Skip to content

Month: February 2022

Titik Biru

Lihatlah lagi titik itu. Itulah tempat kita. Itulah rumah kita. Itulah kita. Di sanalah hidup semua orang yang kita cintai, semua orang yang kita kenal, semua orang yang pernah kita tahu, semua orang yang pernah hidup. Seluruh bahagia dan derita, beribu-ribu agama, ideologi, dan gagasan ekonomi yang dipercaya, semua pemburu dan peramu, semua pahlawan dan pecundang, semua pencipta dan pemusnah peradaban, semua raja dan jelata, semua muda-mudi yang pernah jatuh cinta, semua ibu dan ayah, anak-anak mereka yang penuh cita-cita, penemu dan penjelajah, semua guru kebajikan, semua politikus busuk, semua “bintang terkenal”, semua “pemimpin besar”, semua pendeta dan pendosa sepanjang sejarah spesies kita, mereka semua hidup di sana—hanya setitik debu yang mengambang di tengah sinar matahari.

Bumi adalah panggung yang teramat kecil di tengah-tengah belantara alam raya. Bayangkanlah banjir darah yang ditumpahkan para jenderal dan kaisar dengan segala kegagahan dan keangkuhan hanya supaya mereka bisa jadi penguasa sesaat atas secuil dari titik itu. Bayangkanlah kekejian yang tiada henti dilakukan penduduk secuil titik itu kepada penduduk secuil titik di sudut lainnya, betapa seringnya mereka berselisih paham, betapa seringnya mereka saling membunuh, betapa mendidih kebencian di antara mereka.

Kesombongan kita, rasa congkak kita, khayalan seolah kitalah yang punya posisi penting di alam semesta, semua itu dimentahkan oleh sebintik titik pucat ini. Planet kita hanyalah butiran yang mengambang sendirian di kegelapan kosmos. Dalam kesepian kita, di tengah belantara ini, tidak ada tanda-tanda siapapun dari manapun yang bisa menolong kita dari diri kita sendiri.

Bumi ini adalah satu-satunya tempat yang memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain yang bisa kita huni, setidaknya dalam waktu dekat. Mampir, bisa. Tinggal, belum. Suka tidak suka, saat ini Bumilah titik darah penghabisan kita.

Ada yang mengatakan bahwa astronomi mengajarkan kerendahan hati dan membangun karakter. Rasanya tidak ada lagi bukti betapa bodohnya kesombongan manusia selain gambar yang menunjukkan betapa mungilnya dunia kita ini. Bagi saya, ini menunjukkan betapa kita perlu mawas diri agar berbuat lebih baik kepada sesama, dan agar kita dapat melestarikan dan merawat titik biru pucat ini, satu-satunya rumah yang kita punya.

Dipetik dari “Pale Blue Dot” karya Carl Sagan. Terjemahan sendiri.
Foto Pale Blue Dot yang diambil dari Voyager 1 pada tanggal 14 Februari 1990. Diambil dari Wikimedia Commons.

Sering kita larut dalam kesibukan dan rutinitas hidup sehari-hari dengan segala kegilaannya. Beberapa kali kita merasa dalam kejenuhan yang tak larut-larut. Tak jarang kita bertemu masalah besar yang seolah-olah mengancam diri kita. Kita sibuk dengan secuil bagian bumi yang kita kitari sehari-hari, entah itu rumah, kantor, sekolah, jalan raya, dan lain-lain. Jarang sekali kita berpikir soal kecilnya dan singkatnya kita di dunia ini.

Dunia ini sangatlah kecil dan hidup kita sangatlah singkat jika dibandingkan dengan luasnya dan tuanya alam semesta. Seperti yang digambarkan kutipan buku Pale Blue Dot di atas, manusia sehebat apapun tidak ada artinya apa-apa dibanding dengan alam yang kita tinggali ini. Sungguh dunia ini rapuh, begitu pula kita.

Sekitar tiga tahun lalu, aku membaca trilogi novel China Remembrance of Earth’s Past karya Liu Cixin atau yang sering dikenal sebagai Three-Body Problem Trilogy. Fiksi ilmiah ini bercerita soal bumi, manusia, dan riwayat mereka di sepanjang sejarah kosmos. Awal cerita ini adalah tahun 1966 saat Revolusi Kebudayaan di China, dan pada bagian terakhir pembaca disajikan cerita 18 juta tahun di masa depan. Terus terang, begitu tamat jilid terakhir dari trilogi ini aku langsung menangis, bukan karena ceritanya sedih, tapi karena aku merasa begitu tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta ini, yang di sinipun aku hanya akan sekadar mampir jika dibandingkan usia dunia ini yang sudah jutaan tahun. Bahkan, Presiden Barack Obama sampai bilang kalau pengalamannya baca buku ini membuat urusan politik yang dia hadapi sehari-hari serasa begitu remeh.

Satu lagi bacaan yang membuatku berpikir soal betapa kecil dan rapuhnya dunia ini adalah manga Bokurano karya Mohiro Kitoh. Di Bokurano, dunia kita dan semua isinya ini menjadi taruhan dalam permainan memperebutkan eksistensi melawan dunia paralel lainnya. Karakter-karakter di dalamnya bergelut dengan kematian diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Dari buku ini aku memahami bahwa hidup adalah sesuatu yang layak diperjuangkan, meski planet yang kita tinggali ini berisi kejadian-kejadian seram dan orang-orang jahat.

Saatnya hidup ini dihayati sebagaimana mestinya: sebagai perjalanan yang terasa panjang tapi sejatinya amat singkat, sebagai tantangan yang terasa amat besar tapi sejatinya tiada apa-apanya dibandingkan belantara raya yang kita tinggali, dan sebagai kesempatan untuk terus berpikir dan belajar sekuat-kuatnya karena sejatinya sampai kita nanti mati pun hanya sedikit rahasia alam yang bisa kita mengerti.

Leave a Comment
In word we trust