Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

La Lutte Finale

I always thought that my struggle will soon come to an end. But what I expected was the end actually is the beginning of something new.

Because I am leveling up. And humans can’t stop leveling, aren’t they?

Leave a Comment

Joyce Carol Vincent

There’s this story of a woman. She died in 2003 and it took three years for anyone to notice that she’s been dead. She lived a perfectly normal life, with friends and career. She even said to have been shaken hands with Nelson Mandela. And yet, there’s no one to notice her upon her death.

It’s just terrifying to realize that we humans (or maybe some of us) has changed to such an individual creature. The modern way of life makes it possible for someone to live without having to be in contact with others. It’s ironic that when humanitarian activists called for universal brotherhood, more people are being cast off the society.

Let’s leave the ideological talk at that.

I sometimes feel disconnected from the world. Or rather, I disconnect myself from the world. There are times when I lost faith in people and kept a distance from them. It’s like a hedgehog who stays away from other hedgehogs out of fear that it might be hurt by others’ quills.

Maybe I’m a loner. Maybe it’s just me being selfish. I used to say, “someone who thinks that they have no friends actually have people around them.” But that alone is not enough. Even someone who has friends can die without anyone noticing (like the woman’s story I mentioned).

Then what? I’m still finding the answer.

What isn’t remembered never happened. If you aren’t remembered, then you never existed.

— from Serial Experiments Lain

2 Comments

UAS!

Tiga tahun di SMA ini bener-bener cepat. Apalagi kehidupanku selama ini banyak disedot kegiatan-kegiatan di luar pelajaran. Alhasil, di malam sebelum UAS seperti ini aku selalu harus ngebut materi satu semester. Apalagi kalau pelajarannya MIPA (yeah, natural sciences is just not for me).

Katanya sih, beban pelajaran di Indonesia itu termasuk yang paling berat di dunia. Berdasarkan dari cerita murid-murid sekolahku yang pernah ikut program sister-school, pelajaran di luar negeri memang lebih sedikit dan terfokus. Materi-materi yang diajarkan di Indonesia pun juga seringkali nggak tanggung-tanggung susah dan banyaknya.

Tapi, anehnya, nggak banyak siswa Indonesia yang berprestasi waktu ikut ujian internasional. Dengan sajian materi yang cenderung nggak berubah selama dua puluhan tahun, nyatanya kompetensi siswa Indonesia belum bisa mengimbangi siswa luar negeri. Jadi kenapa dengan materi yang boleh dibilang lebih unggul, kualitas lulusan sekolah di Indonesia masih rendah?

Yang jelas, aku harus belajar. Sekarang.

3 Comments

“Sekolah Lain-Lain”

Tadi pagi, aku melihat-lihat hasil tryout SMA RSBI yang diadakan sekolah hari minggu kemarin. Hari itu aku sempat bercakap-cakap dengan beberapa peserta tryout. Banyak yang ternyata berasal dari luar kota Surabaya. Meskipun pagu (jumlah diterima) yang disediakan untuk pendaftar sekolah dari luar kota hanya satu persen dari total pagu (SMA-ku berpagu 300, jadi kuota untuk siswa luar kota hanya 3 siswa saja), tapi sepertinya tidak mengurangi semangat mereka untuk tetap mengejar pendidikan di metropolitan ini. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang memiliki citra prestisius hanya tersedia di kota-kota tertentu. Sehingga tidak aneh jika banyak siswa luar kota yang mendaftarkan diri ke sekolah-sekolah RSBI.

Peringkat satu dan dua diraih oleh siswa dari salah satu SMP bergengsi (dan tentu juga RSBI) dalam kota. Bukan hal istimewa, namanya juga main di kandang sendiri. Peringkat 3 diraih oleh siswa yang berasal dari SMP Lain-Lain. Sebentar, SMP apa ini? Berdasarkan pengalamanku mengurus pengisian LJK di sebuah even lomba sekolah,  SMP Lain-Lain ini didapat karena sekolah asal dari peserta ini tidak mendapat kode sekolah untuk ditulis di LJK. Yang mendapat “gelar” seperti ini biasanya adalah sekolah yang bisa dibilang tidak begitu terdengar namanya atau yang mendaftarnya terlambat (tapi yang terlambatpun biasanya juga dari sekolah yang kurang terkenal). (Disclaimer: aku nggak tahu sistem pengerjaan tryout ini, dan cuma bisa mengira berdasarkan pengalaman.)

Beberapa hari silam, sempat ada pernyataan dari mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef tentang RSBI. Dalam pernyataan beliau yang dimuat di Detik, beliau mengatakan:

“RSBI dan SBI sama saja dengan menimbulkan kekastaan. Karena secara tidak langsung telah menyiapkan dua jenis kelompok yaitu, kelompok cerdas yang begitu rupa, dan kelompok kedua, adalah kelompok yang sekadar penonton belaka dalam pembangunan nasional. Ini jelas telah melanggar azas demokrasi pendidikan,”

Kata pengkastaan sering digunakan pengkritik RSBI ketika membandingkan sekolah RSBI dengan “sekolah lain-lain”. Sebagaimana dinyatakan oleh salah satu orang terkenal di era Orde Baru ini, RSBI menyebabkan pendidikan tidak merata. Siswa tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Ketimpangan pun pasti akan terjadi di kemudian hari. Sekolah RSBI akan semakin maju dengan lulusan-lulusan yang punya nama besar, sementara sekolah-sekolah lainnya hanya akan jalan di tempat dengan lulusan yang biasa-biasa saja.

Beberapa dari kita sepertinya sudah sering mendengar perkataan,  “kalau ada pahlawan lewat, harus ada yang bertepuk tangan di pinggir jalan“. Ibaratnya, RSBI  diprogram untuk menciptakan pahlawan sedangkan “sekolah lain-lain” hanya akan menciptakan orang-orang yang bertepuk tangan di pinggir jalan. Akan timbul kasta cerdik cendekia dan kasta rakyat biasa. Bukankah ini mirip dengan kondisi Bumiputera dengan rakyat jelata pada masa kolonial dulu? Mereka sama-sama bangsa Indonesia, tapi benar-benar berbeda peradabannya.

5 Comments
In word we trust