Skip to content

Target

Sekitar dua minggu lalu, blog ini sudah menginjak usia 10 tahun. Even though I now very rarely post here, I still wish that I can post every sometimes or so. Here’s a reflection that I think is relevant about the past decade in my life.

Waktu awal saya berkuliah, saya sudah punya daftar target. Ada beberapa hal yang mau saya lakukan waktu kuliah. Tapi, pada akhirnya tidak semua terlaksana. Bahkan, yang betulan terjadi hanya sedikit kalau diukur dari saat ini.

Apakah saya menyesal? Mungkin target saya ketinggian. Mungkin juga usaha saya masih kurang untuk sampai ke hal-hal yang saya rencanakan itu. Tapi, yang menurut saya lebih mungkin adalah diri ini banyak berubah sehingga prioritas pun berubah. Life happens. Pada akhirnya, kalau kita banyak mau, banyak juga yang harus kita korbankan. Dari target-target itu, bakal ada yang bertabrakan satu sama lain. Ada target besar yang ternyata untuk meraihnya perlu pengorbanan yang tidak kalah besar, bahkan lebih besar dari yang kita kira sebelumnya. Di situlah kita harus membuat pilihan, harus berkorban.

Lalu buat apa punya target kalau akhirnya nggak semua bakal terlaksana?

Kita sering menganggap target itu sebagai titik tertentu yang harus dicapai. Misalnya, saya mau beli es krim di toko es krim yang enak. Akhirnya pergilah saya jalan kaki ke toko es krim itu. Setelah sampai, ternyata toko es krimnya tutup. Terus sebaiknya apa yang harus saya lakukan? Mungkin ada orang yang ada di situasi begitu, terus mutung dan pulang lagi tanpa bawa apa-apa selain capek. Kalau saya sih, saya bakal coba keliling-keliling dan cari tempat lain yang jualan es krim. Siapa tahu bakal ketemu tempat es krim yang sama enaknya, bahkan lebih enak.

Buat saya, target itu fungsinya ya seperti toko es krim itu. Kalau kita dari awal nggak punya target, maka kita nggak akan jalan ke mana pun. Hidup kita akan begitu-begitu saja. Nggak ada bedanya hari kemarin, hari ini, dan hari besok. Kalau akhirnya kita bisa sampai ke target kita, bersyukurlah. Tapi, kalau toh kita sudah berjalan dan nggak berhasil mencapai “toko es krim yang diinginkan” alias target, nggak perlu dipermasalahkan juga. Seenggaknya kita sudah bergerak, jadi orang yang lebih baik dari hari sebelumnya. Siapa tahu juga bisa menemukan target-target yang lain yang bisa dikejar. Dari situ, tanpa kita harus terlalu banyak berhitung, kita akan maju ke arah yang lebih baik terus-menerus.

Semua orang pada akhirnya akan sampai ke tujuan yang sama, yaitu kematian. Yang membuat cerita hidup satu orang dan orang lainnya berbeda adalah jalan yang mereka tempuh sampai bertemu dengan maut itu. Everyone shares the same destination; it’s the journey that makes the difference. So, what will your journey be like?

Sumber: Pixabay
Published inThoughts

One Comment

  1. […] Sebetulnya, dari sebelum ini pun aku sudah kurang percaya dengan konsep-konsep seperti “rencan…karena sudah terbukti buat diri sendiri kalau hal-hal yang begitu jarang terwujud secara sempurna. Waktu aku masih kuliah, pernah ada suatu sesi ala-ala ESQ tentang pengelolaan hidup dan perencanaan masa depan. Di pelatihan tersebut, semua mahasiswa baru disuruh menuliskan impian mereka segamblang-gamblangnya di atas sebuah lembar kerja. Yang ditulis bukan hanya cita-citanya saja, tapi juga langkah-langkah yang dilakukan selama 5, 10, bahkan 30 tahun ke depan. Di ujung lembar kerja tersebut, aku menulis bahwa aku akan jadi “profesor bidang psikolinguistik.” Jika dilihat 7 tahun setelah aku menuliskan hal tersebut, “profesor bidang psikolinguistik” sudah bukan lagi jadi hal yang aku inginkan dan bukan pula jalur karir yang aku tempuh sekarang. Aku yakin, di antara sekitar 5000 mahasiswa yang waktu itu mengisi lembar kerja yang sama, hanya segelintir saja yang masih menjalankan apa yang mereka tulis di sana. Sisanya, kalau bukan prioritasnya yang berubah ya berarti situasi hidupnya yang sudah berganti, sehingga rencana yang ditulis pun tidak relevan lagi. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

In word we trust