin lusa, aku menemukan buku Kakilangit Sastra Pelajar di perpustakaan. Di tengah stereotip bahwa sastra dan membaca bukan kebiasaan remaja Indonesia, buku ini sedikit membuatku lega. Ternyata tidak semua remaja Indonesia hanya bisa merangkai kata-kata gombal murahan dan/atau menulis fan fiction anime atau artis Korea.

Puisi-puisi yang ditulis tidak kalah menariknya (setidaknya untukku) dengan karya-karya pujangga yang lebih senior seperti Sapardi, Sutardji, atau Alois. Tema-tema yang diangkat sangat luas, mulai dari Simfoni Mahler no. 9 sampai penyalahgunaan narkoba. Gaya menulisnya juga sangat tereksplorasi, jauh dari gaya bahasa status-status  ababil di Facebook atau twit di Twitter yang begitu-begitu saja.

Tapi ternyata tidak sampai di situ, anak-anak Horison ini ini ternyata lebih mengerikan dari yang kuduga. Di bagian esai, ada tulisan yang memuat pembahasan filsafat kontinental yang jelas membuatku bingung. Bahkan Ir. Melani Budianta di bagian epilognya juga menyatakan kekaguman beliau atas karya-karya yang dimuat.

Kesimpulannya, faith in teenagers: restored.

______



Gambar diambil dari hasil penelusuran Google, sumber dari sini (sudah tidak valid).

3 Comments
In word we trust