Skip to content

Category: Chatters

1333

Jadi beberapa saat yang lalu aku sedang mencari-cari bahan untuk “tugas” dari Fitria (nggak punya blog tah, nak? -w-). Setelah beberapa saat menskrol dan mengubek-ubek isi buku, aku mulai mentok. Saat itulah aku menemukan kutipan pepatah ini.

THE BEST THINGS IN LIFE ARE FREE. YOU ALWAYS HURT THE ONE YOU LOVE. TIME AND TIDE WAIT FOR NO MAN!

*brb tambah mentok*

3 Comments

Menulis dan Keberanian

Lagi-lagi aku harus curhat tentang masalah menulis.

Jadi ini sudah dua bulan di tahun 2014 dan aku belum menghasilkan sepotong tulisan pun. Dua tulisan yang di-publish sebelumnya itu berasal dari blog privat, jadi, yah begitulah. Kemudian aku melihat sebuah tulisan di internet yang cukup bagus dari blogger lain. Isinya sama, yaitu keluhan tentang masalah menulis. Blogger termaksud berujar bahwa ada tiga fungsi menulis. Pertama, untuk mengendapkan pengetahuan. Kedua, sebagai suatu memento atas pengalaman kita. Ketiga, sebagai sarana untuk menyempurnakan sarana berpikir kita. Cukup masuk akal. Aku jarang menulis dan aku sangat pelupa.

Tidak salah jika orang bilang menulis itu susah. Dalam menulis, kita dituntut untuk mengekspresikan kehendak, pikiran, atau pengalaman ke dalam bentuk yang dapat dimengerti orang lain. Sama seperti berbicara? Tidak. Kita berbicara umumnya dengan seseorang atau sekelompok orang yang kita tahu persis, misalnya orang tua atau teman. Ketika kita menulis, kita tidak tahu siapa nantinya yang akan membaca tulisan kita. Meski yang ditulis itu hanya surat untuk teman atau memo untuk sekretaris pribadi, misalnya, tetap saja ada kemungkinan tukang pos atau office boy juga turut membaca. Jika kita kesulitan untuk mengekspresikan sesuatu sehingga bisa dipahami semua orang, maka menulis akan jadi sangat sulit.

Itu baru salah satu contoh kesulitan dalam menulis. Dalam masalahku sendiri, aku menyadari bahwa sebenarnya masalah terbesarku dalam menulis bukanlah soal teknik menulis, pemahaman bahasa, atau tetek bengek lainnya. Persoalannya terletak pada keberanian untuk menulis. Ya, menulis utamanya memang perlu keberanian. Itulah sebabnya hampir semua penulis menyarankan agar orang belajar dengan langsung menulis, tanpa terlalu khawatir dulu dengan pengetahuan-pengetahuan teknis soal menulis. Banyak orang yang punya kemampuan menulis yang baik tapi tidak cukup berani untuk menulis. Tapi memangnya apa sih yang harus ditakutkan dari sekadar menulis?

Jacques Derrida, seorang tokoh filsafat terkemuka yang mencetuskan istilah dekonstruksi, pernah mengaku bahwa ia kerap dilanda mimpi buruk gara-gara tulisan yang ia karang. Dalam mimpi-mimpinya itu ia kerap terbayang, “Betapa bodohnya dirimu menulis seperti ini, menyerang gagasan itu, dan menentang si fulan dan fulanah!” Pada saat menulis, Derrida tidak merasakan ketakutan apa-apa selain kebutuhan untuk menuangkan gagasannya. Tapi sesudah itu, ia diserang perasaan takut. Aku paham betul perasaan seperti itu, dan lama-kelamaan akhirnya aku malah merasa takut untuk menulis karena terbayang perasaan yang akan kualami selepas menulis.

Sekali lagi, menulis butuh keberanian. Bisa kita katakan bahwa menulis adalah suatu bentuk perlawanan atas rasa takut. Keberhasilan kita dalam menulis, entah benar atau salah, juga dapat dinilai sebagai suatu kemenangan atas rasa takut kita. Sedikitnya ada tiga hal yang mesti kita lawan saat menulis.

Pertama, rasa takut terhadap apa yang kita tulis. Kasus Prita Mulyasari yang santer tahun 2009 silam menunjukkan pentingnya hal ini. Aku yakin, dalam benak Prita saat menulis bukannya tak pernah terbesit perasaan gentar untuk mengkritik apa yang dia rasa tidak adil. Tapi ia tetap maju. Tulisannya tersebar luas dan ia harus menghadapi serentetan konsekuensi atas keberaniannya menulis dari mulai diancam, digugat, hingga dipenjarakan. Toh pada akhirnya semua orang tahu dan mengerti apa yang salah dari penegakan hukum di negeri ini.

Kedua, rasa takut terhadap orang yang membaca tulisan kita. Kita sudah mengerti bahwa pada dasarnya semua orang akan membaca apa yang kita tulis. Tentunya tidak semua orang akan mengerti dan sepakat dengan apa yang kita tulis. Sebanyak apapun disclaimer atau referensi yang kita bubuhkan dalam tulisan, pada akhirnya kita akan harus bertanggung jawab atas apa yang kita tulis. Contohnya bisa kita amati di kasus yang populer belakangan: Anggito Abimanyu harus mundur dari jabatan akademiknya gara-gara ia lupa menambahkan referensi pada tulisannya.

Ketiga, rasa takut terhadap diri sendiri. Sebenarnya inilah rintangan utama yang harus diatasi saat menulis. Lawan utama dari menulis sebenarnya tidak lain adalah diri kita sendiri. Mungkin tidak semua orang merasakan rasa takut itu, karena rintangan menulis dari diri sendiri itu bentuknya macam-macam. Ada yang mungkin merasakan keengganan, kemalasan, atau semata-mata berpikir bahwa dirinya tidak mampu menulis. Tapi pada hakikatnya semua itu bermula dari rasa takut: takut kehabisan waktu, takut tidak bisa menarasikan sesuatu dengan baik, takut untuk mencari informasi yang benar, dan lain-lain.

Aku teringat sebuah saran dari seorang profesor University of Birmingham yang meski di luar konteks tapi tetap relevan: “feel the fear, then do it anyway.”

Leave a Comment

Permintaan

Peringatan: banyak negasi, hati-hati bacanya.

Menurut psikoanalis Jacques Lacan, cinta adalah permintaan. Apa maksudnya?

Pikirkan seorang anak yang terbiasa dimanjakan. Dia meminta biskuit pada ibunya. Setelah diberi, dia akan minta pisang. Setelah diberi lagi, dia akan minta dibelikan mainan. Dia akan terus-menerus meminta sampai ibunya tidak lagi mau atau mampu memberikannya apa-apa lagi.

Yang sebenarnya diminta anak itu bukan biskuit, pisang, atau mainan. Tapi ada hal lain yang  dia inginkan. Inilah yang dimaksud Lacan dengan permintaan: mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin bisa diberikan. Apa itu?

Menurut Lacan, objek yang tidak mungkin bisa diberikan ini tidak akan pernah ada. Ya, pada akhirnya orang yang meminta tidak akan mendapat apa-apa karena apa yang dia minta juga sebenarnya tidak ada. Permintaan hanyalah keadaan mengharapkan sesuatu yang tak akan bisa diberikan.

Lalu dikatakan: cinta itu permintaan. Karena permintaan itu sesuatu yang barangnya ‘tidak ada’, apa berarti cinta itu juga sebenarnya ‘tidak ada’? Bukan cinta yang tidak ada, yang tidak ada adalah objeknya, tujuannya.

Dua orang yang saling mencintai berarti dalam keadaan saling meminta. Ketika mereka sudah tidak saling cinta, artinya mereka sudah sadar bahwa apa yang mereka minta itu sebenarnya tidak ada.

Mencintai berarti berusaha memberikan apa yang tidak kumiliki pada yang memintanya dan  meminta pada orang yang kucintai apa yang tidak mereka miliki.

Leave a Comment

“…L’enfer, c’est les autres.”

GARCIN : ….neraka adalah orang lain.

[Jean-Paul Sartre dalam Pintu Tertutup, terjemahan Asrul Sani]

Tunggu dulu. Bukan berarti aku bilang kalau semua orang harus dijauhi.

Kita tak hidup sendirian di dunia ini. Meski kita memegang kendali atas diri kita, tapi kita akan selalu dibayangi oleh tatapan orang lain. Tatapan orang lain atas diri kitalah yang membatasi kebebasan kita untuk bertindak.

GARCIN : Biarkan aku. Dia ada di antara kita. Aku tidak dapat mencintai kau kalau dia melihat.

Kita hidup untuk diri kita sendiri [1], dan orang lain adalah objek bagi kesadaran kita. Tapi kita mesti ingat kalau orang lain juga hidup dan memandang diri kita sebagai objek bagi kesadaran mereka [2]. Semua yang kita lakukan akan kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita sedang diperhatikan oleh orang lain.

Agar bisa diterima, kita harus mencocokkan diri kita dengan apa yang diinginkan orang lain. Hilanglah satu per satu kebebasan kita. Beberapa orang malah pasrah sepenuhnya pada tatapan orang lain dan kehilangan dirinya sendiri.

Beberapa orang yang lain sadar bahwa mereka tidak boleh terpengaruh siapapun. Mereka akhirnya malah menyakiti orang lain, dengan dasar bahwa orang lain menginjak-injak kebebasan mereka.

Meski begitu, sudah kukatakan bahwa semua ini bukan alasan untuk menjauhi orang lain.

Sekarang pikirkanlah bagaimana jika kita hidup tanpa orang lain. Kita dapat ada karena orang lain mengenali bahwa kita ada. Bila orang lain tidak ada, maka tidak ada yang akan mengenali keberadaan kita. Ada atau tidaknya kita tidak akan bermakna apa-apa.

Mencocokkan diri kita dengan pandangan orang lain tidak berarti harus menghapus persepsi diri kita sendiri. Kita dapat membaur dengan orang lain dengan apa adanya diri kita. Biarlah orang lain berkata, tapi kita sendiri yang memutuskan.

Dan yang terpenting, menganiaya orang lain tidak termasuk dari kebebasan kita. Jika kita menganiaya orang lain, sama saja kita tidak bertanggung jawab pada kebebasan kita.

_________________

[1] Pada dasarnya, kesadaran yang dimiliki manusia adalah tanda bahwa dia ada. Kesadaran ini menegaskan dan menopang identitasnya sebagai subjek. Oleh Jean-Paul Sartre, ini disebut dengan l’etre pour soi (ada untuk dirinya).
[2] Sebagai lawan dari l’etre pour soi, Sartre menyebut l’etre en soi (ada dalam dirinya). L’etre en soi berarti manusia hidup sebagai dirinya sendiri, sebagai objek bagi kesadaran yang lain.

Leave a Comment

1028

Another batch of nostalgic bouts. Do you remember this song?

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=sje7LYCyFVs]

IIRC, that anime was aired in around 2004-2005 at the same time slot as Shaman King. That was when anime still became the primary kids’ watch. I’m not going into the back-then-and-now polemic. It’s true, however, that lesser and lesser anime are being aired nowadays. And most of which are just among the countless re-runs of the old, long, re-running series like Dragon Ball or Doraemon (in fact, it’s been airing even before I was put into conception).

At least, they should give kids more to watch than just crappy news and sinetron.

I think the end of anime in Indonesian television came in 2008 with Kekkaishi. That was the last time there was a good recent anime with good translation quality aired. Afterwards, I haven’t seen any good new anime to be aired on public local TV stations. “Fortunately we were kids back then,” one of my friends said. Well, it’s true.

Leave a Comment
In word we trust