Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

936

Kucing dan Manusia

semua kucing

tahu

kapan harus berhenti mengeong

tak semua manusia

tahu

kapan harus berhenti bicara

Teori Sastra

asonansi

aliterasi

tahu isi

rasa terasi

Tentang Penulis yang Tak Kunjung Bertambah Dewasa

anak SD

menulis cerpen

anak SMP

menulis puisi

anak SMA

menulis fanfic

3 Comments

Air, Bunga, Susu

Aan baru saja tiba di rumahnya yang sedang kosong. Begitu masuk ke kamar, ia kaget bukan main melihat laptopnya basah kuyup oleh air. “Siapa yang numpahin ini?” katanya panik sambil agak marah. Meskipun sudah jelas-jelas rusak, ia masih saja mencoba menyalakan laptop itu. Tentu saja percuma. Aan melihat ke sekeliling meja bundar tempat laptopnya diletakkan, yang sebenarnya adalah meja makan. Di kasur yang terletak tepat di sebelah meja itu ia melihat vas bunga dari ruang tamunya beserta bunganya tergeletak sementara air di dalamnya habis.

Aan langsung menyimpulkan bahwa ini adalah perbuatan orang yang menyusup ke rumahnya. Ia mengecek setiap jendela dan pintu di rumahnya. Benar saja, ternyata pagar teralis besi di loteng rumah tidak terkunci. Untung saja, sepertinya tidak ada barang yang hilang dari rumahnya.

Sayangnya ia lupa untuk menyelamatkan laptopnya dari kerusakan yang lebih parah. Begitu ia ingat, laptop itu segera dibersihkan dan dijemur. Saat itu, Aan menyadari bahwa air yang ditumpahkan itu bukan air tawar. Ada sedikit bau susu yang bercampur. Ia heran, kenapa penyusup itu masuk ke rumahnya hanya untuk menyiram laptopnya dengan air bercampur susu.

Ya, benar. Ini latihan menerapkan strategi tiga kata.

Leave a Comment

09112010

Aku tahu bahwa langit impian itu tak berbatas, namun terhalang oleh atmosfer keraguan. Membiaskan cahaya harapan, menciptakan batas semu. Aku ingin melesat cepat bagai cahaya, menembus gugus-gugus galaksi tempat impian-impianku berkumpul dan berkilau. Kilau sinar reaksi fusi atom perjuangan dan mimpi. Di sini aku percaya bahwa realistis bukanlah pesimistis, namun realistis adalah melakukan hal terbaik di titik di mana aku berpijak.

Dan dari semua itu, hal yang paling indah dari pencapaian adalah pahit-manis perjuangan.

Entah kenapa waktu pertama kali hapal ini kerasanya panjang banget.

Leave a Comment

Ekspresi/Impresi

Mana yang lebih sesuai dengan dirimu, ekspresif atau impresif?

Waktu pertama kali ditanya ini, aku memilih impresif. Ya, jelaslah, karena aku bukan orang yang ekspresif. Aku tipe orang yang lebih suka dengan kesan daripada tindakan.

Eh, sebenarnya apa sih maksud pertanyaan ini? Ekspresif mencerminkan bahwa seseorang hanya tertarik untuk memperhatikan tindakan-tindakan yang dilakukannya. Sedangkan impresif berarti bahwa seseorang cenderung melihat apa yang dipikirkan orang lain atas tindakan-tindakannya. Singkatnya, orang yang ekspresif fokus pada tindakannya sedangkan orang yang impresif fokus pada kesan orang lain atas apa yang ia lakukan.

Ternyata kecendurang impresifku sangat kuat. Think before (you) act, kata orang. Memang, setiap hal yang dilakukan akan ada konsekuensinya. Tapi konsekuensi yang terpikir olehku selalu berupa pendapat orang. Jika aku melakukan sesuatu, aku pasti berpikir dalam-dalam bagaimana orang lain akan memandang pekerjaanku itu. Bisa saja mereka memuji, bersikap biasa, atau malah mencibir. Hal seperti inilah yang membuatku sering ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kadang, aku nggak melakukan hal yang seharusnya kulakukan karena keragu-raguan ini.

Kenapa SBY dibilang peragu? Menurut analis-analis politik (entah yang mana), SBY punya kecenderungan menjaga citra (image). Pak SBY selalu menjaga supaya impresi orang terhadap beliau tetap baik. Setiap ada permasalahan, Presiden selalu berhati-hati dalam membicarakannya. Dengan gaya bicara yang diplomatis dan tidak frontal, beliau berusaha menghindari ada pihak yang tersinggung. Tujuannya ya supaya citra sebagai Presiden yang santun tetap terjaga. Tapi ujung-ujungnya, Pak SBY malah dicap peragu dan tidak punya pendirian karena tidak bisa melakukan tindakan-tindakan yang radikal.

Kira-kira seperti itulah akibatnya berpendirian impresif. Aku sendiri menduga, Pak SBY sebenarnya punya rencana-rencana dan pemikiran yang bagus. Tapi ketika melaksanakannya, beliau harus berhadapan dengan orang-orang yang kontra terhadap rencananya. Dan ketika pihak kontra ini sudah berkelakar, tuduhan-tuduhan yang tidak baik akan beredar. Tentu sebagai seorang pemimpin negara, beliau tak ingin nama baiknya (yang mewakili negara) tercemar. Oleh karena itu Presiden mencoba bersikap tidak terlalu tegas dan diplomatis.

Belajar dari kisah Pak SBY di atas, aku mulai berpikir lagi tentang sikap impresifku. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan memperhatikan pendapat orang. Tapi kalau kita mau mengikuti kata orang lain terus-terusan, lalu kapan kita bisa mengambil pendirian sendiri?

 

Leave a Comment

909

Selepas pulang sekolah, aku langsung melempar tas dan jaketku ke dalam kamar. Sejurus kemudian, aku sudah berada di atas atap rumah. Entah apa yang kulakukan. Matahari sudah berada di ufuk barat. Dalam pemandanganku, semua benda tampak memantulkan sinar jingga.

Sebenarnya aku tak suka melihat pemandangan seperti ini. Semua benda yang termandikan sinar jingga itu terlihat seperti akan musnah. Semakin lama, sinar itu semakin pekat sampai aku tak dapat melihat apapun yang tak jingga. Sinar jingga itu akhirnya membuatku tak bisa lagi membedakan benda-benda di sekitarku.

Senja itu semisal sekarat. Ia membatasi hari yang hidup dengan malam yang mati. Matahari seolah hendak mencabut nyawaku seraya terus terbenam. Aku bisa melihat bunga-bunga yang mekar di taman tetanggaku sebentar lagi akan layu. Rumah-rumah, gedung-gedung tinggi, dan menara-menara semuanya akan lapuk dan hancur dimakan usia suatu hari kelak. Ya, ternyata semua yang ada di dunia ini fana!

Aku mulai berpikir tentang impian, keberhasilan, dan cinta yang dipaksa menunggu. Semuanya kelak akan musnah seiring aku mendekati kematian. Aku pun tentu takkan tahu kapan kematian itu akan tiba.

Angin yang sepoi ditambah matahari yang sedang kembali ke peraduannya membuat kesadaranku semakin kabur. Seiring hilangnya kesadaranku, aku mulai menggumam soal hidup dan mati.

Sudah hampir maghrib, entah siapa nanti yang membangunkanku.

Leave a Comment
In word we trust