Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

The Thing about Crushes

Federico_Faruffini_-_Sordello_e_Cunizza
(from Wikimedia Commons)

Crushes happen because we seek perfection, the ultimate person, the savior.

In our desperate attempt to search the remedy of all our wounds, we turn to a potential person and examines maybe their most minute details: hairs, bags, palms, the tone of their voice, their favorite color, even their pens and pencils. We, in our palaces of thought, turn this person into some kind of messiah. We believe in this person so much that we want to depend on him or her and never gonna give them up (pun intended).

Sure you will form some kind of “emotional wet-dream” (I know this is too brash, but it’s also somewhat accurate), where you imagine living a perfect life with him/her. You will think all your problems will be solved if only this one person accepts you as their lover. You won’t need anything or anyone else. You will stop praying as soon as this magical prince or princess is in your possession because all your prayers have been listened to and fulfilled.

Unfortunately, that is where it is a slippery slope. We assume too much to the point that we forget that the crush is also just a mere human being. Like us, they may be mightily annoying, superfluous, or even is a faker and a liar. We just don’t want to admit it and prefer sinking ourselves deeper in our wet dreams. We are just yet to discover that our crushes are capable of believing in stupid things or doing stuff that we think is silly or even outrageous. We just don’t know enough.

That’s when the crush becomes a poison. I think we should all remember that every person is all too human. They are capable of doing good as well as evil. If you think you have found “the one”, be very sure that you know the misdeeds this person is capable of.

This sounds pessimistic, but hey maybe you are not as difficult-going as I am (i.e. more easy-going). Care to share your opinion on this?

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=88q8XDJKZVs&w=560&h=315]

3 Comments

Housekeeper’s Notes #03: Hati dan Organisasi

Organisasi semacam himpunan sejatinya adalah organisasi sukarela, volunteering. Bapak ilmu manajemen, Peter F. Drucker, menyebut para relawan sebagai pekerja yang paling memiliki dedikasi. Peluh yang mereka keluarkan tidak berbahan bakar uang atau kekuasaan, tapi semata-mata tujuan mereka adalah keinginan untuk memajukan organisasi. Ketika para relawan ini lulus dari bangku kuliah, mereka akan menjadi pekerja yang punya daya tahan, motivasi yang lebih baik, dan kemahiran sosial yang lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang tidak berorganisasi.
Setidaknya, begitulah yang semestinya terjadi. Apakah organisasi kita sudah menghasilkan kader-kader pekerja yang punya daya tahan tinggi?
 Tidak juga.
 Pembaca pasti sudah kenal stereotip panitia MOS atau Ospek yang lagaknya sok-sok kaku, bersuara lantang, tapi sebenarnya tebar pesona. Mungkin juga pembaca yang berorganisasi pernah mendapati orang yang dalam rapat tampak menggebu-gebu dan berkarisma tapi sejatinya mencari “mangsa” atau berusaha mengundang tepuk tangan dari teman-temannya. Mau kita akui atau tidak, semua orang tampaknya punya kepentingan pribadi. Apalagi, karena kerja sukarela tidak ada insentifnya, orang-orang dalam organisasi akan berusaha mencari reward-nya dengan cara mereka sendiri. Entah itu dalam bentuk pertemanan, percintaan, sampai akses ke orang-orang dan informasi penting di kampus (yang paling klasik: dosen dan perkuliahan). Ketika reward yang mereka cari itu tidak mereka temukan, maka mereka akan mundur teratur dengan sendirinya dari organisasi kita.
 Satu hal yang saya pahami setelah berorganisasi beberapa lama adalah bahwa kepentingan organisasi pasti akan berbenturan dengan kepentingan diri sendiri. Saya ingin santai-santai menonton serial TV, membaca buku simpanan di hari sabtu dan minggu, atau melakukan kerja sambilan, tapi ada rapat atau kegiatan yang wajib dihadiri. Padahal, di rapat atau kegiatan itu saya tidak betul-betul punya andil selain untuk meramaikan saja. Idealnya sih memang semua orang punya suara dan peran dalam rapat. Tapi, let’s face it, berapa banyak sih orang yang mau berpartisipasi aktif di rapat seperti itu? Oleh karena itu, dalam benak saya, seorang organisator yang ideal adalah mereka yang dengan sukahati mau mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi dan teman-teman mereka di sana.
 Teman-teman dan senior-senior saya waktu SMA punya istilah yang cukup sarkastik untuk organisator semacam ini: orang bodoh. Hanya orang bodoh yang mau diganggu akhir minggunya untuk datang rapat di siang bolong di hari sabtu tanpa diberi imbalan apa-apa. Hanya orang bodoh yang bisa berbulan-bulan bekerja keras untuk suatu acara tanpa diberi ucapan terima kasih dan penghargaan hanya untuk kemudian disuruh lagi membuat laporan pertanggungjawaban. Hanya orang bodoh yang rela memperjuangkan kepentingan teman-temannya yang mungkin tidak peduli hasil kerjanya, bahkan mungkin mencemooh dirinya di belakang.
 Saya tidak setuju menyebut hal-hal tadi sebagai kebodohan dan orang-orang yang melakukannya sebagai orang bodoh. Lebih tepat untuk menyebutnya sebagai pengorbanan. Tapi toh mungkin juga dikatakan, “Pengorbanan dan kebodohan itu bedanya tipis sekali.” Memang betul. Kadangkala orang yang berkorban demi sesamanya akan merasa bodoh, seolah kerja demi orang lain itu hanya membuang-buang waktunya saja. Sebaliknya, orang yang benar-benar bodoh akan merasa berkorban walaupun sebenarnya pengorbanannya itu tak seberapa.
 Kerja organisasi memang lebih banyak tidak bisa dinalarnya. Mengurus organisasi non-profit bukan cuma berkutat pada mengatur-atur masalah teknis, malah ada masalah yang lebih penting, yaitu hati. Seperti yang kita tahu, bicara soal hati memang jatuhnya akan ribet dan tidak karuan. Kent M. Keith, dalam buku kecilnya yang ditujukan pada aktivis mahasiswa di Amerika Serikat pada tahun 60-70an, menuliskan suatu manifesto yang ia beri judul “Perintah-Perintah yang Tak Masuk Akal.” Bunyinya sebagai berikut:
 
Orang lain itu tak logis, tak bisa diajak berpikir, dan mementingkan dirinya sendiri.
Tetaplah mencintai mereka.
Jika kamu berbuat baik, orang akan menuduhmu punya maksud tersembunyi.
Tetaplah berbuat baik. 
Jika kamu beroleh keberhasilan, maka kamu akan mendapat kawan palsu dan musuh sejati.
Tetaplah meraih keberhasilan. 
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini akan dilupakan esok hari.
Tetaplah berbuat baik. 
Berkata jujur dan berterus terang akan membuatmu rentan.
Tetaplah jujur dan terus terang. 
Manusia berhati besar dengan pemikiran terbesar bisa dijatuhkan manusia berhati kecil dengan pemikiran terkecil.
Tetaplah berpikir besar. 
Orang kasihan pada yang tertindas tapi hanya mau turut yang berkuasa di atas.
Tetaplah membela yang tertindas. 
Yang kamu bangun selama bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam.
Tetaplah membangun. 
Orang lain sungguh perlu kamu tolong, tapi jika ditolong mereka bisa menikammu.
Tetaplah menolong orang lain. 
Berikan yang terbaik bagi dunia dan mukamu akan diinjak-injak.
Tetaplah memberi yang terbaik bagi dunia.
Sepintas, memang kata-kata di atas tampak menjadi sesuatu yang ideal dan perlu kita tiru. Tapi, saya pun pada akhirnya juga ragu. Apakah ada orang yang bisa mengamalkan kata-kata di atas huruf demi huruf? Bukannya orang yang bisa melakukan hal seperti di atas itu namanya sudah bukan lagi manusia melainkan malaikat? Bahkan, saya pun tak yakin penulisnya juga sanggup berbuat seperti yang ditulisnya (terbukti sampai saat ini kita-kita juga masih asing dengan nama Kent M. Keith.)
Sebenarnya, sejauh apakah kita harus menyumbangkan hidup kita demi kepentingan sesama? Apa seorang relawan-organisator harus terus-terusam membarter urusan pribadinya untuk organisasi? Bagaimana kita bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan orang lain tanpa harus banyak saling menyakiti untuk mempelajarinya?
Sampai tulisan ini saya teruskan, biarlah pembaca dulu yang menyusun jawabannya.
Leave a Comment

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu

Ini adalah terjemahan saya atas puisi David Herbert Lawrence yang berjudul To Women, As Far as I’m Concerned. Dari judulnya saja sudah kelihatan bagaimana sikap beliau pada perempuan. Ini juga terlepas dari dugaan bahwa D.H. Lawrence punya kecenderungan homoseksual. Pengarang ini semasa hidupnya dianggap tidak bermoral dan karya-karyanya dicap sampah. Hanya ketika ia meninggal di usia dinilah akhirnya berangsur-angsur reputasinya membaik dan sekarang menjadi salah satu pengarang Inggris yang masyhur. Setelah membaca puisi ini, saya dapati kekuatan D.H. Lawrence berbicara soal hal-hal yang halus tapi dengan gaya yang tegas dan no-nonsense. Mungkin suatu saat saya akan baca novel-novel karyanya.

Tapi, lebih baik pembaca simpulkan sendiri. Silakan dinikmati, syukur-syukur mau sekalian mencermati terjemahan saya dan membandingkan dengan aslinya. Selamat membaca!

Sumber gambar dari sini.

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu
D.H. Lawrence (1885-1930)

Rasa yang aku tak punya
memang aku tak punya.
Rasa yang aku tak punya
takkan kubilang aku punya.
Rasa yang kau bilang kau punya
kau tak punya.
Rasa yang kau ingin kita punya
kita berdua tak punya.
Rasa yang harusnya orang punya
mereka tak pernah punya.
Kalau orang bilang mereka punya rasa,
yakinlah mereka juga tak punya.

Jadi, kalau aku atau kau ingin punya rasa,
Baiknya sekalian tak usah bicara soal rasa.

Leave a Comment

Sajak-sajak tanpa nama

Catatan dikit:
Ini hasil mengumpulkan catatan-catatan dari zaman jahiliah. Memang kalau dirasa-rasa sekarang jadi terlalu sentimental. Ditanya maksudnya apa, saya pun sudah agak lupa. Tapi, timbang saya, daripada jadi himpunan kata-kata mubazir mending dihibahkan saja untuk memelihara blog yang sudah hidup-segan-mati-tak-mau ini.

/1/

dalam hitam kelam
wajahmu semakin muram
barangkali tak kuasa menahan
guncang yang masih senyap
lalu pucat pasi
dan hilang disambut
rayuan malam

/2/

saat langit-langit terbujur kaku
dan lantai kasur tak menjawab padaku
pudarlah semua kata
walau belum terucap
nah, masihkah aku mengharap
rinduku akan menginap di sisimu?

/3/

makin lama terhimpit
kalau perlu hentakkan kaki
mencari arti dan apa lagi
tapi aneh: semua tenang saja
tiada hingar bingar
tidak perlu siapa-siapa

/4/

entah sehari, entah dua hari
mungkin berminggu-minggu lagi
semua harapmu tak kunjung kemari
lalu pupus dan sekalian pergi

/5/

meski rupamu yang ingin kurengkuh
hanya bayangmu yang mampu kudekap
kerlapan sinar matamu yang membias
ruang hati kecil di sisi kalbuku
walau kelak manis ini tak abadi
setidaknya telah kaukenalkan aku
pada laku-lampahnya dunia
dan kau ledakkan lidahku
yang biasa dengan tawarnya
keseharian

/6/

ka u sel alu me mint aku m enge ja s et iap
k ata mesk i k au tah u a ku bi sa
me ngiri ngim u t anp a
ta nd a bac a

/7/

kelak desir waktu yang bakal bertiup
membawa kapal ke negeri tak dikenal
kelak gemerlap bintang yang akan bersinar
menuntun hati melintas lautan
sedih dan menyesal, tak usahkan
cukuplah bekal doa dan kenangan
dan di bibir dermaga
biar kita bertemu kembali

Leave a Comment
In word we trust