Skip to content

“…L’enfer, c’est les autres.”

GARCIN : ….neraka adalah orang lain.

[Jean-Paul Sartre dalam Pintu Tertutup, terjemahan Asrul Sani]

Tunggu dulu. Bukan berarti aku bilang kalau semua orang harus dijauhi.

Kita tak hidup sendirian di dunia ini. Meski kita memegang kendali atas diri kita, tapi kita akan selalu dibayangi oleh tatapan orang lain. Tatapan orang lain atas diri kitalah yang membatasi kebebasan kita untuk bertindak.

GARCIN : Biarkan aku. Dia ada di antara kita. Aku tidak dapat mencintai kau kalau dia melihat.

Kita hidup untuk diri kita sendiri [1], dan orang lain adalah objek bagi kesadaran kita. Tapi kita mesti ingat kalau orang lain juga hidup dan memandang diri kita sebagai objek bagi kesadaran mereka [2]. Semua yang kita lakukan akan kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita sedang diperhatikan oleh orang lain.

Agar bisa diterima, kita harus mencocokkan diri kita dengan apa yang diinginkan orang lain. Hilanglah satu per satu kebebasan kita. Beberapa orang malah pasrah sepenuhnya pada tatapan orang lain dan kehilangan dirinya sendiri.

Beberapa orang yang lain sadar bahwa mereka tidak boleh terpengaruh siapapun. Mereka akhirnya malah menyakiti orang lain, dengan dasar bahwa orang lain menginjak-injak kebebasan mereka.

Meski begitu, sudah kukatakan bahwa semua ini bukan alasan untuk menjauhi orang lain.

Sekarang pikirkanlah bagaimana jika kita hidup tanpa orang lain. Kita dapat ada karena orang lain mengenali bahwa kita ada. Bila orang lain tidak ada, maka tidak ada yang akan mengenali keberadaan kita. Ada atau tidaknya kita tidak akan bermakna apa-apa.

Mencocokkan diri kita dengan pandangan orang lain tidak berarti harus menghapus persepsi diri kita sendiri. Kita dapat membaur dengan orang lain dengan apa adanya diri kita. Biarlah orang lain berkata, tapi kita sendiri yang memutuskan.

Dan yang terpenting, menganiaya orang lain tidak termasuk dari kebebasan kita. Jika kita menganiaya orang lain, sama saja kita tidak bertanggung jawab pada kebebasan kita.

_________________

[1] Pada dasarnya, kesadaran yang dimiliki manusia adalah tanda bahwa dia ada. Kesadaran ini menegaskan dan menopang identitasnya sebagai subjek. Oleh Jean-Paul Sartre, ini disebut dengan l’etre pour soi (ada untuk dirinya).
[2] Sebagai lawan dari l’etre pour soi, Sartre menyebut l’etre en soi (ada dalam dirinya). L’etre en soi berarti manusia hidup sebagai dirinya sendiri, sebagai objek bagi kesadaran yang lain.

Published inChattersThoughts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

In word we trust