Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Empat Tahun ke Belakang

Lanjutan dari Edisi Tiga Tahun.

[2008]

Jika kamu bisa menjaga hati, ketika semua yang kamu punya menghilang dan semua orang menyalahkanmu;

jika kamu bisa percaya terhadap dirimu sendiri di saat semua orang meragukanmu dan memberi kelonggaran pada keraguan mereka;

jika kamu dapat bermimpi tanpa membuatnya jadi raja;

jika kamu bertemu dengan kemenangan dan bencana dan memperlakukan mereka dengan sama;

maka untukmu adalah dunia dan semua yang ada di dalamnya,

dan selebihnya kamu akan menjadi seorang manusia.

Dikopas dari blog seorang alumni yang belum pernah saya temui  (?). Mohon izin ya, Mas. :mrgreen:

Leave a Comment

Akibat Jam Kosong

Kakilangit Sastra Pelajar
Kakilangit Sastra Pelajar

Kemarin lusa, aku menemukan buku Kakilangit Sastra Pelajar di perpustakaan. Di tengah stereotip bahwa sastra dan membaca bukan kebiasaan remaja Indonesia, buku ini sedikit membuatku lega. Ternyata tidak semua remaja Indonesia hanya bisa merangkai kata-kata gombal murahan dan/atau menulis fan fiction anime atau artis Korea.

Puisi-puisi yang ditulis tidak kalah menariknya (setidaknya untukku) dengan karya-karya pujangga yang lebih senior seperti Sapardi, Sutardji, atau Alois. Tema-tema yang diangkat sangat luas, mulai dari Simfoni Mahler no. 9 sampai penyalahgunaan narkoba. Gaya menulisnya juga sangat tereksplorasi, jauh dari gaya bahasa status-status  ababil di Facebook atau twit di Twitter yang begitu-begitu saja.

Tapi ternyata tidak sampai di situ, anak-anak Horison ini ini ternyata lebih mengerikan dari yang kuduga. Di bagian esai, ada tulisan yang memuat pembahasan filsafat kontinental yang jelas membuatku bingung. Bahkan Ir. Melani Budianta di bagian epilognya juga menyatakan kekaguman beliau atas karya-karya yang dimuat.

Kesimpulannya, faith in teenagers: restored.

______



Gambar diambil dari hasil penelusuran Google, sumber dari sini (sudah tidak valid).

3 Comments

[20:25-28]

Said [Moses]: “O my Sustainer! Open up my heart [to Thy light],

and make my task easy for me,

and loosen the knot from my tongue

so that they might fully understand my speech.”

Translation by Muhammad Asad.

Leave a Comment

Penyair yang Tertukar

Sapardi Djoko Damono

Kebetulan lagi niat browsing sastrawan Indonesia akhir-akhir ini. Dan salah satu sastrawan yang kuperhatikan adalah Sapardi Djoko Damono, terutama puisi beliau yang berjudul Aku Ingin. Kayaknya puisi ini sudah terkenal dan sering dipakai jadi bahan gombalan publik sehingga posisinya jadi mirip-mirip pantun yang tidak jelas siapa pengarangnya.

Jadi waktu aku nyari teks puisi ini di sini, aku nemu sesuatu yang mengharukan menyedihkan, sekaligus nggapleki.

Pertama-tama, ini puisinya:

Aku Ingin

(Sapardi Djoko Damono)

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sekarang, mari kita baca komentar-komentarnya:

kayanya
itu puisi kahlil gibran…

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)

Kahlil Gibran lahir di Beshari, Lebanon 6 Januari 1883. Lalu Pak Sapardi kapan lahirnya.. ? Puisi Aku Inginnya Pak Sapardi Itu bukan mirip lagi, tetapi persis sama dengan karya Kahlil Gibran..? Pak Sapardi spt Malon aja suka klaim karya orang.., jangan2 puisinya yg lain begitu juga.. walahualam.

Cetak tebal dari yang nulis postingan ini.

Reaksi spontan:

_________
Gambar Pak Sapardi diambil dari media.isnet.org.
Gambar Profesor Farnsworth diambil dari knowyourmeme.com.

3 Comments

Titik-Titik

titik-titik itu diam yang menunggu makna

datang menggantikan mereka

tapi ia tak pernah datang

titik-titik melaju, bertambah, baris demi baris

kini kata-kataku tak lagi punya arti

apa … yang …minta?

Leave a Comment
In word we trust