Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Bermimpi dan Berencana yang Sewajarnya

Sudah hampir setahun ini impian semua orang jadi bulan-bulanan. Ada yang berencana liburan, ternyata malah tidak bisa keluar rumah. Ada pula yang ingin beli rumah, tapi tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Aku sendiri punya target-target buat tahun 2020 ini, tapi kebanyakan sudah kepalang batal karena wabah Covid-19 yang mengacaukan rencana orang sedunia ini. Ini baru satu tahun saja, belum lagi tahun-tahun yang akan datang. Padahal, sudah ada rencana untuk jangka yang lebih panjang lagi. Maka, timbul pertanyaan ini: “Apakah masih penting punya impian dan rencana hidup di tengah masa yang serba tidak pasti ini? Kalaupun iya, bagaimana cara bermimpi dan berencana yang benar-benar bisa aku capai?”

Sebetulnya, dari sebelum ini pun aku sudah kurang percaya dengan konsep-konsep seperti “rencana hidup” atau “resolusi tahunan,” karena sudah terbukti buat diri sendiri kalau hal-hal yang begitu jarang terwujud secara sempurna. Waktu aku masih kuliah, pernah ada suatu sesi ala-ala ESQ tentang pengelolaan hidup dan perencanaan masa depan. Di pelatihan tersebut, semua mahasiswa baru disuruh menuliskan impian mereka segamblang-gamblangnya di atas sebuah lembar kerja. Yang ditulis bukan hanya cita-citanya saja, tapi juga langkah-langkah yang dilakukan selama 5, 10, bahkan 30 tahun ke depan. Di ujung lembar kerja tersebut, aku menulis bahwa aku akan jadi “profesor bidang psikolinguistik.” Jika dilihat 7 tahun setelah aku menuliskan hal tersebut, “profesor bidang psikolinguistik” sudah bukan lagi jadi hal yang aku inginkan dan bukan pula jalur karir yang aku tempuh sekarang. Aku yakin, di antara sekitar 5000 mahasiswa yang waktu itu mengisi lembar kerja yang sama, hanya segelintir saja yang masih menjalankan apa yang mereka tulis di sana. Sisanya, kalau bukan prioritasnya yang berubah ya berarti situasi hidupnya yang sudah berganti, sehingga rencana yang ditulis pun tidak relevan lagi.

Memang merencanakan hidup itu hal yang sulit sekali, tapi banyak orang yang menganggap seolah-olah ini hal yang mudah dilakukan. Mengapa? Pertama, orang tidak tahu apa yang mereka mau, tapi merasa bahwa mereka tahu. Misalnya, orang yang tidak pernah main musik mungkin akan merasa mereka akan jadi musisi yang hebat seandainya mereka diberi kesempatan melakukan hal tersebut. Tapi, kalaupun diberi kesempatan, mereka akan sadar bahwa menjadi musisi yang betul-betul stand out dan dikenal orang banyak itu kansnya sangat-sangat kecil. Lalu, alasan kedua: masa depan itu tidak bisa diramalkan dengan cara apapun, tapi orang merasa bahwa mereka bisa tahu kejadian yang akan datang. Misalnya, beberapa tahun lalu banyak orang masuk jurusan pertambangan karena berpikiran bahwa bekerja di bidang oil and gas akan mendatangkan banyak keuntungan sebab harga komoditasnya sangat tinggi. Namun, satu-dua tahun belakangan kita melihat bahwa harga minyak jatuh habis-habisan, bahkan sempat menyentuh harga minus. Otomatis, posisi-posisi di perusahaan-perusahaan komoditas perminyakan ini berkurang dan prospeknya pun jadi tidak secerah yang dikira orang dulu.

Kalau ternyata membuat rencana hidup sesusah dan setidak efektif itu, masih bergunakah kalau kita punya rencana dan impian? Menurutku, masih! Memang kita tidak bisa merencanakan setiap hal yang akan terjadi dalam hidup. Namun, kita perlu belajar bermimpi dan berencana secara wajar, tidak berlebih-lebihan. Berikut 3 cara yang menurutku perlu untuk dicoba memasuki tahun 2021 besok:

1. Ganti “resolusi tahunan” jadi “tema tahunan”

Banyak resolusi tahunan yang berakhir gagal. Aku sendiri tidak pernah berhasil menerapkan resolusi tahunan yang aku buat sendiri, sedetil dan sematang apapun perencanaannya. Ternyata, ada satu trik sederhana dari Youtuber CGPGrey di video berikut:

Karena menetapkan target itu sulit dan susah diikuti secara konsisten, cara yang lebih mudah adalah menetapkan tema tahunan. Tema ini bisa seperti “tahun membaca”, “tahun kesehatan”, atau “tahun belajar.” Jadi, kita masih bisa menetapkan arah yang kita mau tanpa harus terkekang dengan resolusi yang bisa jadi bagus di perencanaannya tapi susah diselesaikan kalau ada situasi yang tidak diperkirakan dari awal (misalnya, Covid-19). Selain itu, sistem “tema tahunan” juga bisa lebih efektif karena kita bisa menjalankannya dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya kecil dan spontan. Misalnya, ketika mau pulang kantor tapi ternyata terjebak hujan badai, kita bisa melakukan kegiatan sesuai tema yang kita “pasang” di awal tahun. Kalau tema tahunannya adalah “tahun membaca”, mungkin waktu menunggu itu bisa diisi dengan membuka buku alih-alih media sosial. Kalau tema tahunannya adalah “tahun kesehatan”, bisa jadi waktu kosong itu dipakai untuk olahraga ringan seperti pemanasan atau meregangkan badan.

Dengan memasang tema sebagai pengganti target, kita jadi punya motivasi untuk melakukan perubahan pada diri sendiri, namun tidak perlu merasa terbebani dengan target yang sifatnya terlalu sempit dan mungkin tidak bisa diubah kalau keadaan tidak memungkinkan.

2. Ganti target menjadi kebiasaan

Seperti yang sudah banyak dibahas sebelumnya, target itu bisa jadi susah sekali untuk dicapai baik karena orangnya sendiri yang tidak sempurna dalam merencanakan atau semata-mata karena situasi di luar sana yang bisa mengacaukan target yang sudah dibuat. Oleh karena itu, ada cara lain yang lebih ramah terhadap ketidakpastian yaitu membuat sistem atau kebiasaan alias habit yang bisa kita terapkan pada diri sendiri secara konsisten.

Sebagai contoh, target “aku harus baca 30 buku di tahun 2021” bisa diganti dengan mencoba “membaca buku 30 menit sebelum tidur.” Tentu, mengubah kebiasaan atau membuat kebiasaan baru sama sekali tidak gampang. Bisa jadi di satu hari, kita bisa membaca buku berjam-jam, sementara di waktu yang lain kita bisa tidak punya waktu sama sekali. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk membangun dan mencoba melakukan kebiasaan baru. Walaupun ada kalanya kita gagal, tapi selalu akan ada kesempatan untuk mencoba kembali membuat kebiasaan baru itu. Lain halnya dengan target. Semakin lama kita tidak mencapai target, semakin turun juga motivasi buat mencapainya. Misalkan, jika kita pasang target membaca 30 buku di tahun 2021 dan pada bulan Juni baru tercapai 5 buku, maka bakal kelihatan sangat berat buat “menebus” sisa 25 buku lagi di paruh akhir tahun itu.

Ada bacaan yang bagus di blog Farnam Street tentang perbandingan target/goals dengan kebiasaan/habits dan mengapa kita harus beralih pada membuat kebiasaan.

3. Ganti passion menjadi skill

Membahas soal passion ini butuh waktu yang amat panjang. Alasan utamanya karena kita tidak pernah benar-benar sepakat soal apa itu passion. Namun, untuk menyingkat waktu, kita anggap saja passion itu suatu pekerjaan atau kegiatan yang sesuai dengan “bakat terpendam” yang dimiliki orang, dan pekerjaan atau kegiatan inilah yang akan membawa kepuasan dalam hidup.

Ceramah Cal Newport, yang menulis buku So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love. Buku inilah yang membuatku sadar bahwa passion itu bukan ukuran yang baik untuk menentukan keberhasilan hidup.

Di luaran, kita sering mendengar kalimat motivasi dan nasihat follow your passion, follow your dream, dan sebagainya yang intinya menyuruh kita untuk mengejar satu tujuan yang membuat hati menggebu-gebu. Ini kelihatannya resep yang masuk akal. Namun, ada masalah besar soal nasihat ini. Pertama, passion tidak selalu menjadi sumber kepuasan dalam hidup. Banyak orang mengorbankan sedemikian banyak aspek kehidupan yang lainnya semata-mata untuk mengejar passion. Kedua, passion bukanlah satu-satunya tujuan hidup melainkan hanya salah satu perasaan yang bisa datang dan pergi. Renungan soal ini digambarkan dengan sangat baik dalam film Disney Pixar di ujung 2020 ini yang berjudul Soul.

Alih-alih passion, kita bisa menjadikan skill atau keahlian sebagai tolok ukur keberhasilan dalam hidup kita. Tidak peduli apakah kita jadi penari, pelukis, pembalap motor, pemilik warung, dosen, guru, tentara, dokter, apoteker, tukang sepatu, atau lainnya, akan muncul suatu perasaan puas apabila kita merasa memiliki keahlian atas hal yang kita kerjakan, yang pada akhirnya menjadikan kita merasa punya kendali atas hidup. Yang jadi kunci adalah bahwa sebetulnya skill apapun yang kita punya tidak menjadi soal selama kita dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna menggunakan kemampuan yang kita kuasai (baik bermakna dalam bentuk uang, pengakuan orang lain, maupun kepuasan diri sendiri).

Selain itu, dengan penguasaan skill orang dapat belajar untuk mencintai apa yang mereka kerjakan. Salah satu contohnya, mungkin ada orang yang awalnya tidak cocok menjadi programmer komputer karena tidak pernah familiar dengan aktivitas seperti berfikir algoritmis atau mengerjakan coding. Akan tetapi, jika orang ini banyak belajar maka lambat-laun programming skills-nya akan membaik sehingga ia tidak lagi merasa terlalu terbebani dengan pekerjaannya. Malah, jika ia dapat merasa puas dengan hasil kerjanya, bisa jadi akan timbul passion atas apa yang dia lakukan. Kalau kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta datang karena sudah terbiasa.

Tentu, tidak semua skill itu dapat membarikan rasa bermakna dan tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan skill sebaik-baiknya. Namun, setidaknya skill adalah patokan yang lebih dapat diandalkan untuk mengukur pencapaian diri sendiri karena ia lebih mudah diukur dan lebih konstan sifatnya daripada passion yang bisa jadi berubah seiring waktu atau seiring kita menghabiskan waktu untuk mengejarnya.

Ada presentasi yang sangat bagus dari Scott Adams, pengarang komik Dilbert tentang kenapa kita jangan sampai terjebak pada kata passion dan mengapa membangun sistem buat diri sendiri lebih baik ketimbang menyusun serangkaian target. Berikut tayangannya:

Di tahun 2021 yang sebentar lagi datang, bermimpi dan berencana untuk hidup itu sah-sah saja, bahkan harus! Namun, kita perlu perhatikan hal-hal yang kita patok untuk diri sendiri agar kita tetap dapat merasa termotivasi dan tidak terkungkung oleh tali-temali yang kita pasang sendiri. Pada dasarnya, impian dan rencana hanyalah alat berpikir yang kita pakai untuk memacu diri menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Bisa jadi ada halangan dan tantangan yang sebelumnya tak terkirakan. Namun, dengan impian dan rencana yang diatur sewajarnya seperti cara-cara yang dibahas di atas, semangat untuk maju ke arah yang baik bisa kita pelihara. Cuplikan puisi ini mungkin bisa menggambarkan seperti apa mimpi dan rencana yang wajar itu:

Selamat jalan, 2020! Selamat datang, 2021! Happy New Year!

1 Comment

Pindah

Setelah sempat pindah blog, sekarang aku pindah alamat lagi ke:

antariksakh.com

Bagi yang sebelumnya sudah follow http://antariksakh.wordpress.com, bisa follow di alamat yang baru ini karena rencananya semua kegiatan posting-memposting akan dilakukan di alamat ini. Sementara itu, blog antariksakh yang di WordPress.com nantinya akan disembunyikan dari publik sebelum akhirnya di-private atau dihapus. Ini karena semua postingannya sudah dipindah ke antariksakh.com. Jadi, ini kulakukan agar Google mau mengindeks blog yang baru ini dan tidak menganggapnya sebagai jiplakan.

With that said, I really hope to see you around!

Ngomong-ngomong, kenapa sekarang pakai domain dan storage berbayar?

  1. Pengen kebebasan dalam mengatur dan mengkustomisasi tampilan web, sekalian belajar HTML/CSS yang sudah sangat lama keulur-ulur
  2. Aku ngeblog ini kalau dihitung-hitung sudah 11 tahun lamanya. Walaupun sekarang hampir semua orang nggak lagi nulis di blog, tapi aku percaya bahwa format komunikasi online ini masih yang paling baik dan paling jernih. Intinya sih, aku pengen ada ruang untuk menuangkan pikiran tanpa harus terganggu kebisingan dunia perkontenan dan keributan serta per-buzzer-an dan per-anon-an yang nggak penting di media-media sosial kayak Twitter dan Instagram. Nggak ada batasan juga sehingga aku bisa bagikan apapun yang aku mau tanpa terhimpit jumlah karakter, ukuran gambar, atau attention span orang di media sosial yang amat pendek.
  3. Ke depannya, mungkin akan ada konten yang sifatnya lebih beragam dan menuntut custom features di web berbayar, misalnya posting data hasil penelitian, visualisasi, grafis, yang nggak akan bisa dimuat di blog WordPress.com biasa. Ya, ini bukan janji sih, tapi semoga aja bisa dilakukan.

Ngomong-ngomong lagi, sebetulnya blog yang baru ini nanti akan diniatkan buat apa? Rata-rata orang yang punya website pribadi dan berbayar biasanya pakai web-nya buat memajang portofolio karya atau buat cari duit (Adsense and whatnot).

Tapi aku sendiri masih membuat web antariksakh.com ini utamanya sebagai blog, sebagai tempat curhat. Aku ingat di tahun 2004 aku mulai kenal konsep blog yang merupakan singkatan dari web log di satu artikel kecil di majalah XY Kids. Artikel tadi memberi pengertian (tentunya dengan mengingat segmennya yang anak-anak) bahwa nulis di blog itu sama dengan nulis di diary atau buku harian, tapi isinya akan bisa dibaca orang lain. At that time, my 9-year old me thought that the whole concept is silly. Buku harian itu kan rahasia? Isinya mungkin hal-hal yang malu kita ceritakan secara langsung ke orang lain. Masak kita mau bagikan ke orang lain? Tapi, seiring waktu aku menemukan orang-orang hebat yang membagikan pikiran dan perasaannya lewat blog, semuanya dengan tulus dan tanpa dibuat-buat. Their sincerity and insight simply moved me. Dan akhirnya, mereka-mereka inilah yang menggugahku untuk melakukan hal yang sama.

Sure, it might be a liability for me should I happen to change my opinion about things later in life or should I make really stupid statements that I would later regret. Writing our thoughts and feelings and letting everyone know would only serve to show our vulnerability. But hey, to be vulnerable and pathetic is to be human, isn’t it? This blog will be my attempt at being as sincere as possible while also maintaining decency. I regard sincerity as something important and yet lacking in this social media-laden world where people write and create content to impress others, to make people like them. In blogging, people don’t have that pretension (well, except when they are trying to monetize their blogs, which is not really worth the effort nowadays due to lack of readers and more profitable monetization avenues such as YouTube and Instagram ads/paid promotes). People blog just to express themselves, and that raw form of expression should be something that we treasure as human beings.

Anyway, di samping tujuan yang kelihatan muluk tadi aku juga akan bagikan beberapa konten yang mungkin bisa dianggap portofolio atau tulisan-tulisan yang lebih serius nantinya. Tapi itu kalau ada bahan yang bisa dibagikan. Mudah-mudahan sih ada.

Jadi, mudah-mudahan teman-teman masih akan mau baca dan jadi teman ngeblogku sekarang dan nanti. Terima kasih sudah membaca dan mari saling membaca!

Leave a Comment

Quarter

It’s been a quarter. But a quarter to what, exactly?

Let’s just start with the basic description of how I am right now:

  • Not in a constant distress, just a routine that sometimes becomes boring
  • Having a good time, but not exactly devoid of any good work
  • Meeting people, but not being attached to them

I have been through things. But to what end they are for, I’m still deciding and waiting for things to unfold.

I just stop expecting anything to happen; I just focus on doing things on my own. Everything that is unfolding and will unfold before me, they are not for me to decide. As long as I know what to do, I think I’ll be fine. Just don’t attach whatever you do into any kind of reward/event that you expect to happen. Whatever is yours will be yours, as long as you happen to meet the conditions. I just need climb towards it with every might I could muster.

“Do things, but don’t make things happen” is what my conscience tells me.

Anyone who is around my age must have heard a lot about quarter-life crisis by now. But come to think of it, haven’t you noticed that this term is somewhat presumptuous? They’re talking about a quarter of our lives as if we’re going to live to eighty or a hundred years. Yes, I read somewhere that a third of humans born after 2000 will live become centenarians, namely people who will have a 100th birthday. But do we have the right to be sure about that? Well, in any case, there seems to be a great number of young adults who suffer from this lack of direction or meaning in their lives. Including me, or maybe you. We have so much to figure out in our brief lives.

What can we do to find meaning? The late psychiatrist Viktor Frankl outlines in his book Man’s Search for Meaning the three ways to meaning:

  1. Creating a work or doing something
  2. Meeting someone and doing things for them
  3. Strengthening yourself in the face of suffering

Let’s talk about these three things. Have I gained meaning from them so far? I’m going to start backwards.

Resilience

For reasons I won’t go into in this writeup, I don’t like my childhood years that much. There were a lot of hard lessons that I had to take and bitter-tasting medicine I had to taste. Sure, they were not Holocaust-level horrors like Viktor Frankl once suffered. But for me, the growing pains were real and they were exactly why I transformed into (I think) a completely different sort of person by now.

I still think I’m missing out on many things. Instead of the joy of childhood, I got myself staring into the abyss. Instead of the playfulness of an adolescent, I sank towards the valley of fear and trembling. In exchange, though, I think I’ve become a more resilient person thanks to these experiences. Broadly speaking, my life these past two and a half decades has taken a path from miserable in my childhood years, terrible during my adolescent years, and then dull and stressful but with many sprinkles of pleasure during this young adult phase (so far). There have still been and there will be things that I had to learn the hard way, but thankfully I’m now in a much better shape to take them head-on.

Attachment

Actually, Viktor Frankl didn’t talk very much about finding someone you love. Maybe it was not much of interest for him. This is a rather difficult subject for me to write about, especially here. But let’s just gloss over the basic ideas I have about it:

  1. It’s kind of useless to talk about love (re: my post about the Djalan Sampoerna manuscript or my attempted translation of a D.H. Lawrence’s poem) because people think about it in wildly different ways
  2. Instead, we can talk about attachment and the need to be attached to others (as per Jacques Lacan’s conception of need)
  3. This is not my attempt to a pessimist or a cynic. In order to settle the matters of heart, we need to have a good understanding of it, and that can only be reached by using the words that can describe our feelings accurately and without any ambiguities. Love is ambiguous; attachment and need are not. As the late Mr. Rogers once spoke, “Feelings that are mentionable are actionable.”

Work

I deem myself to be lucky. I took up college studies in the humanities, and everywhere jobs are so scarce in this sector. Many people I know had to take jobs completely unrelated to the humanities, nothing in common at all with what they were passionate about in their early days. Yet here I am, far from home but doing the work that I think to be important as a humanities-minded person.

So far, money hasn’t become an issue for me. Many people work so they are able to live, but at this moment I live to work. I believe in the value of my work and I think that it helps me grow. It’s enough reason for me to continue doing this despite other people’s skepticisms that I have to swallow.

I am no believer in the advice of follow your passion. Let’s face it: not all passions make money. We can all do the things we love, but those things we love doing don’t always make us better people in the long run, especially in financial terms. This is a fact that rings truer in some work areas, such as the humanities. There’s a really cool book about this, titled So Good They Can’t Ignore You. The writer Cal Newport emphasizes that passion is not a good predictor at all to work success. You might even end up hating your job after the fire of passion has dimmed. Instead, he suggests to find something that is doable and money-making that you can learn to accomplish, then stick on it while trying to improve continuously. Choose a profitable line of work, then learn so much so you can be so good they can’t ignore you. He then outlined the steps to achieve this brand of career fulfillment. In the end, if you can master your work, you will grow a love of it. In Javanese terms, we can speak of this kind of love of work as witing tresno jalaran soko kulino (which can be translated as “love comes from being familiar”).

It’s easy to dislike something that has become ordinary to you. Work is that kind of thing. But if you have grown to love it, you’ll be free from dread and anxiety that comes from work. Even if you think that the work is stressful, you’ll always find reason to come back to it.

And today, on a Sunday, I’m going to my office to work.

What’s next?

As I said before, currently I just focus on doing things. I’m still waiting for things to unfold. There are big plans, but I think I won’t worry about them for the next few months, or even for the next few years for some of these plans. As one line of the opening song in Hamilton put it:

There’s a million things I haven’t done,
But just you wait!

Leave a Comment
In word we trust