Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Egois

Banyak orang mengatakan sifat egois itu buruk. Orang yang egois selalu mengutamakan dirinya sendiri dan ingin agar situasi menguntungkan dirinya. Entah sudah berapa orang yang bilang kalau aku egois. Meski nadanya memvonis, tapi tuduhan mereka tidak salah.

Tapi aku belum bisa menerima bahwa egois itu sifat yang buruk. Egois itu sifat alami manusia. Hal yang pertama kali disadari oleh manusia adalah dirinya sendiri. Dan kesadaran ini yang membuat manusia dibedakan dari hewan (meski secara biologis, manusia tetap termasuk hewan). Karena punya kesadaran diri, seharusnya orang memikirkan tentang dirinya dahulu sebelum memikirkan hal lain di sekitarnya. Menghilangkan sifat egois sama saja dengan mencabut kesadaran dari benak kita sendiri.

Kenyataannya, egois bukan lawan kata dari rela berkorban. Orang yang memikirkan dirinya sendiri belum tentu tidak sudi berkorban untuk orang lain. Tapi sebelum menolong orang lain, ia harus menolong diri sendiri dulu. Banyak orang yang dicap egois hanya karena ia berusaha menolong dirinya sendiri. Kita memang tidak boleh bersikap tak acuh pada orang lain. Tapi bagaimanapun juga, siapa yang paling tahu soal kita kalau bukan diri kita sendiri?

4 Comments

2005 dan 2007

[2005]

Sukses adalah cita-cita atau impian yang mengkristal menjadi tujuan.Yang dijabarkan menjadi rencana dan dilaksanakan dengan kerja keras, keuletan, niat baik, dan keyakinan.Karena keyakinan, aku menjadi sangat berani. Keberanian akan memberikan kekuatan sehingga aku bertarung sepenuh kekuatanku dan menang.

Aku akan berpikir bukan lamanya waktu yang aku gunakan, melainkan waktu yang aku gunakan untuk apa. Dan bukan yang aku lakukan yang bermakna, melainkan apa yang aku berikan untuk orang lain. Dalam mencapai tujuan, aku perlu bertindak dengan kelembutan hati. Sukses tidak selalu dibangun oleh upaya sendiri. Di balik semua pencapaian, terselip pengorbanan orang lain. Hanya bila aku melakukan dengan kebaikan hati, siapapun rela berkorban untuk keberhasilanku.

Kebesaranku tidak terlihat ketika aku berdiri dan memberi perintah. Tetapi ketika aku berdiri sama tinggi dengan orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari mereka untuk menjadi sukses. Inilah kepemimpinan yang sejati.

Jangan berharap bisa mencapai langkah keseribu apabila langkah pertama tidak dilakukan. Aku takkan pernah terlarut dan terbuai mimpiku. Aku akan bekerja dan terus berusaha. Dan di sinilah aku akan mengawali niat suciku, langkah pertamaku untuk menjadi seorang pemimpin.

[2007]

Aku adalah seorang manusia
yang bertujuan untuk hidup di dunia ini
Mencapai kemenangan, atas prestasi diri
Namun, bukan berarti sukses
Karena sukses adalah suatu hal yang sukar diraih
Butuh pengorbanan besar tuk mencapainya
Sukses bukan berasal dari diri sendiri
Melainkan atas bantuan dari orang-orang di sekitar kita
Yang mau merelakan waktu dan tenaganya
Untuk membantu mencapai cita-cita

Aku adalah seorang pemimpin
Yang selalu meminta pertolongan
Kepada Sang Penguasa di alam semesta
Yang selalu berkaca pada bayang-bayang hitam
Tuk menutupi bekas luka yang kelam

Pemimpin tidak hanya bicara, namun juga bekerja
Tidak hanya bekerja, namun berdo’a
Tidak hanya berdo’a namun berusaha
Karena dibalik semuanya tersimpan rahasia il’ahi

Aku hanya segumpal tanah
Yang diselimuti oleh tulang belulang
Dan diisi oleh darah yang mengalir
Namun aku tak boleh hanya diam
Aku harus berusaha mencapai yang ku inginkan
Aku akan terus belajar dan berusaha
Tuk menjadi pemimpin yang bijaksana
Karna tlah tertanam di hatiku
Dan aku yakin AKU BISA
AKU BISA

Leave a Comment

Allah Tidak Perlu Dibela?

Tuhan tidak perlu dibela, Dia Maha Perkasa. Artinya apa? Tinggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Maka semua para ulama itu melakukan hal yang keliru. Karena pada amar ma’ruf nahi munkar, dalam rangka membela Allah dan agama Allah. Dan artinya tinggalkan perintah Allah. “Intansullaha”, jika kamu menolong Allah [surat Muhammad (47) ayat 7]. Allah memuji orang yang menolong Allah dan Allah perintahkan agar menolong Allah, kok ini malah mengatakan, “jangan tolong Allah”.

Leave a Comment

Ayo!

bergegaslah, masih ada segenggam

malam tersisa

memang ini sudah malam

tapi sudah biasa

mumpung masih jam sepuluh

malam saat ini

ambillah segalanya untukmu

lalu buanglah sisanya ke dalam mimpi

bergegaslah, karena bantal telah menanti

segala keluh kesah yang kautinggal mati

setidaknya untuk saat ini

beban itu tak perlu dibawa ke sini

mumpung masih ada barang waktu

sebelum hatimu menjadi batu

karena tak semua orang punya itu

jatah jam tidur barang satu

Leave a Comment

Nggak Jelas

  1. Know your limits, but don’t limit yourself.
    1. This is not contradictory since the actual limits and the limits one makes against oneself is clearly different.
    2. The limits I’m writing here are limits that are beyond one’s control.
    3. I.e. the limits are what limits human as a finite being. E.g. the fact that we eat, we need rest, we die, etc.
    4. Believers and unbelievers alike will not reject the fact that human is a finite being. For believers, the limits are divine laws. And for unbelievers, it is just the way human is.
    5. Actually, the limits are the physical, psychological, and physiological limits of human.
    6. There is no way a human can be actually free since he has his limits. Even so, he must not further limit himself and strive to use the remaining freedom to fulfill his life.
  2. Sartre: we define who we are by choices we made.
    1. This is an example of existentialist philosophy. Existentialism holds that any kind of thought must start from the individual rather than the universal.
    2. Example: some philosophers stated that there is a universal, objective truth. But existentialits would say that truth only exist within an individual and is therefore subjective.
    3. The above statement is the explanation of the ‘existence precedes essence’ notion.
      1. Essence: the immaterial nature of things. E.g. what makes a human human.
      2. Existence: the fact that a thing exists. Obvious enough.
      3. Traditional philosophy holds that essence is more important than the essence. But existentialism reverses it.
      4. By saying that existence precedes essence, it is meant that human actually has no essence (or, no meaning) to begin with. People must go on by making choices in order to create their meaning.
Leave a Comment
In word we trust