Skip to content

Tag: terjemahan

Puisi tentang Informasi (dan Sekilas Piramida DIKW)

Sang Elang terbang di pucuk Langit,
Sang Pemburu dengan anjingnya mengejar arah terbangnya.
Wahai bintang-bintang yang beredar tak henti,
Wahai musim-musim yang selalu silih berganti,
Wahai dunianya musim semi dan gugur, yang lahir dan yang mati!
Tiada hentinya putaran gagasan dan tindakan,
Penemuan tiada akhir, percobaan tiada akhir,
Membawa pengetahuan akan gerakan, namun tidak ketenangan;
Pengetahuan akan bicara, namun tidak dengan diam;
Pengetahuan akan kata-kata, dan kebodohan akan Kata.
Semua pengetahuan mendekatkan kita pada kedunguan,
Semua kedunguan mendekatkan kita pada kematian,
Tapi dekat dengan mati tanpa dekat dengan Tuhan.
Di mana Hidup kita yang tenggelam dalam bertahan hidup?
Di mana kebijaksanaan kita yang tenggelam dalam pengetahuan?
Di mana pengetahuan kita yang tenggelam dalam informasi?

Berputar-putarnya langit selama dua puluh abad
Menjauhkan kita dari Tuhan dan membawa kita jadi Debu.

Dikutip dari “Choruses from The Rock” karya T.S. Eliot, terjemahan sendiri

Yang spesial dari petikan korus drama The Rock di atas bukan sang penulis T.S. Eliot yang tidak asing dibahas di program studi Bahasa dan Sastra Inggris, bukan pula kualitas untaian katanya secara sastra, meskipun kedua hal ini juga sudah membuat petikan ini di atas rata-rata karya puisi lain. Pada dua bait yang aku tebalkan di atas, ada beberapa konsep yang digambarkan berkaitan satu sama lain. Kebijaksanaan dikatakan tenggelam dalam pengetahuan, dan pengetahuan itu sendiri digambarkan tenggelam dalam informasi. Artinya, menurut Eliot, informasi (information) itu bisa disaring menjadi pengetahuan (knowledge), dan pengetahuan bisa disaring lagi menjadi kebijaksanaan (wisdom). Inilah yang dikutip sebagai asal mula dari istilah Piramida DIKW.

Bagan Piramida DIKW (data, information, knowledge, wisdom). Sumber: Soloviev (2016) dalam Baldassare (2016).

Piramida DIKW (DIKW Pyramid) terdiri dari empat hal yang tersusun bak piramida.

Yang pertama adalah data. Data dapat kita artikan sebagai sinyal, simbol, atau fakta yang ada dalam dunia. Contohnya, ketika kita lihat warna merah, merah itu bisa dilihat sebagai data.

Selanjutnya ada konsep informasi (information), yang bisa kita jabarkan sebagai “data yang berguna.” Bagaimana cara kita bisa membuat data jadi berguna? Caranya adalah dengan memberikan dan menjawab pertanyaan atas data tersebut. Ketika tadi kita melihat warna merah, kita bisa menanyakan, “Ada di mana warna merah itu?” Misalkan saja kita lihat warna tadi di lampu lalu lintas di perempatan jalan. “Kapan warna merah itu terlihat?” Andaikan kita melihatnya pada saat kita membawa kendaraan waktu pergi ke kantor. Dari sini, data berupa warna merah itu sudah bisa kita simpulkan menjadi informasi tentang isyarat lampu lalu lintas yang ditujukan kepada orang yang sedang berkendara.

Berikutnya, informasi diolah lagi menjadi suatu pengetahuan (knowledge). Definisi pengetahuan lebih sulit dijelaskan, tapi secara singkat kita bisa menganggap pengetahuan itu sebagai berbagai kepingan informasi yang terpadu menjadi suatu susunan yang bisa dimengerti. Dari contoh tentang lampu merah tadi, setelah kita mengumpulkan banyak informasi, tidak saja mengenai lampu merah dan situasi kita di tempat tersebut, tapi juga informasi lain mengenai tata cara berlalu lintas dan tata cara berkendara yang kita pelajari waktu ujian SIM, kita jadi tahu bahwa pada saat kita melihat warna merah di lampu lalu lintas, kita diwajibkan untuk berhenti.

Terakhir, di puncak piramida, ada konsep kebijaksanaan (wisdom). Ini lebih sulit lagi diartikan ketimbang pengetahuan, tapi pendeknya dapat kita katakan bahwa kebijaksanaan itu ialah kemampuan atau keadaan seseorang untuk memilih dan melakukan hal yang benar (what is right) dan hal yang terbaik (what is best) berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka punya. Masih dengan contoh lampu merah, jika kita orang yang bijaksana, maka kita akan bijak memilih untuk menghentikan kendaraan saat melihat warna merah di lampu lalu lintas perempatan. Banyak orang yang tahu arti warna merah di lampu lalu lintas dan apa yang harusnya mereka lakukan, tapi mereka tidak cukup bijak sehingga memilih untuk langsung menerabas. Mereka kurang mempertimbangkan beberapa pengetahuan yang lain yang harusnya atau bahkan sudah mereka punya, semisal tentang kemungkinan terjadinya kecelakaan dan efek dari kecelakaan tersebut atas keselamatan badan mereka.

Gambaran lain tentang DIKW dalam bentuk proses, dengan tambahan konsep pemahaman/understanding dan juga pengetahuan yang sifatnya tersurat (e = explicit) dan tersirat (t = tacit). Sumber: Wikimedia Commons.

Puisi T.S. Eliot tadi memasukkan informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan, tapi tidak dengan data. Ini bisa kita mengerti karena konsep yang kita kenal sekarang soal data (seperti misalnya dalam istilah data di komputer, data penelitian, atau jargon data science dan big data) itu baru populer setelah drama yang memuat bait puisi ini terbit pada tahun 1934. Lebih tepatnya lagi, konsep data baru umum digunakan setelah ditemukannya komputer modern dari konsep Mesin Turing (Turing Machine) yang digagas ilmuwan Alan Turing sekitar tahun 1936.

Piramida DIKW buatku sangat membantu sebagai alat berpikir (mental model), walau tentu banyak yang akan tidak sepakat dengan pengertian-pengertian di atas. Menurutku, Piramida DIKW ini skema yang lebih sederhana ketimbang model-model mengenai pengetahuan yang lain, seperti Taksonomi Bloom. DIKW ini juga punya posisi yang spesial buatku karena aku sendiri juga bekerja di bidang yang terkait dengan informasi (khususnya ilmu perpustakaan dan informasi), banyak yang terpikir bahkan dari membaca petikan puisi TS Eliot di atas saja. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk menggali konsep ini lebih jauh lagi. 😀

Leave a Comment

Titik Biru

Lihatlah lagi titik itu. Itulah tempat kita. Itulah rumah kita. Itulah kita. Di sanalah hidup semua orang yang kita cintai, semua orang yang kita kenal, semua orang yang pernah kita tahu, semua orang yang pernah hidup. Seluruh bahagia dan derita, beribu-ribu agama, ideologi, dan gagasan ekonomi yang dipercaya, semua pemburu dan peramu, semua pahlawan dan pecundang, semua pencipta dan pemusnah peradaban, semua raja dan jelata, semua muda-mudi yang pernah jatuh cinta, semua ibu dan ayah, anak-anak mereka yang penuh cita-cita, penemu dan penjelajah, semua guru kebajikan, semua politikus busuk, semua “bintang terkenal”, semua “pemimpin besar”, semua pendeta dan pendosa sepanjang sejarah spesies kita, mereka semua hidup di sana—hanya setitik debu yang mengambang di tengah sinar matahari.

Bumi adalah panggung yang teramat kecil di tengah-tengah belantara alam raya. Bayangkanlah banjir darah yang ditumpahkan para jenderal dan kaisar dengan segala kegagahan dan keangkuhan hanya supaya mereka bisa jadi penguasa sesaat atas secuil dari titik itu. Bayangkanlah kekejian yang tiada henti dilakukan penduduk secuil titik itu kepada penduduk secuil titik di sudut lainnya, betapa seringnya mereka berselisih paham, betapa seringnya mereka saling membunuh, betapa mendidih kebencian di antara mereka.

Kesombongan kita, rasa congkak kita, khayalan seolah kitalah yang punya posisi penting di alam semesta, semua itu dimentahkan oleh sebintik titik pucat ini. Planet kita hanyalah butiran yang mengambang sendirian di kegelapan kosmos. Dalam kesepian kita, di tengah belantara ini, tidak ada tanda-tanda siapapun dari manapun yang bisa menolong kita dari diri kita sendiri.

Bumi ini adalah satu-satunya tempat yang memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain yang bisa kita huni, setidaknya dalam waktu dekat. Mampir, bisa. Tinggal, belum. Suka tidak suka, saat ini Bumilah titik darah penghabisan kita.

Ada yang mengatakan bahwa astronomi mengajarkan kerendahan hati dan membangun karakter. Rasanya tidak ada lagi bukti betapa bodohnya kesombongan manusia selain gambar yang menunjukkan betapa mungilnya dunia kita ini. Bagi saya, ini menunjukkan betapa kita perlu mawas diri agar berbuat lebih baik kepada sesama, dan agar kita dapat melestarikan dan merawat titik biru pucat ini, satu-satunya rumah yang kita punya.

Dipetik dari “Pale Blue Dot” karya Carl Sagan. Terjemahan sendiri.
Foto Pale Blue Dot yang diambil dari Voyager 1 pada tanggal 14 Februari 1990. Diambil dari Wikimedia Commons.

Sering kita larut dalam kesibukan dan rutinitas hidup sehari-hari dengan segala kegilaannya. Beberapa kali kita merasa dalam kejenuhan yang tak larut-larut. Tak jarang kita bertemu masalah besar yang seolah-olah mengancam diri kita. Kita sibuk dengan secuil bagian bumi yang kita kitari sehari-hari, entah itu rumah, kantor, sekolah, jalan raya, dan lain-lain. Jarang sekali kita berpikir soal kecilnya dan singkatnya kita di dunia ini.

Dunia ini sangatlah kecil dan hidup kita sangatlah singkat jika dibandingkan dengan luasnya dan tuanya alam semesta. Seperti yang digambarkan kutipan buku Pale Blue Dot di atas, manusia sehebat apapun tidak ada artinya apa-apa dibanding dengan alam yang kita tinggali ini. Sungguh dunia ini rapuh, begitu pula kita.

Sekitar tiga tahun lalu, aku membaca trilogi novel China Remembrance of Earth’s Past karya Liu Cixin atau yang sering dikenal sebagai Three-Body Problem Trilogy. Fiksi ilmiah ini bercerita soal bumi, manusia, dan riwayat mereka di sepanjang sejarah kosmos. Awal cerita ini adalah tahun 1966 saat Revolusi Kebudayaan di China, dan pada bagian terakhir pembaca disajikan cerita 18 juta tahun di masa depan. Terus terang, begitu tamat jilid terakhir dari trilogi ini aku langsung menangis, bukan karena ceritanya sedih, tapi karena aku merasa begitu tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta ini, yang di sinipun aku hanya akan sekadar mampir jika dibandingkan usia dunia ini yang sudah jutaan tahun. Bahkan, Presiden Barack Obama sampai bilang kalau pengalamannya baca buku ini membuat urusan politik yang dia hadapi sehari-hari serasa begitu remeh.

Satu lagi bacaan yang membuatku berpikir soal betapa kecil dan rapuhnya dunia ini adalah manga Bokurano karya Mohiro Kitoh. Di Bokurano, dunia kita dan semua isinya ini menjadi taruhan dalam permainan memperebutkan eksistensi melawan dunia paralel lainnya. Karakter-karakter di dalamnya bergelut dengan kematian diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Dari buku ini aku memahami bahwa hidup adalah sesuatu yang layak diperjuangkan, meski planet yang kita tinggali ini berisi kejadian-kejadian seram dan orang-orang jahat.

Saatnya hidup ini dihayati sebagaimana mestinya: sebagai perjalanan yang terasa panjang tapi sejatinya amat singkat, sebagai tantangan yang terasa amat besar tapi sejatinya tiada apa-apanya dibandingkan belantara raya yang kita tinggali, dan sebagai kesempatan untuk terus berpikir dan belajar sekuat-kuatnya karena sejatinya sampai kita nanti mati pun hanya sedikit rahasia alam yang bisa kita mengerti.

Leave a Comment

Review: The Translator’s Invisibility: A History of Translation

The Translator's Invisibility: A History of Translation
The Translator’s Invisibility: A History of Translation by Lawrence Venuti

My rating: 3 of 5 stars

I picked the book on the wrong time. This is supposed to be a very theoretical book on translation studies aimed for advocating for the paradigm of foreignization. I, barely understanding scholarly discussion about translation, was frequently lost inside Venuti’s dense prose and near-eternal paragraphs.

Venuti argued that translators have too long underestimated their own role in shaping history by rendering themselves “invisible” in the translation process. He challenged mainstream idea (or so he said) that a good translation is a translation that does not read like a translation. This acceptance about translation leads to a fluent translation: a translation that is readable but conceals differences between the author’s and the translator’s culture. As a result, readers of the translated work think that they are directly interacting with the author while in fact they are accessing the original work through the ideological lenses of the translator. Venuti condemns this phenomenon as a kind of cultural opression where the author’s deeply-held values are discarded and replaced with the target-language culture’s presuppositions. A notable example is when a Roman text telling intimate interactions between two males was interpreted as homosexual activities in English translation during the Victorian era.

His “call for action” emphasizes the need for translators to preserve some kind of “strangeness” in their translators so that readers realize that they are reading something from a different mind. In some cases, calls like this makes sense since there are many translations that act as though as they are the author’s words in another language rather than the near-original work of the translator, such as the famous Fitzgerald’s “translation” of Omar Khayam’s Rubaiyat. However, in other cases Venuti just seemed to be paranoid of threats of cultural opression and how translators seem to be neglected.

I might need to read this book sometime later after having some good grasp of the fundamental issues in translation studies in order to enjoy the full depth’s of Venuti’s argument.

View all my reviews

2 Comments

Mengapa Kita Akan Menikah dengan Orang yang Salah

Menyusul ramainya berita soal dua orang yang sedang dalam proses perceraian, rasanya cocok kalau artikel teratas The New York Times 2016 ini dibaca sekarang. Ini terjemahan bahasa Indonesia dari artikel Why You Will Marry the Wrong Person.

Artikel asli dan sumber gambar: https://mobile.nytimes.com/2016/05/29/opinion/sunday/why-you-will-marry-the-wrong-person.html

Mengapa Kita Akan Menikah dengan Orang yang Salah
Alain de Botton, The New York Times 28 Mei 2016

Ada satu hal yang kita sangat takuti terjadi pada diri kita. Kita berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Namun, kita toh tetap juga akan sampai pada hal yang sama: kita menikah dengan orang yang salah.

Bisa dibilang, ini terjadi karena banyaknya kecamuk masalah yang muncul saat kita berusaha mendekati orang lain. Kita hanya terlihat biasa di depan mata orang yang tidak begitu mengenal kita. Seandainya masyarakat kita lebih sadar diri ketimbang sekarang, mungkin di kencan pertama orang akan lazim bertanya: “Lalu, kegilaan yang kamu punya itu seperti apa?”

Barangkali kita punya kecenderungan tak sadar untuk marah saat seseorang tidak sependapat dengan kita atau hanya bisa tenang saat kita sedang bekerja. Barangkali kita goyah soal kedekatan setelah seks atau merundung ketika merasa dipermalukan. Tidak ada orang yang sempurna. Masalahnya, sebelum menikah, kita jarang menyelami kerumitan-kerumitan yang ada dalam diri kita sendiri. Saat keburukan-keburukan kita terancam terbongkar dalam hubungan yang belum serius, kita menyalahkan pasangan kita dan segera menjauhinya. Teman kita pun tidak cukup peduli untuk memberitahu kita yang mana yang benar. Karena itu, salah satu kelebihan menjadi sendiri adalah bahwa kita bisa menganggap diri kita mampu-mampu saja menjalani hidup sendirian.

Pasangan kita tidak sesadar itu terhadap dirinya sendiri. Tentu saja, kita mencoba-coba untuk memahami mereka. Kita kunjungi keluarga mereka. Kita lihat foto-foto mereka. Kita temui teman-teman mereka waktu kuliah. Semua hal ini memberi kesan seolah-olah kita sudah cukup banyak mencari tahu. Nyatanya, tidak. Pernikahan sejatinya adalah suatu taruhan yang penuh harapan, penuh kasih, dan penuh kerendahan hati yang diambil dua orang yang tidak tahu siapa mereka dan siapa pasangan mereka, guna menambatkan diri mereka ke suatu masa depan yang tidak bisa mereka bayangkan dan berusaha mereka hindari dengan hati-hati.

Sepanjang sejarah, orang menikah karena alasan-alasan rasional: karena petak tanah dia berhimpit dengan petak tanah kita, karena keluarganya punya usaha yang sukses, karena ayahnya seorang pejabat, karena ada kerajaan yang harus dilindungi bersama, atau karena kedua orang tua pasangan punya pemahaman yang sama terhadap suatu kitab suci. Lalu, dari pernikahan yang berdasarkan akal itu, lahirlah kesepian, perselingkuhan, penganiayaan, kerasnya hati, dan teriakan-teriakan yang dapat terdengar dari kamar bayi. Pernikahan berdasar akal, pada akhirnya, sama sekali tidak masuk akal. Sifatnya banyak mengakali, bernalar sempit, penuh kecongkakan, dan sarat pemerasan. Oleh karenanya, pengganti dari konsep ini, yaitu pernikahan berdasarkan rasa, sering kali dianggap tidak perlu dipertimbangkan dengan seksama.

Yang penting dalam pernikahan berdasarkan rasa hanyalah bahwa dua orang tertarik satu sama lain berdasar perasan mereka yang menggebu-gebu dan tahu dari hati mereka bahwa perasaan itu benar adanya. Oleh karenanya, semakin tidak hati-hati kelihatannya sebuah pernikahan (mungkin baru enam bulan mereka bertemu; salah satu dari mereka tidak punya pekerjaan, atau mereka baru beranjak dewasa), rasanya justru hubungan itu lebih aman. Kecerobohan sering kali dianggap sebagai pengimbang dari semua cacat dari sikap mengedepankan akal, yang menimbulkan bencana-bencana yang disebutkan sebelumnya, oleh karena terlalu banyaknya perhitungan. Menangnya rasa dari akal merupakan reaksi trauma dari lintasan sejarah manusia yang dipenuhi dengan permainan akal yang sebetulnya tidak masuk akal.

Namun, meski kita meyakini bahwa kita menikah untuk mencari kebahagiaan, kenyataannya tidak segampang itu. Hal yang sebetulnya kita cari adalah kenyamanan, yang bisa merumitkan tujuan kita untuk mencapai bahagia. Dalam hubungan kita di masa dewasa, kita hanya ingin menciptakan kembali perasaan yang akrab dengan kita saat kanak-kanak. Rasa cinta yang kita alami pada saat masih kecil sering kali tertukar dengan perasaan-perasaan lain yang sifatnya merusak: rasa ingin menolong orang dewasa yang tidak bisa mengendalikan dirinya, rasa kekurangan kasih sayang dari atau takut kepada orang tua, atau rasa tidak nyaman dalam menyampaikan keinginan kita. Tentunya masuk akal kalau kita sebagai orang dewasa menolak calon pasangan bukan karena mereka tidak sempurna tapi justru karena terlalu sempurna- terlalu stabil, terlalu dewasa, terlalu pengertian, terlalu bisa diandalkan– mengingat dalam hati kita, orang yang seperti itu rasanya aneh. Kita menikahi orang yang salah sebab kita tidak mengaitkan rasa dicintai dengan rasa bahagia.

Kita juga membuat kesalahan sebab kita merasa begitu kesepian. Tidak ada seorang pun yang pikirannya jernih untuk memilih pasangan saat kesendirian itu tampaknya sangat tidak tertahankan. Kita harus mampu menerima bahwa kita perlu sendiri selama bertahun-tahun agar bisa betul-betul memilih dengan jernih. Jika tidak begitu, maka kita akan lebih cinta pada tidak lagi sendirinya kita ketimbang pada pasangan yang sudah menyelamatkan kita dari kesendirian itu.

Pada akhirnya, kita menikah untuk mengabadikan perasaan yang menyenangkan. Kita membayangkan bahwa pernikahan akan membantu kita untuk mengemas rasa senang yang kita alami pada saat lamaran. Mungkin terbayang ketika kita berbulan madu di Venesia, menyusuri laguna di atas sebuah kapal motor, dengan kilau sinar matahari senja di ufuk lautan, sembari berbincang-bincang tentang relung-relung jiwa kita yang tak pernah orang pahami sebelumnya, disusul jamuan makan malam yang mewah. Kita menikah agar kesan seperti itu menjadi abadi, namun kita sendiri lupa bahwa tidak ada hubungannya perasaan semacam ini dengan lembaga pernikahan.

Bahkan, pernikahan pada umumnya akan membuat kita mengurus hal-hal yang sifatnya monoton, semisal mengurus rumah, pulang-pergi kantor, dan mengatur anak-anak yang menjengkelkan kita sampai-sampai kita lupa anak-anak itu lahir berkat kehendak kita juga. Yang bisa menemani kita dalam saat-saat begitu hanya pasangan kita. Bahkan, bisa jadi dia adalah teman yang salah.

Di sini, ada kabar baik: tidak masalah kalaupun kita menikahi orang yang salah.

Jangan kita abaikan pasangan kita. Yang harus kita abaikan adalah gagasan tentang Romantisisme yang membentuk pemahaman Barat atas pernikahan selama 250 tahun belakangan: bahwa ada seseorang yang bisa memenuhi semua kebutuhan kita dan memuaskan semua keinginan kita.

Kita perlu menukar Romantisisme dengan suatu kesadaran tentang tragedi (dan juga terkadang komedi) bahwa setiap manusia akan membuat kita marah, jengkel, murka, dan kecewa—dan kita sendiri pun (tanpa maksud buruk) akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Rasa hampa dan kekurangan dalam diri kita tidak akan pernah habis. Namun, semua ini tidak aneh, dan bukan pula alasan yang baik untuk berpisah. Memilih orang yang akan terikat dengan kita sebetulnya hanyalah soal memilih wujud penderitaan mana yang paling mampu kita hadapi dengan pengorbanan.

Pemikiran pesimis ini menunjukkan sebuah jalan keluar atas banyaknya keresahan dan kebimbangan soal pernikahan. Meski kedengaran aneh, sikap pesimis justru mengangkat tekanan batin yang ditimpakan budaya romantis kita terhadap pernikahan. Tidak berhasilnya pasangan kita menyelamatkan kita dari dukacita dan kesedihan bukan pertanda kekurangan dia, dan bukan berarti bahwa ikatan kita akan gagal atau harus diperbaiki.

Orang yang paling cocok bersama kita bukanlah orang yang seleranya sama persis dengan kita (orang itu tidak akan pernah ada). Yang ada adalah orang yang mampu menengahi perbedaan selera secara cerdas—orang yang terampil dalam menyatakan ketidaksetujuan. Orang yang cocok bagi kita bukanlah orang yang bisa “melengkapi”, namun orang yang “tidak terlalu keliru” buat kita, yang bisa menanggapi ketidaksamaan dengan murah hati. Kecocokan adalah pencapaian dari cinta, bukan syarat untuk meraih cinta.

Romantisisme tidak membantu kita, sebab ia adalah pemikiran yang rupanya sangat keras. Gagasan ini membuat kejadian-kejadian yang kita alami dalam pernikahan tampak begitu besar dan memuakkan. Kita akan menjadi kesepian dengan menganggap bahwa ikatan kita, dengan segala ketidaksempurnaannya, sudah tidak lagi “normal.” Kita mesti melatih diri kita untuk menerima “kekeliruan” dalam hidup kita dan selalu berusaha memiliki pandangan yang penuh dengan kemaafan, kejenakaan, dan kerendahan hati dalam menanggapi ketidaksempurnaan pada diri kita dan pasangan kita.

Catatan akhir:

Terjemahan ini dibuat sendiri, dengan menyederhanakan banyak bagian yang kurasa rumit. Teks aslinya, dan gaya menulis pengarangnya, memang cukup ruwet. Seperti biasa, mohon saran kalau ada yang bisa disempurnakan.

Apa yang ditulis di sini nggak harus disetujui, bahkan aku sendiri nggak sepenuhnya setuju. Tapi, menurutku gagasan semacam yang ditulis Alain de Botton ini perlu lebih banyak dibahas untuk menyegarkan pemahaman kita selama ini soal cinta dan pernikahan.

2 Comments

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu

Ini adalah terjemahan saya atas puisi David Herbert Lawrence yang berjudul To Women, As Far as I’m Concerned. Dari judulnya saja sudah kelihatan bagaimana sikap beliau pada perempuan. Ini juga terlepas dari dugaan bahwa D.H. Lawrence punya kecenderungan homoseksual. Pengarang ini semasa hidupnya dianggap tidak bermoral dan karya-karyanya dicap sampah. Hanya ketika ia meninggal di usia dinilah akhirnya berangsur-angsur reputasinya membaik dan sekarang menjadi salah satu pengarang Inggris yang masyhur. Setelah membaca puisi ini, saya dapati kekuatan D.H. Lawrence berbicara soal hal-hal yang halus tapi dengan gaya yang tegas dan no-nonsense. Mungkin suatu saat saya akan baca novel-novel karyanya.

Tapi, lebih baik pembaca simpulkan sendiri. Silakan dinikmati, syukur-syukur mau sekalian mencermati terjemahan saya dan membandingkan dengan aslinya. Selamat membaca!

Sumber gambar dari sini.

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu
D.H. Lawrence (1885-1930)

Rasa yang aku tak punya
memang aku tak punya.
Rasa yang aku tak punya
takkan kubilang aku punya.
Rasa yang kau bilang kau punya
kau tak punya.
Rasa yang kau ingin kita punya
kita berdua tak punya.
Rasa yang harusnya orang punya
mereka tak pernah punya.
Kalau orang bilang mereka punya rasa,
yakinlah mereka juga tak punya.

Jadi, kalau aku atau kau ingin punya rasa,
Baiknya sekalian tak usah bicara soal rasa.

Leave a Comment
In word we trust