Skip to content

Month: April 2016

Gadis Dandelion – 4

Catatan dikit:

  1. Cerita ini adalah terjemahan serampangan saya dari The Dandelion Girl karangan Robert F. Young. Aslinya ini bukan cerita bersambung, tapi untuk mengurangi prokrastinasi saya memecahnya jadi enam bagian. Selain itu, cerita ini diterjemahkan bersambung biar yang baca penasaran supaya saya juga terpacu untuk menyelesaikan.
  2. Seperti yang sudah dibilang tadi, ini terjemahan serampangan. Akan banyak perbedaan diksi dan gaya bahasa antara terjemahan ini dengan cerita aslinya. Maklum masih amatiran. Jadi, tolong kasih saran dan kritik, ya. 😉
  3. Bagian-bagian lain dari terjemahan ini:
    Bagian 1

    Bagian 2
    Bagian 3
    Bagian 4
    Bagian 5-6

Keesokan harinya ia melaju ke dusun dan bertanya ke kantor pos apakah ada surat untuknya. Nihil. Itu hal biasa untuknya. Jeff sama-sama tidak suka menulis surat seperti dirinya, sementara Anne saat ini mungkin tidak bisa dihubungi. Adapun untuk praktik kerjanya sendiri, ia telah melarang sekretarisnya untuk mengganggunya dengan surat-surat kecuali untuk urusan yang benar-benar genting.

Dia berdebat dalam hati apakah harus bertanya kepada sang kepala kantor pos yang sudah sepuh tentang keberadaan sebuah keluarga yang bernama Danvers di sekitar situ. Ia putuskan untuk tidak bertanya. Dengan bertanya, Mark akan mengkhianati seluruh rangkaian cerita meyakinkan yang sudah dituturkan oleh Julie. Meski dia tidak yakin dengan semua cerita itu, ia tidak tega membiarkan bangunan kepercayaan itu runtuh di depan matanya.

Sore itu, Julie mengenakan gaun kuning warna yang sama seperti rambutnya. Lagi-lagi tenggorokan Mark menegang ketika ia melihatnya. Lagi-lagi dia tidak kuasa untuk bicara. Namun ketika saat-saat pertama berlalu dan kata-kata telah terujar, semua jadi baik-baik saja, dan pikiran mereka berdua mengalir bersama seperti dua sungai kecil yang gemericik dan mengalir dengan riang menuju tepian sore hari. Kali ini, ketika mereka berpisah, Julielah yang bertanya, “Apa besok Anda ke sini?” – meskipun itu hanya karena dia mencuri pertanyaan dari bibir Mark-dan kata-kata itu bernyanyi di telinganya sepanjang perjalanan kembali lewat hutan menuju kabin, melenakannya hingga tertidur selepas malam yang dihabiskan dengan mengisap pipa rokok di pelataran.

Sore harinya ketika dia mendaki, bukit itu tampak kosong. Pada awalnya kekecewaannya membuat dia mati rasa, namun ia menggumam, Dia cuma terlambat. Dia akan muncul sebentar lagi. Mark lalu duduk di bangku granit sambil menunggu. Tapi Julie tidak juga datang. Menit demi menit, jam demi jam berlalu. Bayang-bayang gelap merayap dari hutan dan mendaki ke atas bukit. Udara semakin dingin. Dia menyerah, akhirnya, dan dengan lesu berjalan kembali ke kabin.

Sore hari berikutnya dia tidak muncul juga. Juga sore yang berikutnya. Mark tidak bisa makan atau pun tidur. Memancing sudah tak lagi membuatnya bersemangat. Ia tidak lagi bisa membaca. Selagi itu semua terjadi, ia membenci dirinya sendiri, membenci sikapnya yang seperti bocah kasmaran, yang bersikap seperti seorang bodoh di usia empat puluhan hanya karena seraut muka yang cantik dan sepasang kaki yang indah. Sampai beberapa hari silam, dia bahkan tak pernah betul-betul memerhatikan perempuan lain, dan sekarang dalam waktu kurang dari seminggu dia tidak hanya memerhatikan namun sudah jatuh hati dengan Julie.

Harapan telah pudar dalam hatinya ketika ia mendaki bukit di hari keempat–lalu tiba-tiba hidup lagi ketika ia melihat Julie berdiri menghadap matahari. Dia mengenakan gaun hitam kali ini. Mark harusnya bisa menebak alasan menghilangnya dia, tapi Mark tak sadar sampai ia datang padanya dan melihat airmata mulai menetes dari matanya dan getaran bibirnya yang menyingkapkan suatu tanda. “Julie, ada apa?”

Dia menempel padanya dengan bahunya yang gemetar, dan menempelkan wajahnya ke mantelnya. “Ayah saya meninggal,” katanya, dan entah bagaimana, ia tahu bahwa ini adalah air mata pertamanya, bahwa ia telah duduk menahan air mata selama perkabungan dan pemakaman, dan bahwa tangisan itu berhasil ia bendung hingga barusan.

Mark memeluknya dengan lembut. Dia tidak pernah menciumnya, dan dia tidak akan menciumnya sekarang, tidak juga. Bibir Mark menyeka dahinya dan sekilas menyentuh rambutnya– itu saja. “Maaf, Julie,” katanya. “Aku tahu betapa berartinya dia untukmu.”

“Dia selalu tahu dia sudah akan dijemput,” katanya. “Dia pasti tahu itu sejak eksperimen stronsium 90 yang dia lakukan di laboratorium. Tapi dia tak pernah bilang siapa-siapa– bahkan aku … Aku tak ingin hidup. Kalau tak ada dia, hidup ini sudah tidak ada artinya lagi– tidak, tidak, tidak!”

Mark mendekapnya erat-erat. “Kamu akan menemukan sesuatu, Julie. Seseorang. Kamu masih muda. Kamu masih anak-anak, sungguh. ”

Kepalanya tersentak kembali, dan tanpa linangan di matanya ia menatap Mark. “Aku bukan anak kecil! Jangan sekali-kali panggil aku anak kecil!”

Terhenyak, Mark melepaskannya dan melangkah mundur. Mark belum pernah melihatnya marah sebelumnya. “Bukan maksudku–” ia mengawali.

Kemarahan Julie begitu cepat berlalu karena munculnya tiba-tiba “Saya tahu Pak Randolph tidak bermaksud menyakiti perasaan saya. Tapi saya bukan anak-anak, sungguh bukan. Berjanjilah Anda tidak akan memanggil saya begitu lagi. ”

“Baiklah,” kata Mark. “Aku janji.”

“Dan sekarang saya harus pergi,” katanya. “Saya punya seribu satu hal yang harus dikerjakan.”

“Apa– apa kamu besok ke sini lagi?”

Dia menatap Mark lama sekali. Sejenis kabut, seperti yang biasa terlihat ketika hujan di musim panas, membuat matanya yang biru berbinar. “Mesin waktu bisa rusak,” katanya. “Ada bagian-bagian yang perlu diganti–dan saya tidak tahu cara menggantinya.” Mesin waktu kami– mesin waktuku bisa saja dipakai untuk jalan sekali lagi, tapi saya tidak yakin.”

“Tapi kamu akan berusaha datang lagi, kan?”

Dia mengangguk. “Ya, akan saya coba. Dan Pak Randolph? ”

“Ya, Julie?”

“Hanya jaga-jaga saja kalau saya tak bisa kembali–dan supaya tahu saja–saya mencintaimu.”

Leave a Comment

Review: Jepang: Dulu dan Sekarang

Jepang: Dulu dan Sekarang
Jepang: Dulu dan Sekarang by Taro Sakamoto

My rating: 2 of 5 stars

Pengantar singkat tentang sejarah Jepang mulai Kerajaan Yamato hingga akhir Perang Dunia II. Isinya sendiri cenderung kaku, informasinya diulang-ulang tapi banyak istilah yang sebelumnya tidak dijelaskan. Terlebih, nada buku ini sangat Jepang-sentris karena pengarangnya sendiri orang Jepang. Tapi, pengantar kritis dari Mochtar Lubis bisa dijadikan pegangan agar tidak terlalu terbawa dalam narasi buku ini. Menurut saya, pengantar itu malah lebih penting daripada isi bukunya sendiri.

View all my reviews

Leave a Comment
In word we trust