Skip to content

Month: December 2020

Bermimpi dan Berencana yang Sewajarnya

Apa nasibnya impian yang tak kesampaian?

Akankah ia jadi kering
Layaknya biji anggur yang dijemur?
Atau jadi nanah dalam luka
yang menjalar ke mana-mana?
Apakah baunya menusuk seperti daging busuk?
Atau jadi gumpalan dan getah
dalam manisan yang sudah basi?

Mungkin ia hanya akan jadi beban
yang melemahkan badan.

Atau, jangan-jangan, ia bakal meledak?

(terjemahan bebas puisi Harlem karya Langston Hughes, dibuat sendiri)

Sudah hampir setahun ini impian semua orang jadi bulan-bulanan. Ada yang berencana liburan, ternyata malah tidak bisa keluar rumah. Ada pula yang ingin beli rumah, tapi tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Aku sendiri punya target-target buat tahun 2020 ini, tapi kebanyakan sudah kepalang batal karena wabah Covid-19 yang mengacaukan rencana orang sedunia ini. Ini baru satu tahun saja, belum lagi tahun-tahun yang akan datang. Padahal, sudah ada rencana untuk jangka yang lebih panjang lagi. Maka, timbul pertanyaan ini: “Apakah masih penting punya impian dan rencana hidup di tengah masa yang serba tidak pasti ini? Kalaupun iya, bagaimana cara bermimpi dan berencana yang benar-benar bisa aku capai?”

Sebetulnya, dari sebelum ini pun aku sudah kurang percaya dengan konsep-konsep seperti “rencana hidup” atau “resolusi tahunan,” karena sudah terbukti buat diri sendiri kalau hal-hal yang begitu jarang terwujud secara sempurna. Waktu aku masih kuliah, pernah ada suatu sesi ala-ala ESQ tentang pengelolaan hidup dan perencanaan masa depan. Di pelatihan tersebut, semua mahasiswa baru disuruh menuliskan impian mereka segamblang-gamblangnya di atas sebuah lembar kerja. Yang ditulis bukan hanya cita-citanya saja, tapi juga langkah-langkah yang dilakukan selama 5, 10, bahkan 30 tahun ke depan. Di ujung lembar kerja tersebut, aku menulis bahwa aku akan jadi “profesor bidang psikolinguistik.” Jika dilihat 7 tahun setelah aku menuliskan hal tersebut, “profesor bidang psikolinguistik” sudah bukan lagi jadi hal yang aku inginkan dan bukan pula jalur karir yang aku tempuh sekarang. Aku yakin, di antara sekitar 5000 mahasiswa yang waktu itu mengisi lembar kerja yang sama, hanya segelintir saja yang masih menjalankan apa yang mereka tulis di sana. Sisanya, kalau bukan prioritasnya yang berubah ya berarti situasi hidupnya yang sudah berganti, sehingga rencana yang ditulis pun tidak relevan lagi.

Memang merencanakan hidup itu hal yang sulit sekali, tapi banyak orang yang menganggap seolah-olah ini hal yang mudah dilakukan. Mengapa? Pertama, orang tidak tahu apa yang mereka mau, tapi merasa bahwa mereka tahu. Misalnya, orang yang tidak pernah main musik mungkin akan merasa mereka akan jadi musisi yang hebat seandainya mereka diberi kesempatan melakukan hal tersebut. Tapi, kalaupun diberi kesempatan, mereka akan sadar bahwa menjadi musisi yang betul-betul stand out dan dikenal orang banyak itu kansnya sangat-sangat kecil. Lalu, alasan kedua: masa depan itu tidak bisa diramalkan dengan cara apapun, tapi orang merasa bahwa mereka bisa tahu kejadian yang akan datang. Misalnya, beberapa tahun lalu banyak orang masuk jurusan pertambangan karena berpikiran bahwa bekerja di bidang oil and gas akan mendatangkan banyak keuntungan sebab harga komoditasnya sangat tinggi. Namun, satu-dua tahun belakangan kita melihat bahwa harga minyak jatuh habis-habisan, bahkan sempat menyentuh harga minus. Otomatis, posisi-posisi di perusahaan-perusahaan komoditas perminyakan ini berkurang dan prospeknya pun jadi tidak secerah yang dikira orang dulu.

Kalau ternyata membuat rencana hidup sesusah dan setidak efektif itu, masih bergunakah kalau kita punya rencana dan impian? Menurutku, masih! Memang kita tidak bisa merencanakan setiap hal yang akan terjadi dalam hidup. Namun, kita perlu belajar bermimpi dan berencana secara wajar, tidak berlebih-lebihan. Berikut 3 cara yang menurutku perlu untuk dicoba memasuki tahun 2021 besok:

1. Ganti “resolusi tahunan” jadi “tema tahunan”

Banyak resolusi tahunan yang berakhir gagal. Aku sendiri tidak pernah berhasil menerapkan resolusi tahunan yang aku buat sendiri, sedetil dan sematang apapun perencanaannya. Ternyata, ada satu trik sederhana dari Youtuber CGPGrey di video berikut:

Karena menetapkan target itu sulit dan susah diikuti secara konsisten, cara yang lebih mudah adalah menetapkan tema tahunan. Tema ini bisa seperti “tahun membaca”, “tahun kesehatan”, atau “tahun belajar.” Jadi, kita masih bisa menetapkan arah yang kita mau tanpa harus terkekang dengan resolusi yang bisa jadi bagus di perencanaannya tapi susah diselesaikan kalau ada situasi yang tidak diperkirakan dari awal (misalnya, Covid-19). Selain itu, sistem “tema tahunan” juga bisa lebih efektif karena kita bisa menjalankannya dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya kecil dan spontan. Misalnya, ketika mau pulang kantor tapi ternyata terjebak hujan badai, kita bisa melakukan kegiatan sesuai tema yang kita “pasang” di awal tahun. Kalau tema tahunannya adalah “tahun membaca”, mungkin waktu menunggu itu bisa diisi dengan membuka buku alih-alih media sosial. Kalau tema tahunannya adalah “tahun kesehatan”, bisa jadi waktu kosong itu dipakai untuk olahraga ringan seperti pemanasan atau meregangkan badan.

Dengan memasang tema sebagai pengganti target, kita jadi punya motivasi untuk melakukan perubahan pada diri sendiri, namun tidak perlu merasa terbebani dengan target yang sifatnya terlalu sempit dan mungkin tidak bisa diubah kalau keadaan tidak memungkinkan.

2. Ganti target menjadi kebiasaan

Seperti yang sudah banyak dibahas sebelumnya, target itu bisa jadi susah sekali untuk dicapai baik karena orangnya sendiri yang tidak sempurna dalam merencanakan atau semata-mata karena situasi di luar sana yang bisa mengacaukan target yang sudah dibuat. Oleh karena itu, ada cara lain yang lebih ramah terhadap ketidakpastian yaitu membuat sistem atau kebiasaan alias habit yang bisa kita terapkan pada diri sendiri secara konsisten.

Sebagai contoh, target “aku harus baca 30 buku di tahun 2021” bisa diganti dengan mencoba “membaca buku 30 menit sebelum tidur.” Tentu, mengubah kebiasaan atau membuat kebiasaan baru sama sekali tidak gampang. Bisa jadi di satu hari, kita bisa membaca buku berjam-jam, sementara di waktu yang lain kita bisa tidak punya waktu sama sekali. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk membangun dan mencoba melakukan kebiasaan baru. Walaupun ada kalanya kita gagal, tapi selalu akan ada kesempatan untuk mencoba kembali membuat kebiasaan baru itu. Lain halnya dengan target. Semakin lama kita tidak mencapai target, semakin turun juga motivasi buat mencapainya. Misalkan, jika kita pasang target membaca 30 buku di tahun 2021 dan pada bulan Juni baru tercapai 5 buku, maka bakal kelihatan sangat berat buat “menebus” sisa 25 buku lagi di paruh akhir tahun itu.

Ada bacaan yang bagus di blog Farnam Street tentang perbandingan target/goals dengan kebiasaan/habits dan mengapa kita harus beralih pada membuat kebiasaan.

3. Ganti passion menjadi skill

Membahas soal passion ini butuh waktu yang amat panjang. Alasan utamanya karena kita tidak pernah benar-benar sepakat soal apa itu passion. Namun, untuk menyingkat waktu, kita anggap saja passion itu suatu pekerjaan atau kegiatan yang sesuai dengan “bakat terpendam” yang dimiliki orang, dan pekerjaan atau kegiatan inilah yang akan membawa kepuasan dalam hidup.

Ceramah Cal Newport, yang menulis buku So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love. Buku inilah yang membuatku sadar bahwa passion itu bukan ukuran yang baik untuk menentukan keberhasilan hidup.

Di luaran, kita sering mendengar kalimat motivasi dan nasihat follow your passion, follow your dream, dan sebagainya yang intinya menyuruh kita untuk mengejar satu tujuan yang membuat hati menggebu-gebu. Ini kelihatannya resep yang masuk akal. Namun, ada masalah besar soal nasihat ini. Pertama, passion tidak selalu menjadi sumber kepuasan dalam hidup. Banyak orang mengorbankan sedemikian banyak aspek kehidupan yang lainnya semata-mata untuk mengejar passion. Kedua, passion bukanlah satu-satunya tujuan hidup melainkan hanya salah satu perasaan yang bisa datang dan pergi. Renungan soal ini digambarkan dengan sangat baik dalam film Disney Pixar di ujung 2020 ini yang berjudul Soul.

Alih-alih passion, kita bisa menjadikan skill atau keahlian sebagai tolok ukur keberhasilan dalam hidup kita. Tidak peduli apakah kita jadi penari, pelukis, pembalap motor, pemilik warung, dosen, guru, tentara, dokter, apoteker, tukang sepatu, atau lainnya, akan muncul suatu perasaan puas apabila kita merasa memiliki keahlian atas hal yang kita kerjakan, yang pada akhirnya menjadikan kita merasa punya kendali atas hidup. Yang jadi kunci adalah bahwa sebetulnya skill apapun yang kita punya tidak menjadi soal selama kita dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna menggunakan kemampuan yang kita kuasai (baik bermakna dalam bentuk uang, pengakuan orang lain, maupun kepuasan diri sendiri).

Selain itu, dengan penguasaan skill orang dapat belajar untuk mencintai apa yang mereka kerjakan. Salah satu contohnya, mungkin ada orang yang awalnya tidak cocok menjadi programmer komputer karena tidak pernah familiar dengan aktivitas seperti berfikir algoritmis atau mengerjakan coding. Akan tetapi, jika orang ini banyak belajar maka lambat-laun programming skills-nya akan membaik sehingga ia tidak lagi merasa terlalu terbebani dengan pekerjaannya. Malah, jika ia dapat merasa puas dengan hasil kerjanya, bisa jadi akan timbul passion atas apa yang dia lakukan. Kalau kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta datang karena sudah terbiasa.

Tentu, tidak semua skill itu dapat membarikan rasa bermakna dan tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan skill sebaik-baiknya. Namun, setidaknya skill adalah patokan yang lebih dapat diandalkan untuk mengukur pencapaian diri sendiri karena ia lebih mudah diukur dan lebih konstan sifatnya daripada passion yang bisa jadi berubah seiring waktu atau seiring kita menghabiskan waktu untuk mengejarnya.

Ada presentasi yang sangat bagus dari Scott Adams, pengarang komik Dilbert tentang kenapa kita jangan sampai terjebak pada kata passion dan mengapa membangun sistem buat diri sendiri lebih baik ketimbang menyusun serangkaian target. Berikut tayangannya:

Di tahun 2021 yang sebentar lagi datang, bermimpi dan berencana untuk hidup itu sah-sah saja, bahkan harus! Namun, kita perlu perhatikan hal-hal yang kita patok untuk diri sendiri agar kita tetap dapat merasa termotivasi dan tidak terkungkung oleh tali-temali yang kita pasang sendiri. Pada dasarnya, impian dan rencana hanyalah alat berpikir yang kita pakai untuk memacu diri menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Bisa jadi ada halangan dan tantangan yang sebelumnya tak terkirakan. Namun, dengan impian dan rencana yang diatur sewajarnya seperti cara-cara yang dibahas di atas, semangat untuk maju ke arah yang baik bisa kita pelihara. Cuplikan puisi ini mungkin bisa menggambarkan seperti apa mimpi dan rencana yang wajar itu:

Jika kamu bisa menjaga akalmu, saat semua orang kehilangan akal dan menyalahkanmu,
Jika kamu bisa percaya pada dirimu sendiri di saat semua orang meragukanmu, namun tetap menerima keraguan mereka,
Jika kamu dapat bermimpi tanpa membuatnya jadi raja,
Jika kamu mampu menghadapi kemenangan maupun bencana, lalu memperlakukan keduanya sama rata,

Maka untukmulah dunia dan semua yang ada di dalamnya
Dan lebih lagi, kamu akan menjadi seorang manusia

(Terjemahan bebas puisi If karya Rudyard Kipling, ditulis sendiri)

Selamat jalan, 2020! Selamat datang, 2021! Happy New Year!

Leave a Comment