Skip to content

Category: Life updates

5 Kesalahan dalam Mendaftar di Seleksi CPNS

Kenapa tiba-tiba nulis dengan topik ini? Jujur, yang pertama, alasannya adalah karena seleksi CPNS ini topik yang diminati banyak orang, apalagi di musim-musim susah seperti ini. Terlepas apapun omongan-omongan orang tentang pegawai negeri, aparat pemerintah, umbi-umbian, apapun itu istilahnya, memang seleksi CPNS ini selalu jadi rebutan orang. Bahkan ada selorohan tentang orang-orang yang biasanya nyinyir sama kerjaannya PNS, tapi kalau musim seleksi CPNS juga ikut daftar.

Ramainya orang mendaftar ini juga didorong karena anggapan-anggapan bahwa Pegawai Negeri Sipil itu status yang “unik.” Keunikannya ya bisa dibilang dari hal yang buruk kayak stereotip main Zuma di kantor, pelayanan yang payah, pejabat yang nggak kompeten, dan lain-lain. Ada juga anggapan unik yang mencakup ekonomi kayak gaji stabil, ada uang pensiun, dan sebagainya. Bahkan, ada juga yang berpersepsi PNS itu menempati status tersendiri sebagai kelompok kasta kesatria, atau kalau kata orang Jawa priyayi. Tidak jarang orang menganggap kerja PNS sebagai suatu pengabdian kepada negara. Intinya, status PNS itu seolah dianggap sebagai pekerjaan yang berbeda dari mereka yang bekerja di sawah, di warung, di bank, di perusahaan startup, di agensi-agensi kreatif, dan sebagainya.

Saya sih nggak setuju dengan semua stereotip di atas. Di negara-negara maju, mungkin banyak yang menganggap pegawai pemerintah itu punya kelebihan karena masa kerjanya, benefit yang ditawarkan, sampai kesempatan karir sebagai pegawai pemerintah. Namun, tidak ada yang menganggap kalau pegawai negeri itu sampai jadi kasta tersendiri atau bahkan menganggap dirinya sebagai abdi negara. Betapapun “hebat”-nya pegawai negeri, ya pada akhirnya ia hanya pekerjaan biasa seperti halnya orang-orang lain yang bekerja. Tidak perlu dianggap aneh, diistimewakan, atau dianggap mulia. Nassim Nicholas Taleb, seorang filosof yang saya sukai tulisan-tulisannya, pernah mengatakan:

“A sign of development for a country is in the lack of prestige for government officials.”
“Tanda majunya suatu negara bisa dilihat dari tidak adanya gengsi dalam menjadi pejabat pemerintah.
— Nassim Nicholas Taleb

Saya setuju banget dengan ini. PNS nggak perlu dianggap pekerjaan bergengsi ataupun aneh, karena pada intinya ya ia sesuatu yang sama dengan pekerjaan lainnya. Orang mungkin hanya berpendapat begitu karena kekurangan informasi, dan memang informasi soal pegawai negeri sering nggak disampaikan secara transparan. Entah itu cara seleksinya, pekerjaan sehari-harinya, gajinya, pengembangan karirnya, dan lain-lain. Semua terkubur dalam teks-teks peraturan yang begitu banyaknya hingga sulit dipahami orang awam. Karena itu, untuk menghilangkan kesan “misterius” dalam menjadi PNS ini saya menulis hal-hal yang saya tahu soal PNS. Saat ini, kita mulai dulu dari soal rekrutmen atau seleksi CPNS.

Saya akan mencoba menjabarkan 5 kesalahan yang sering dilakukan pendaftar seleksi CPNS dan bagaimana sikap/tindakan yang bisa diambil buat mengantisipasinya.

1. Tidak tahu alasan mendaftar

Sering kali orang daftar seleksi CPNS tanpa sadar alasan mereka ingin ada di sana. Ya, banyak juga yang sebetulnya tidak ingin tapi terpaksa, but that’s another matter.

Banyak yang beranggapan PNS itu kerjanya pasti santai, pasti uangnya cukup, dan pasti hidupnya terjamin sampai pensiun. To some extent, ini ada benarnya, walau tidak selamanya. Tapi, di sisi lain, ada banyak downsides yang harus dihadapi kalau jadi PNS.

Misalnya, ketika mendaftar peserta harus membuat surat pernyataan bahwa dirinya tidak akan meminta pindah unit kerja dengan alasan apapun selama 10 tahun sejak diangkat. Ini tentu berat buat yang akan merantau. Bahkan perusahaan saja jarang yang kontraknya sepanjang itu.

Hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah banyaknya aturan yang harus ditaati PNS, mulai dari soal kesetiaan kepada negara dan pemerintah sampai urusan-urusan pribadi seperti izin atau menikah. Iya, PNS menikah saja harus juga lapor ke kantor. 💁‍♂️

Di banyak negara termasuk Indonesia, PNS/civil service adalah ranah kerja yang masa kerjanya bisa panjang sekali, bisa bertahun-tahun bahkan hampir seumur hidup. Sebagai gambaran, usia pensiun PNS pada umumnya 58-60 tahun. Ada yang sampai 65 tahun bahkan 70 tahun untuk dosen yang duduk sebagai Guru Besar/profesor. Sementara itu, tidak terlalu sering ada rotasi/mutasi kepegawaian yang memindahkan orang dari satu instansi ke instansi lain. So before signing up, sincerely ask yourself: do I wanna do this job for the rest of my life?

Kalau pembaca masih belum yakin menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya mencoba jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kinerja (PPPK). PPPK ini sama-sama pegawai pemerintah atau istilahnya Aparatur Sipil Negara dengan PNS. Pendapatannya pun sudah diatur sehingga tidak berbeda dengan PNS. Yang membuat beda, PPPK sistem kerjanya kontrak dalam jangka waktu 1-5 tahun. Di satu sisi, ini artinya tidak ada kepastian kerja sampai pensiun. Di sisi lain, justru ini memberikan keleluasaan buat orang-orang yang nggak mau “dikunci” karirnya hanya untuk ke instansi pemerintah atau sektor publik, tapi bisa juga punya mobilitas karir ke sektor swasta sehingga kesempatan bereksplorasinya lebih luas.

2. Salah strategi dalam memilih posisi yang dilamar

Sering kali orang mendaftar karena asal ingin diterima saja. Padahal, seperti kata pepatah, posisi menentukan prestasi. Makanya, pemilihan posisi yang dilamar itu sebetulnya sangat penting.

Ada beberapa hal yang harus diingat waktu memilih posisi:

2.a. Kecocokan formasi

Pastikan teman-teman tidak salah pilih formasi. Di seleksi CPNS ada beberapa macam formasi:

  1. Umum, bisa diikuti oleh semua kategori pendaftar
  2. Lulusan Terbaik alias cum laude, bisa diikuti oleh pelamar yang memiliki IPK 3.5 ke atas dari Perguruan Tinggi terakreditasi A dan program studi terakreditasi A
  3. Diaspora, bisa diikuti pelamar yang berstatus WNI dan sedang bekerja di luar negeri minimal 2 tahun
  4. Penyandang Disabilitas, bisa diikuti pelamar penyandang disabilitas (jenis disabilitas yang diterima tergantung ketentuan dari instansi yang menerima)
  5. Putra/Putri Papua dan Papua Barat, bisa diikuti pelamar yang lahir di kedua provinsi tersebut (yang dibuktikan dengan beberapa dokumen)
  6. Tenaga Pengamanan Siber (Cybersecurity), bisa diikuti oleh praktisi cybersecurity dan ini hanya khusus diadakan beberapa instansi pemerintah yang fokusnya adalah keamanan (misalnya Kepolisian)

Pilihlah formasi yang sesuai dengan kondisi teman-teman. Kalau kriterianya tidak sesuai dengan cum laude, ya jangan dipaksakan daftar karena pasti tidak akan lulus administrasi. Pilih yang sesuai saja. Jangan kalah sebelum bertempur.

Lebih lanjut tentang ketentuan formasi bisa dibaca di Permenpan RB no. 23 tahun 2019.

2.b. Latar belakang pendidikan

Jangan pula daftar posisi yang jelas-jelas kualifikasi pendidikannya nggak cocok. Misalnya, punya ijazah S-1 Sastra Inggris tapi daftarnya guru yang syaratnya S-1 Pendidikan Bahasa Inggris. Ya pasti tidak akan lolos seleksi administrasi.

Jangan daftar posisi D-3 padahal ijazahnya S-1. Ini juga nggak bakal diterima. Kalau posisi SMA gimana? Nah kalau ini baru bisa karena syarat ijazah SMA-nya terpenuhi. But I very strongly recommend against it kalau ijazahnya S-1. Kasian karirnya nanti. 🙁

Kalau misal ragu atau butuh info yang lebih pasti, jangan ragu-ragu untuk bertanya ke panitia seleksi di instansi yang ingin dilamar, baik itu lewat telepon, email, atau media sosial. Tiap panitia instansi biasanya punya kebijakan sendiri-sendiri soal syarat latar belakang pendidikan yang dibolehkan melamar.

Ingat ya, tanyanya ke instansi masing-masing, jangan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang biasanya jadi gerbang info seleksi CPNS dan diserbu banyak penanya. Mereka hanya tahu syarat secara umum saja dalam peraturan perundang-undangan. Yang punya keputusan menerima atau tidak menerima pendaftaran dari jurusan tertentu adalah instansi masing-masing. Kecuali memang mau daftar di BKN, baru bisa tanya ke admin BKN.

2.c. Jenis jabatan yang dilamar

Nah ini yang sering pendaftar nggak aware. Ada dua jenis jabatan PNS untuk yang sifatnya entry-level buat lulusan S-1: jabatan fungsional dan jabatan pelaksana.

Jabatan fungsional adalah jabatan yang disusun berdasarkan tingkat keahlian/keterampilan. Alias jabatan yang punya jenjang expertise. Contohnya dosen yang ada jenjangnya dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, sampai guru besar/profesor. PNS di jabatan fungsional bisa naik pangkat sesuai dengan prestasi kerjanya dalam bentuk angka kredit. Dosen yang sering publikasi atau pustakawan yang sering melakukan layanan pasti karirnya lebih cepat meningkat daripada yang kurang aktif bekerja. Kenaikan pangkat paling cepat 2 tahun sekali tergantung prestasi kerja. Kenaikan jabatannya bahkan (setidaknya secara teori) bisa diajukan setiap tahun.

Jabatan pelaksana adalah jabatan yang job description-nya pakem dan tidak ada jenjang keahliannya. Misalnya posisi “pengelola perpustakaan.” Pekerjaannya akan tetap seperti itu sampai ia berpindah jabatan. Kenaikan pangkat tidak berdasarkan prestasi namun otomatis 4 tahun sekali. Walaupun otomatis naik, tapi ada batas pangkat maksimum kecuali ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau menjadi pejabat administrasi (= posisi manajerial tapi bukan pimpinan tinggi).

Karena tidak ada jenjang keahlian, maka biasanya pejabat pelaksana akan meningkatkan karir dengan menjadi pejabat struktural (biasa dikenal dengan pejabat eselon IV-I) atau pindah ke jabatan fungsional yang mobilitas karirnya lebih tinggi.

Jadi, menurut saya sebaiknya pilih jabatan fungsional saja supaya nanti urusan mobilitas karirnya lebih mudah.

Apalagi, baru-baru ini sudah ada instruksi presiden untuk memangkas birokrasi sehingga eselon III dan IV dihilangkan. padahal jabatan eselon ini adalah satu-satunya sarana “naik kelas” bagi pejabat pelaksana.

Bagi pejabat fungsional, mereka bisa naik karir dengan jadi pejabat eselon atau naik jenjang keahlian. Selain itu, pejabat fungsional juga punya tunjangan khusus sesuai dengan jabatannya masing-masing. Selain tunjangan jabatan fungsional ini sendiri, komponen tunjangan kinerja pejabat fungsional juga lebih tinggi daripada pejabat pelaksana karena biasanya grade atau tingkat jabatannya lebih tinggi dari pejabat pelaksana untuk posisi entry-level (posisi yang diterima setelah lolos CPNS dan diangkat jadi PNS).

Biasanya, di pendaftaran jabatan fungsional ditandai dengan frasa “Ahli Pertama”, misalnya “Guru Ahli Pertama” atau “Pranata Komputer Ahli Pertama.”

Kalau masih bingung soal jabatan fungsional dan pelaksana ini, sila baca daftar jabatan pelaksana dan fungsional beserta deskripsi kerjanya masing-masing:

Daftar dan deskripsi jabatan fungsional: https://www.bkn.go.id/unggahan/2022/09/Profil-Jabatan-Fungsional-2020.pdf

Daftar dan deskripsi jabatan pelaksana: https://jdih.menpan.go.id/dokumen-hukum/KEPMEN/jenis/1626?KEPUTUSAN%20MENTERI

3. Kurang memahami instansi yang dituju

Orang sering salah kira bahwa PNS di mana-mana itu kerjanya sama, jalur karirnya sama, dan gajinya sama. Padahal, sederhananya, 3 hal tadi tergantung di instansi mana kerjanya PNS itu.

3.1. Jenis-jenis Instansi PNS

Secara umum, instansi pemerintah yang “dihuni” oleh PNS ada 4 macam:

  1. Kementerian
  2. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK)
  3. Lembaga Non-Struktural (LNS)
  4. Pemerintah daerah (Provinsi/Kota/Kabupaten)

3.1.a. Kementerian

Dipimpin menteri, dan menteri rata-rata bukan berlatar belakang PNS. Yang PNS adalah pejabat-pejabat eselon I di bawahnya. Misalnya di Kemdikbud, Nadiem Makarim sebelumnya sama sekali nggak ada hubungan dengan PNS tapi jadi pucuk pimpinannya.

Ada juga kementerian yang pimpinan tertingginya diambil dari PNS di sana. Misalnya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang diplomat Kemlu. Memang secara tradisi Menlu adalah “orang dalam” kementerian tersebut.

Kementerian ada yang besar dan ada yang kecil. Semakin besar, maka jumlah kantornya pun semakin banyak. Misalnya Kementerian Keuangan atau Agama yang di masing-masing daerah punya cabang.

Bandingkan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang kantornya cuma 1 di Jakarta. Ini penting untuk dipertimbangkan karena akan mempengaruhi penempatan kerja nantinya. Kalau kementerian hanya ada di pusat, ya otomatis tidak bisa minta pindah ke daerah. Hal ini ada dampak positifnya juga, yaitu kecil sekali kemungkinan dimutasi/dipindahkan keluar lokasi yang ada di instansi yang sekarang. (Kecuali pindah ibukota, hehehe.)

Lembaga kementerian juga biasanya dinamis. Bisa diubah-ubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan presiden. Misalnya Kemristekdikti yang Dikti-nya sekarang dicopot dan dikembalikan ke Kemdikbud. Kementerian Ristek pun juag kemudian bubar juga, dilebur ke Kemdikbud.

3.1.b. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK)

LPNK adalah lembaga yang menjalankan tugas pemerintahan yang khusus dan biasanya skalanya lebih kecil dari kementerian, misalnya LIPI di bidang penelitian atau Perpusnas di bidang perpustakaan.

Berbeda dari kementerian, LPNK hampir pasti dipimpin oleh PNS (kecuali yang pimpinannya dari TNI atau Polri seperti BNPB atau Bakamla). Otomatis, dinamika organisasinya menurut saya relatif nggak sekencang kementerian yang hampir pasti akan berubah setiap presiden mengangkat menteri baru.

Seperti kementerian, LPNK juga ada yang besar dan ada yang kecil. Misalnya, LIPI punya banyak kantor dan pusat penelitian di beberapa daerah. Sementara Perpusnas “hanya” punya 2 kantor pusat dan 2 unit perpustakaan proklamator di Blitar dan Bukittinggi.

Secara kelembagaan, LPNK cenderung nggak terlalu dinamis karena biasanya nggak tersentuh kebijakan politik yang dilakukan presiden. Misalnya, Arsip Nasional RI (ANRI) ya lembaganya cenderung tetap begitu bahkan sejak zaman Belanda waktu namanya masih Landsarchief.

3.1.c. Lembaga Non-Struktural (LNS)

LNS adalah lembaga yang dibentuk dalam rangka melaksanakan peraturan/kebijakan tertentu. Contoh LNS yang terkenal adalah KPK dan Komnas HAM. Yang memimpin biasanya orang TNI/POLRI atau anggota/komisioner dari kalangan sipil.

Anggota dan komisioner ini bukan PNS. PNS tertinggi di LNS biasanya adalah sekretaris jenderal. Secara kelembagaan, LNS biasanya lebih kecil dari kementerian/LPNK sehingga ruang gerak bagi pegawainya pun juga menurut saya lebih sempit.

3.1.d. Pemerintah daerah

Berbeda dari PNS di pusat (kementerian/lembaga) yang dikelompokkan berdasarkan sektornya, PNS daerah semuanya berada di bawah kendali kepala daerah, yaitu gubernur, bupati, atau walikota. Makanya, struktur kelembagaannya pun berbeda-beda tergantung daerahnya.

Akibatnya, penghasilan yang diterima juga berbeda. Banyak PNS daerah yang hidupnya pas-pasan karena penghasilannya juga kecil dan ada juga PNS daerah yang penghasilannya mengalahkan PNS pusat karena daerahnya sudah maju.

Menurutku pribadi, mobilitas karir pada umumnya lebih baik di kementerian/lembaga pusat yang lingkup kerjanya se-Indonesia karena di daerah ya otomatis lingkup kerjanya lebih terbatas. Tapi, jika teman-teman lebih memilih bisa bekerja di daerah asal atau daerah yang diinginkan dibandingkan mengejar kesempatan karir, memang lebih baik memilih instansi Pemerintah Daerah.

3.2. Instansi menentukan remunerasi

Seperti yang sedikit dibahas sebelumnya, pilihan instansi akan menentukan penghasilan yang akan diterima. Orang sering terkecoh dengan tabel gaji pokok PNS yang angkanya memang kecil. Untuk golongan III/a, golongan untuk lulusan S1, gaji pokoknya hanya sekitar 2,5 juta. Jadi, orang sering beranggapan bahwa mereka hanya akan terima sejumlah ini per bulannya jika jadi PNS. Padahal, banyak komponen penghasilan PNS selain gaji pokok, yang jumlahnya biasanya lebih besar dari gaji PNS itu sendiri. Makanya, yang penting buat diketahui dari PNS itu bukan gaji, tapi remunerasi atau penghasilan total selama sebulan alias take home pay.

Nah, ada komponen penghasilan yang besarannya sama untuk semua PNS di Indonesia, tapi juga ada yang berbeda menurut jabatan yang diduduki dan instansi tempat PNS tersebut bekerja.

Komponen penghasilan PNS secara umum. Tidak komplit karena banyak sekali aturannya.

Dari tabel ini, yang paling signifikan mempengaruhi penghasilan PNS adalah Tukin/TPP/tunjangan lain yang sejenis itu. Tunjangan tersebut gap-nya bisa sangat jauh tergantung instansinya. Oleh karena itu, jika ingin hitung-hitungan penghasilan yang diterima, sebaiknya cari informasi tentang Tukin/TPP/lainnya tadi.

Semua informasi tentang komponen penghasilan ini terbuka di internet dan bisa dilihat di berbagai dokumen peraturan tentang penghasilan PNS. Tapi nggak akan cukup tempat di tulisan ini buat membahas sampai ke sana, jadi teman-teman bisa mencari tahu sendiri.

2.3. Instansi Pembina

Oh iya, di poin 2.c. saya sempat menulis bahwa sebaiknya pilih lowongan jabatan fungsional daripada jabatan fungsional. Nah, sebaiknya dalam memilih jabatan fungsional ini juga pertimbangkan apakah jabatan fungsional itu ada di instansi pembina atau bukan.

Apa itu instansi pembina? Jadi, setiap jabatan fungsional punya bidang kepakaran sendiri-sendiri, dan instansi pembina adalah lembaga yang bertanggung jawab atas kepakaran di bidang tersebut. Misalnya, jabatan arsiparis bisa ada di macam-macam lembaga, tapi yang punya kebijakan terkait jabatan itu adalah Arsip Nasional Republik Indonesia sebagai instansi pembinanya. Begitu juga dengan peneliti, yang bisa ada di berbagai macam lembaga pemerintah. Namun, induk jabatan fungsional peneliti alias instansi pembinanya adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Instansi pembina punya peran penting untuk pengembangan profesi di jabatan fungsional yang dibinanya. Misalnya, kegiatan pengembangan karir seperti diklat, seminar, dan semiloka yang terkait jabatan fungsional biasanya diadakan oleh instansi pembina. Demikian juga dalam soal pengembangan karir. PNS jabatan fungsional yang bertugas di instansi pembina biasanya punya peluang karir lebih luas daripada yang tidak bertugas di instansi tersebut. Hal ini karena penilaian kenaikan pangkat dan jabatan untuk pejabat fungsional dipengaruhi oleh instansi pembina.

Apa saja instansi pembina itu? Teman-teman bisa lihat di dokumen Profil Jabatan Fungsional PNS yang saya tautkan di bagian 2.c. tadi.

Jadi, jika memungkinkan, usahakan daftar di jabatan fungsional yang ada di instansi pembina. Tentu ini akan mengurangi opsi lowongan yang bisa jadi pilihan. Tapi ini akan berpengaruh ke mobilitas karir apabila diterima.

Nah, kalau misal opsi jabatan fungsional di instansi pembina tidak tersedia, ya tidak harus dipaksa juga. Bisa daftar ke instansi yang lain dulu. Teman-teman bisa cari advantage di hal-hal lainnya selain soal instansi pembina.

4. Tidak mengurus berkas sesegera mungkin

Ini persoalan yang sebenarnya sepele tapi bikin pusing.

Dalam mendaftar seleksi CPNS, berkas yang dibutuhkan sangat banyak: SKCK, surat sehat jasmani dan rohani dari RS pemerintah, surat pernyataan, bahkan sampai sertifikat bahasa Inggris.

Oleh karena itu, usahakan mengurus semua ini secepat-cepatnya. Semakin mepet deadline, biasanya antrean di Polres dan RS semakin menumpuk sehingga akan susah mendapatkan dokumen yang kita mau di hari itu juga.

Terlebih lagi, semakin dekat deadline biasanya sistem pendaftaran SSCN akan semakin sering macet. Makanya, usahakan selesaikan upload berkasnya seawal mungkin.

5. Tidak tahu apa yang harus disiapkan untuk SKD dan SKB

Pada umumnya, seleksi CPNS punya 3 tahap: 1) Seleksi Administrasi, 2) Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), dan 3 (Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Seleksi Administrasi sebenernya simpel. Selama memenuhi persyaratan secara berkasnya, pasti akan lolos. Ingat-ingat aja poin nomor 4 tadi. Jadi, di sini kita akan fokus ke seleksi tahap SKD dan SKB.

5.a. Seleksi Kompetensi Dasar (SKD)

Soal SKD sama untuk semua pendaftar CPNS apapun instansinya, menggunakan CAT (Computer-Assisted Test, intinya tesnya dikerjakan lewat komputer).

SKD sendiri terbagi beberapa bidang:

  1. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), materinya kewarganegaraan + sejarah + ilmu sosial
  2. Tes Inteligensi Umum (TIU), sama persis dengan Tes Potensi Akademik, Tes Skolastik, dan lain-lain yang biasa kita temukan di ujian masuk kuliah dan seleksi beasiswa
  3. Tes Karakteristik Pribadi (TKP), yang ujiannya berisi soal-soal studi kasus di tempat kerja yang mengukur apakah pelamar punya “mentalitas” atau mindset sebagai PNS atau tidak

Selengkapnya tentang materi TWK, TIU, dan TKP, sila baca Permenpan RB no. 23 tahun 2019 di bagian K (seleksi). Pelajari betul indikator-indikator yang dinilai dan buat sebagai daftar materi untuk dipelajari. Tautan: http://cpns.pertanian.go.id/files/Peraturan_Menteri_PAN-RB_No._23_Tahun_2019.pdf Permenpan RB Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil dan perubahannya dalam Permenpan RB Nomor 52 Tahun 2021.

Ini penting terutama buat TKP, yang tahun lalu banyak membuat peserta gugur karena passing grade-nya tinggi. Banyak yang bilang TKP itu sifatnya subjektif. Ya memang ada unsur subjektivitasnya, tapi semua arah jawaban yang dimau sebetulnya sudah ada di kisi-kisi dari Permenpan tadi. Plus, ini menurutku ya, di dalam mengerjakan TKP itu kita harus bisa mengira-ngira trait atau sifat apa yang diinginkan employer kita, dalam hal ini negara dan pemerintah Indonesia. Nah, sifat-sifat itu kita temukan dengan membaca peraturan tadi. Intinya, please read the fine print.

Nah, pertanyaannya, sumber belajar buat CPNS dari mana? Apakah harus beli buku? Sebetulnya enggak juga. Di Telegram udah banyak grup yang membagi-bagikan materi dan latihan soal buat SKD dan sudah tersusun per kategori dan subkategorinya. Dan soalnya pun sering kali sama dengan buku-buku mahal di toko buku. Sebetulnya hal yang terpenting dari belajar SKD adalah tahu mana materi yang sudah kita kuasai dan mana yang belum, supaya belajarnya terstruktur. Kalau cuma drilling-drilling soal aja tanpa belajar materi menurut saya kurang efisien.

Prioritaskan menguasai apa yang sudah kita bisa, baru setelah itu melengkapi materi yang kurang dimengerti. Misalnya, di TIU, dari aspek kemampuan verbal, numerik, dan figural, mana yang paling kita kuasai dan mana yang paling kita enggak kuasai? Fokus dulu di yang unggul.

Saya sendiri dulu lebih unggul di soal-soal TIU mengenai kemampuan verbal (bahasa). Dari hasil tryout, memang hasilnya lebih tinggi di bagian itu. Makanya di awal-awal saya fokus menguasai bagian verbal.

Baru setelah betul-betul mantap dengan verbal, aku mulai menginjak materi numerik dan figural, sambil sekali-kali mengetes diri untuk melihat progress belajar.

Nah untuk tryout, usahakan tidak hanya mengerjakan soal di atas kertas saja tapi gunakan software tryout yang biasanya sudah tersebar luas di internet atau pakai laman tryout-nya BKN. Ini tujuannya membiasakan diri dengan user interface aplikasi CAT yang nanti dipakai waktu tes.

5.b. Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)

Setelah lolos SKD, maka akan ada SKB, yang pelaksanaannya tergantung instansi. model seleksinya berbeda-beda tergantung instansinya tapi ada komponen CAT Bentuk-bentuk seleksi yang dipakai biasanya gabungan dari: 1. SKB dengan CAT 2. Psikotes 3. Wawancara 4. Praktik kerja 5. Kesamaptaan/Tes fisik

Untuk instansi pusat, ada kemungkinan pakai model seleksi 1-5, makanya lihat pengumuman penerimaan CPNS masing-masing lembaga. Tapi untuk Pemda, setahu saya tidak ada seleksi selain SKB via CAT, sehingga seleksinya lebih simpel. Silakan cek pengumuman penerimaan CPNS-nya supaya dapat info lebih lengkap.

5.b.1. SKB dengan CAT

Model ujian sama dengan SKD dengan software CAT yang sama, yang berbeda adalah soalnya. Hanya ada 1 sesi dengan soal-soal yang terkait dengan posisi yang kita lamar. Biasanya ada 100 soal.

Apa kisi-kisinya? Ini contoh dari pengalaman saya sendiri ya: a. Peraturan perundang-undangan tentang posisi/instansi b. Materi tentang bidang c. Pengetahuan tentang instansi

Kalau dalam pengalaman saya sendiri daftar sebagai pustakawan di Perpusnas, contoh-contoh dari 3 materi itu adalah: a. UU 43/2007 tentang Perpustakaan, Permenpan 9/2014 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dang Angka Kreditnya b. Materi ilmu perpustakaan dari bukunya Sulistyo Basuki “Pengantar Ilmu Perpustakaan” yang sering jadi acuan di program studi ilmu perpustakaan c. Informasi di dalam web Perpusnas

Khusus yang daftar jabatan fungsional, pastikan teman-teman tahu seluk-beluk jabatan fungsional itu, cari peraturannya. Biasanya nama peraturannya “[Nama jabatan] dan Angka Kreditnya” misalnya “Jabatan Fungsional Diplomat dan Angka Kreditnya”

5.b.2. Psikotes

Pelajarin psikotes-psikotes yang biasanya dipakai kayak tes Wartegg atau tes angka. Walaupun tujuan psikotes adalah mengetahui watak, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa practice makes perfect juga di sini.

5.b.3. Wawancara

Maaf kurang banyak informasi soal ini karena aku sendiri kemarin nggak ada seleksi wawancaranya. Tapi dari teman-teman yang ada wawancaranya, biasanya materinya seputar motivasi menjadi PNS dan pengetahuan soal jabatan yang dilamar.

5.b.4. Tes praktik kerja

Beberapa tempat melakukan tes praktik kerja, misalnya microteaching buat dosen atau tes menerjemahkan untuk jabfung penerjemah. Saya sendiri juga nggak merasakan seleksi ini jadi tidak bisa kasih info.

5.b.5. Tes kesamaptaan/fisik

Ada beberapa lembaga yang menuntut tes kemampuan fisik kayak kemampuan atletik, semisal Kemenkeu atau Kemenkumham untuk beberapa posisi. I don’t have much information on this either.

Nah kira-kira itu setumpukan takeaways tentang seleksi CPNS, seluk-beluk pekerjaannya, dan cara-cara seleksinya. Semoga siapapun yang mau daftar bisa berhasil ya, dan nantinya mendapatkan apa yang diinginkan baik saat dan setelah mendaftar, syukur-syukur jika diterima juga. Hit me up should you have any questions. Good luck!

_____________________________

Keterangan Gambar
Tangkapan layar ini berasal dari anime Servant x Service (2013). Ceritanya seputar kehidupan sehari-hari para pegawai pemerintah di suatu kantor kecamatan di Jepang. Cukup relatable buat saya yang sehari-harinya bekerja di pelayanan publik. Hahaha.
Diambil dari blog Lost in Anime. Kalau mau tahu episode pertamanya seperti apa, bisa baca recap di tautan itu.

Leave a Comment

Quarter

It’s been a quarter. But a quarter to what, exactly?

Let’s just start with the basic description of how I am right now:

  • Not in a constant distress, just a routine that sometimes becomes boring
  • Having a good time, but not exactly devoid of any good work
  • Meeting people, but not being attached to them

I have been through things. But to what end they are for, I’m still deciding and waiting for things to unfold.

I just stop expecting anything to happen; I just focus on doing things on my own. Everything that is unfolding and will unfold before me, they are not for me to decide. As long as I know what to do, I think I’ll be fine. Just don’t attach whatever you do into any kind of reward/event that you expect to happen. Whatever is yours will be yours, as long as you happen to meet the conditions. I just need climb towards it with every might I could muster.

“Do things, but don’t make things happen” is what my conscience tells me.

Anyone who is around my age must have heard a lot about quarter-life crisis by now. But come to think of it, haven’t you noticed that this term is somewhat presumptuous? They’re talking about a quarter of our lives as if we’re going to live to eighty or a hundred years. Yes, I read somewhere that a third of humans born after 2000 will live become centenarians, namely people who will have a 100th birthday. But do we have the right to be sure about that? Well, in any case, there seems to be a great number of young adults who suffer from this lack of direction or meaning in their lives. Including me, or maybe you. We have so much to figure out in our brief lives.

What can we do to find meaning? The late psychiatrist Viktor Frankl outlines in his book Man’s Search for Meaning the three ways to meaning:

  1. Creating a work or doing something
  2. Meeting someone and doing things for them
  3. Strengthening yourself in the face of suffering

Let’s talk about these three things. Have I gained meaning from them so far? I’m going to start backwards.

Resilience

For reasons I won’t go into in this writeup, I don’t like my childhood years that much. There were a lot of hard lessons that I had to take and bitter-tasting medicine I had to taste. Sure, they were not Holocaust-level horrors like Viktor Frankl once suffered. But for me, the growing pains were real and they were exactly why I transformed into (I think) a completely different sort of person by now.

I still think I’m missing out on many things. Instead of the joy of childhood, I got myself staring into the abyss. Instead of the playfulness of an adolescent, I sank towards the valley of fear and trembling. In exchange, though, I think I’ve become a more resilient person thanks to these experiences. Broadly speaking, my life these past two and a half decades has taken a path from miserable in my childhood years, terrible during my adolescent years, and then dull and stressful but with many sprinkles of pleasure during this young adult phase (so far). There have still been and there will be things that I had to learn the hard way, but thankfully I’m now in a much better shape to take them head-on.

Attachment

Actually, Viktor Frankl didn’t talk very much about finding someone you love. Maybe it was not much of interest for him. This is a rather difficult subject for me to write about, especially here. But let’s just gloss over the basic ideas I have about it:

  1. It’s kind of useless to talk about love (re: my post about the Djalan Sampoerna manuscript or my attempted translation of a D.H. Lawrence’s poem) because people think about it in wildly different ways
  2. Instead, we can talk about attachment and the need to be attached to others (as per Jacques Lacan’s conception of need)
  3. This is not my attempt to a pessimist or a cynic. In order to settle the matters of heart, we need to have a good understanding of it, and that can only be reached by using the words that can describe our feelings accurately and without any ambiguities. Love is ambiguous; attachment and need are not. As the late Mr. Rogers once spoke, “Feelings that are mentionable are actionable.”

Work

I deem myself to be lucky. I took up college studies in the humanities, and everywhere jobs are so scarce in this sector. Many people I know had to take jobs completely unrelated to the humanities, nothing in common at all with what they were passionate about in their early days. Yet here I am, far from home but doing the work that I think to be important as a humanities-minded person.

So far, money hasn’t become an issue for me. Many people work so they are able to live, but at this moment I live to work. I believe in the value of my work and I think that it helps me grow. It’s enough reason for me to continue doing this despite other people’s skepticisms that I have to swallow.

I am no believer in the advice of follow your passion. Let’s face it: not all passions make money. We can all do the things we love, but those things we love doing don’t always make us better people in the long run, especially in financial terms. This is a fact that rings truer in some work areas, such as the humanities. There’s a really cool book about this, titled So Good They Can’t Ignore You. The writer Cal Newport emphasizes that passion is not a good predictor at all to work success. You might even end up hating your job after the fire of passion has dimmed. Instead, he suggests to find something that is doable and money-making that you can learn to accomplish, then stick on it while trying to improve continuously. Choose a profitable line of work, then learn so much so you can be so good they can’t ignore you. He then outlined the steps to achieve this brand of career fulfillment. In the end, if you can master your work, you will grow a love of it. In Javanese terms, we can speak of this kind of love of work as witing tresno jalaran soko kulino (which can be translated as “love comes from being familiar”).

It’s easy to dislike something that has become ordinary to you. Work is that kind of thing. But if you have grown to love it, you’ll be free from dread and anxiety that comes from work. Even if you think that the work is stressful, you’ll always find reason to come back to it.

And today, on a Sunday, I’m going to my office to work.

What’s next?

As I said before, currently I just focus on doing things. I’m still waiting for things to unfold. There are big plans, but I think I won’t worry about them for the next few months, or even for the next few years for some of these plans. As one line of the opening song in Hamilton put it:

There’s a million things I haven’t done,
But just you wait!

Leave a Comment

Housekeeper’s Notes #03: Hati dan Organisasi

Organisasi semacam himpunan sejatinya adalah organisasi sukarela, volunteering. Bapak ilmu manajemen, Peter F. Drucker, menyebut para relawan sebagai pekerja yang paling memiliki dedikasi. Peluh yang mereka keluarkan tidak berbahan bakar uang atau kekuasaan, tapi semata-mata tujuan mereka adalah keinginan untuk memajukan organisasi. Ketika para relawan ini lulus dari bangku kuliah, mereka akan menjadi pekerja yang punya daya tahan, motivasi yang lebih baik, dan kemahiran sosial yang lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang tidak berorganisasi.
Setidaknya, begitulah yang semestinya terjadi. Apakah organisasi kita sudah menghasilkan kader-kader pekerja yang punya daya tahan tinggi?
 Tidak juga.
 Pembaca pasti sudah kenal stereotip panitia MOS atau Ospek yang lagaknya sok-sok kaku, bersuara lantang, tapi sebenarnya tebar pesona. Mungkin juga pembaca yang berorganisasi pernah mendapati orang yang dalam rapat tampak menggebu-gebu dan berkarisma tapi sejatinya mencari “mangsa” atau berusaha mengundang tepuk tangan dari teman-temannya. Mau kita akui atau tidak, semua orang tampaknya punya kepentingan pribadi. Apalagi, karena kerja sukarela tidak ada insentifnya, orang-orang dalam organisasi akan berusaha mencari reward-nya dengan cara mereka sendiri. Entah itu dalam bentuk pertemanan, percintaan, sampai akses ke orang-orang dan informasi penting di kampus (yang paling klasik: dosen dan perkuliahan). Ketika reward yang mereka cari itu tidak mereka temukan, maka mereka akan mundur teratur dengan sendirinya dari organisasi kita.
 Satu hal yang saya pahami setelah berorganisasi beberapa lama adalah bahwa kepentingan organisasi pasti akan berbenturan dengan kepentingan diri sendiri. Saya ingin santai-santai menonton serial TV, membaca buku simpanan di hari sabtu dan minggu, atau melakukan kerja sambilan, tapi ada rapat atau kegiatan yang wajib dihadiri. Padahal, di rapat atau kegiatan itu saya tidak betul-betul punya andil selain untuk meramaikan saja. Idealnya sih memang semua orang punya suara dan peran dalam rapat. Tapi, let’s face it, berapa banyak sih orang yang mau berpartisipasi aktif di rapat seperti itu? Oleh karena itu, dalam benak saya, seorang organisator yang ideal adalah mereka yang dengan sukahati mau mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi dan teman-teman mereka di sana.
 Teman-teman dan senior-senior saya waktu SMA punya istilah yang cukup sarkastik untuk organisator semacam ini: orang bodoh. Hanya orang bodoh yang mau diganggu akhir minggunya untuk datang rapat di siang bolong di hari sabtu tanpa diberi imbalan apa-apa. Hanya orang bodoh yang bisa berbulan-bulan bekerja keras untuk suatu acara tanpa diberi ucapan terima kasih dan penghargaan hanya untuk kemudian disuruh lagi membuat laporan pertanggungjawaban. Hanya orang bodoh yang rela memperjuangkan kepentingan teman-temannya yang mungkin tidak peduli hasil kerjanya, bahkan mungkin mencemooh dirinya di belakang.
 Saya tidak setuju menyebut hal-hal tadi sebagai kebodohan dan orang-orang yang melakukannya sebagai orang bodoh. Lebih tepat untuk menyebutnya sebagai pengorbanan. Tapi toh mungkin juga dikatakan, “Pengorbanan dan kebodohan itu bedanya tipis sekali.” Memang betul. Kadangkala orang yang berkorban demi sesamanya akan merasa bodoh, seolah kerja demi orang lain itu hanya membuang-buang waktunya saja. Sebaliknya, orang yang benar-benar bodoh akan merasa berkorban walaupun sebenarnya pengorbanannya itu tak seberapa.
 Kerja organisasi memang lebih banyak tidak bisa dinalarnya. Mengurus organisasi non-profit bukan cuma berkutat pada mengatur-atur masalah teknis, malah ada masalah yang lebih penting, yaitu hati. Seperti yang kita tahu, bicara soal hati memang jatuhnya akan ribet dan tidak karuan. Kent M. Keith, dalam buku kecilnya yang ditujukan pada aktivis mahasiswa di Amerika Serikat pada tahun 60-70an, menuliskan suatu manifesto yang ia beri judul “Perintah-Perintah yang Tak Masuk Akal.” Bunyinya sebagai berikut:
 
Orang lain itu tak logis, tak bisa diajak berpikir, dan mementingkan dirinya sendiri.
Tetaplah mencintai mereka.
Jika kamu berbuat baik, orang akan menuduhmu punya maksud tersembunyi.
Tetaplah berbuat baik. 
Jika kamu beroleh keberhasilan, maka kamu akan mendapat kawan palsu dan musuh sejati.
Tetaplah meraih keberhasilan. 
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini akan dilupakan esok hari.
Tetaplah berbuat baik. 
Berkata jujur dan berterus terang akan membuatmu rentan.
Tetaplah jujur dan terus terang. 
Manusia berhati besar dengan pemikiran terbesar bisa dijatuhkan manusia berhati kecil dengan pemikiran terkecil.
Tetaplah berpikir besar. 
Orang kasihan pada yang tertindas tapi hanya mau turut yang berkuasa di atas.
Tetaplah membela yang tertindas. 
Yang kamu bangun selama bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam.
Tetaplah membangun. 
Orang lain sungguh perlu kamu tolong, tapi jika ditolong mereka bisa menikammu.
Tetaplah menolong orang lain. 
Berikan yang terbaik bagi dunia dan mukamu akan diinjak-injak.
Tetaplah memberi yang terbaik bagi dunia.
Sepintas, memang kata-kata di atas tampak menjadi sesuatu yang ideal dan perlu kita tiru. Tapi, saya pun pada akhirnya juga ragu. Apakah ada orang yang bisa mengamalkan kata-kata di atas huruf demi huruf? Bukannya orang yang bisa melakukan hal seperti di atas itu namanya sudah bukan lagi manusia melainkan malaikat? Bahkan, saya pun tak yakin penulisnya juga sanggup berbuat seperti yang ditulisnya (terbukti sampai saat ini kita-kita juga masih asing dengan nama Kent M. Keith.)
Sebenarnya, sejauh apakah kita harus menyumbangkan hidup kita demi kepentingan sesama? Apa seorang relawan-organisator harus terus-terusam membarter urusan pribadinya untuk organisasi? Bagaimana kita bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan orang lain tanpa harus banyak saling menyakiti untuk mempelajarinya?
Sampai tulisan ini saya teruskan, biarlah pembaca dulu yang menyusun jawabannya.
Leave a Comment

Housekeeper’s Notes #02 : Sumbangan Hidup

Pada suatu titik, saya merasa jenuh dengan semua pekerjaan yang harus ditunaikan. Buat apa, misalnya, pagi-pagi saya harus bangun, berdoa, lalu seolah dikejar polisi ngebut ke kampus. Sepulang itu, larut malam, aku masih harus membaca buku-buku dan materi sembari mengerjakan tugas yang tampak hanya jadi tumpukan tulisan saja. Di antara berangkat dan pulang pun, saya masih harus mengurus keperluan yang sebetulnya tidak perlu-perlu betul saya lakukan dan bisa saja saya tolak. Buat apa capek-capek berpikir cara mengadakan acara yang belum tentu orang tertarik ikut atau memutar otak mencari dalih untuk mengajak satu-dua teman untuk ikut kegiatan? Mengapa saya harus tahan mendengar protas-protes dan keluhan tanpa henti yang mestinya bisa saya hindari?

Dengan keluhan di atas, tentu saya juga sadar bahwa semua orang juga pada dasarnya mengalami kesulitan yang tak kalah pelik. Toh, sejujurnya, saya masih jauh lebih beruntung ketimbang jutaan orang lain yang lebih naas. Sementara saya punya cukup uang untuk membeli makanan yang enak-enak, ada penjual koran yang kebingungan bagaimana cara menghabiskan jajaannya sehingga keluarganya tidak kelaparan. Ketika saya bisa tidur nyenyak di kamar sendiri, banyak orang di Suriah yang mungkin tidurnya di gua-gua sembari menghitung hari sebelum dipancung atau dibakar hidup-hidup. Orang yang bisa membaca tulisan ini mestinya juga sudah jauh lebih beruntung dari, setidaknya, orang yang tunanetra ataupun tunaaksara. Intinya: kita ini harus bersyukur masih diberi tangguh untuk hidup sebagaimana biasanya.

Tapi, kita pakai buat apa hidup kita yang “biasa” ini? Mau kita apakan kesempatan kita? Apa hidup ini hanya sekadar sekolah/kuliah/bekerja di hari Senin-Jumat lalu bersenang-senang hari Sabtu-Minggu, begitu terus sampai ajal tiba? Cukupkah kita menerima tugas dan perintah dari atasan atau menulis makalah suruhan dosen dan menjadi puas dengan itu? Nyatanya, orang cenderung bosan dengan hal-hal biasa dan ingin sesuatu yang membuat mereka puas. Kita cenderung ingin punya keunikan dan tidak mau sama dengan orang lain. Agaknya, tidak ada yang bakal menyangkal nasihat Steve Jobs, “Waktu Anda terbatas, jadi jangan pergunakan waktu itu untuk menghidupi hidupnya orang lain.”

Oleh karena itulah kepuasan dan keunikan sering dijadikan orang sebagai tujuan hidupnya. Kafe-kafe, bioskop-bioskop, pusat-pusat perbelanjaan sampai gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan dijajaki untuk mencari kepuasan dan kebanggaan diri. Semua orang ingin punya pengalaman yang berbeda dari orang lain. Itulah mengapa kita sekarang terus-terusan dibombardir ratusan check-in, foto, video, dan cerita di linimasa media sosial kita, demikian juga kita sendiri ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki orang lain. Orang berlomba-lomba mencari reputasi, kekayaan, dan kekuasaan. Mahasiswa berusaha memanjang-manjangkan CV-nya dengan sederet kegiatan dan pekerjaan.

Tidak ada salahnya itu, sebab kita sebagai manusia memang punya kebutuhan yang perlu dipuaskan.Tapi, dari situ jugalah orang mulai berpikir bahwa makna hidup ini adalah mencari kepuasan demi kepuasan. Dalam proklamasi kemerdekaannya, orang Amerika berusaha untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan. Akhirnya, orang lupa bahwa yang namanya kepuasan dan kebahagiaan itu hanyalah suatu keadaan yang bisa datang dan pergi, sama seperti rasa lega dan kenyang. Ketika mereka tidak lagi merasa puas atau bahagia dengan yang mereka peroleh sekarang, maka mereka mencari kepuasan-kepuasan yang lebih tinggi lagi, yang juga semakin susah untuk didapatkan. Jadilah orang bertambah serakah dan berebut satu sama lain. Yang menang akan jadi makin rakus, sementara yang kalah akan kembali menjadi tidak puas dan tidak bahagia. Ketika kepuasan yang jadi tujuan hidup itu hilang, maka seketika itulah orang mulai merasa bahwa hidup mereka tidak lagi diperlukan. Itulah mengapa kita sebagai umat manusia semakin maju dan semakin hidup layak, tapi semakin banyak pula orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Lantas, kita harus punya tujuan hidup yang seperti apa?

Pastor Rick Warren, seperti kita, juga bergelut dengan masalah tujuan hidup. Namun, beliau akhirnya sampai pada kesimpulan yang ia tulis dalam buku The Purpose-Driven Life. Karangan yang laku keras itu diawali dengan pernyataan, “It’s not about you.” Hidup itu bukan soal dirimu. Sebaliknya, hidup ini adalah soal apa yang kita lakukan untuk orang lain, untuk sesama. Dengan begitu, kita tidak terjebak rasa tamak karena kita tidak menjadikan diri sendiri sebagai patokan.

Tidak heran jika orang-orang yang purpose-driven atau bertujuan hidup untuk orang lain memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap masalah dan kesulitan. Jika orang hanya mencari kekayaan atau ketenaran diri semata, maka ia akan patah semangat dan kehilangan arah begitu hartanya ludes atau nama baiknya dirusak. Orang yang membaktikan hidupnya demi orang lain tidak bakal surut berpantang meski reputasi, orang terkasih, atau bahkan nyawanya sendiri terancam. Orang semacam ini punya ikrar, manifesto, atau komitmen untuk berjuang demi orang lain dan bukan dirinya sendiri.

Bung Karno punya apa yang ia sebut dedication of life atau sumbangan hidup yang sempat terkenal beberapa waktu lalu saat dibacakan oleh (waktu itu) calon presiden Joko Widodo. Bunyinya:

Saya adalah manusia biasa
Saya tidak sempurna
Sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan
Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa
Itulah
dedication of life-ku
Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku
Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa
Akan tetapi, dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat.

Sumbangan hidup seperti inilah yang membuat saya tersadar dari kejenuhan sehari-hari. Saya diingatkan bahwa segala jerih payah yang saya kerjakan itu bukanlah kembali ke diri sendiri, namun yang lebih penting, adalah demi kebaikan orang lain.

Tumpukan tugas yang saya kerjakan atau kelelahan saya mengejar kelas-kelas itu bukan buat diri saya, tapi paling tidak demi keluarga yang telah membesarkan saya dengan sungguh-sungguh. Gelar sebagai orang terdidik, yang semoga nanti saya dapat, harus dibaktikan untuk masyarakat yang sudah berinvestasi pajak atau bahkan sumbangan untuk memelihara sistem pendidikan di negara ini.

Ketika saya dilanda kelelahan dan kejenuhan saat bekerja untuk meyakinkan orang lain, saya sadar bahwa itu bukanlah untuk nama saya sendiri. Tujuan saya semata-mata hanyalah untuk menyadarkan bahwa mereka punya arti lebih dari sekadar hidupnya sendiri dan bahwa mereka dibutuhkan oleh sesamanya.

Saya mungkin belum bisa menuliskan sumbangan hidup sendiri, sebab itu butuh pertimbangan dan pengalaman yang sangat panjang. Namun, bolehlah jika sekarang ini saya sekadar mengutip dan meminjam semangat dari petikan ujaran senior-senior saya semasa SMA dulu:

Saya belajar untuk menjadi apa yang saya mau,
bukan untuk diri saya, tapi untuk mereka dan dunia […]
Jalanku adalah panjang dan berliku,
sementara langkahku hanya mampu satu demi satu.
Tapi, tekadku tidak pernah ragu.
Bahkan, jika nanti aku terkalahkan takdir,
akan kupastikan pengorbanan itu membuka jalan untuk penerusku.
Aku bukan pemimpin terbesar, bukan manusia terhebat.
Tapi, pasti ‘kan kutulis kebajikan-kebajikan di atas pasir,
agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan,
agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan,
karena aku bukanlah apa-apa melainkan seorang hamba.

Dengan nama Tuhanku, aku memulai perjuangan ini.

4 Comments
In word we trust