Skip to content

Category: Life updates

2023: The Year of Journey

For the last three years, I have stopped writing new year’s resolutions. Instead, I’ve set “yearly themes.” In short, 2020 happened, and people are reminded that even the best laid plans can and will go wrong through no fault of their own. It’s better to keep a goal that we can follow along as we cruise through life, but one that still allow flexibility on how it is done. More on this on CGP Grey’s video Your Theme.

Now, my theme for 2023 was journey. And what a journey this year has been. I don’t have a lot to show, but here are some pictures of my journeys this year.

I have never been to any country outside of Indonesia before, and in 2023 I have traveled almost literally to the other side of the world, with 12-hour time difference and all that. I’ve always dreamed of visiting places I’ve never been to. I’ve done that in 2023. This was truly the year of my journey.

What was your journey like in 2023? What is your theme for 2024?

Leave a Comment

5 Mitos tentang Profesi Pustakawan | Bagian 1

Dari kecil, aku sering dan suka datang ke perpustakaan. Saking sukanya, sampai-sampai aku membuat keputusan buat bekerja di tempat ini. Tapi, sejujurnya, tidak pernah sekalipun terpikir soal orang-orang yang selama ini menyambung hidup di perpustakaan sebelum aku sendiri mengambil bagian di dalamnya. Banyak hal yang baru aku temukan setelah aku mencoba jadi pustakawan.

Mumpung sedang momen Hari Pustakawan (7 Juli), aku akan mencoba melihat mitos-mitos yang selama ini dipercaya orang soal profesi pustakawan dan memberi penjelasan mengapa anggapan-anggapan tersebut kurang tepat.

Karena aku sendiri pemula di bidang ini, mohon saran dan koreksi dari sejawat pustakawan dan siapapun yang lebih kompeten.

#1 Pustakawan adalah tukang jaga buku

Ketika orang bicara soal perpustakaan, pasti yang terpikir adalah sebuah meja dengan rak berisi buku-buku di belakangnya serta seseorang yang duduk di antara meja dan buku tersebut. Orang inilah yang biasa dipanggil “penjaga perpustakaan.” Waktu dulu kuliah, aku hampir tiap hari datang ke perpustakaan dan bertemu orang-orang ini. Akupun menyebut mereka sebagai “penjaga perpustakaan.” Persepsi penjaga perpustakaan ini berarti orang memandang mereka layaknya orang-orang yang jaga toko (dan bukan yang punya toko): kalau ada pelanggan syukur, kalau tidak ada pelanggan ya nganggur.

Setelah terjun langsung ke dunia isekai perpustakaan, persepsiku berubah total. Banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan para “penjaga” ini, yang sering kali tidak kelihatan dari sudut pandang pembaca atau pengunjung biasa. Misalnya, buku-buku di perpustakaan tentu tidak serta-merta ada di rak. Untuk pasal beli buku saja banyak yang harus diurus, seperti buku apa yang harus dibeli? Mengapa perlu membelinya buat perpustakaan tersebut? Bagaimana cara untuk meyakinkan penyandang dana bahwa buku-buku tersebut pantas dibeli? Kalaupun sudah dibeli, bagaimana cara memastikan agar buku-buku ini bisa dimanfaatkan seluruhnya oleh para pembaca dan tidak ada yang sia-sia dibeli? Bagaimana cara agar seorang pembaca bisa menemukan buku yang dia inginkan, bahkan kalaupun orang tersebut tidak tahu judul buku yang dia cari? Buat yang mencarikan pun, bagaimana petugas memberi rekomendasi atau menemukan buku yang diinginkan pembaca padahal koleksi di perpustakaan sangat banyak (bisa ribuan, ratusan ribu, hingga jutaan) dan petugas sendiri tidak mungkin tahu semua judul buku tersebut? Bagaimana kalau bukunya tidak ada? Apakah cukup kalau petugas bilang “tidak ada”? Bagaimana kalau buku-bukunya sudah diganti buku digital dan sumber-sumber dari internet? Apakah sumber yang valid cuma buku? Kalau nggak hanya buku, apalagi sumber informasi yang bisa kita percaya? Bagaimana cara membuktikan kalau informasi tersebut bisa dipercaya? Bagaimana cara menarik orang untuk datang ke perpustakaan? Lagipula, buat apa ada perpustakaan? Apakah kita masih butuh perpustakaan? Kalaupun iya, bagaimana kita meyakinkan orang lain, terutama masyarakat dan para pemangku kepentingan yang punya sumber daya, bahwa kita masih butuh perpustakaan?

Semua pertanyaan ini terkesan sederhana. Namun, ketika menjawab satu pertanyaan, banyak lagi pertanyaan yang muncul. Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut pun memerlukan disiplin ilmu tersendiri untuk menjawabnya. Orang-orang yang bisa menjawab keraguan-keraguan di atas inilah yang disebut pustakawan.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas juga terlihat bahwa pustakawan pun sebenarnya tidak hanya duduk diam menunggu pembaca. Mereka harus juga menulis laporan-laporan, salah satunya untuk mempertanggungjawabkan anggaran untuk pembelian buku dan koleksi lainnya. Ada pula laporan lain dalam bentuk pantauan sehari-hari, misalnya untuk mencatat kendala yang terjadi selama pelaksanaan layanan perpustakaan. Pustakawan juga ikut menjaga keamanan perpustakaan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan atau orang-orang yang membuat keributan. Selain itu, banyak pula pustakawan yang harus mempersiapkan kegiatan di perpustakaan supaya lebih banyak orang tertarik untuk berkegiatan di sana. Salah satunya adalah dengan pertunjukan dan storytelling buat anak-anak. Bisa juga pustakawan mengadakan kegiatan book club atau kelas komputer atau seminar-seminar terkait cara menggunakan sumber ilmiah dengan narasumber dirinya sendiri. Belum lagi harus terus-menerus memastikan bahwa katalog buku dalam bentuk database harus selalu terbarui dan isinya akurat. Siapapun yang pernah ngurus database pasti akan paham bahwa hal ini nggak semudah yang dibayangkan. Intinya, banyak sekali hal yang dilakukan oleh pustakawan selain duduk di meja pelayanannya. 🙂

Pustakawan tidak hanya sekadar “penjaga perpustakaan” atau “tukang jaga buku.” Sama halnya dengan apoteker yang tidak bisa hanya dianggap sebagai “penjaga apotek” atau “tukang obat.” Bahkan, mereka perlu sekolah profesi tersendiri setelah kuliah 4 tahun lamanya sebelum pantas disebut sebagai farmasis alias apoteker.

Rujukan

The Rambling Librarian. 2005, 27 September. “Questions about becoming a librarian.” http://ramblinglibrarian.blogspot.com/2005/09/questions-about-becoming-librarian_27.html

Tentang Gambar

Ilustrasi di pos ini berasal dari serial novel, manga, dan anime Honzuki no Gekokujou atau Ascendance of a Bookworm. Karakter utamanya adalah seorang calon pustakawan yang mati tertimpa robohan rak buku dan bereinkarnasi jadi anak kecil bernama Main. Walaupun sangat suka buku, Main kesulitan mencarinya karena ia sekarang hidup di dunia abad pertengahan di mana buku sangat langka. Ia juga terlahir kembali warga kelas rendahan, yang dianggap tidak pantas buat membaca buku. Oleh karena itu, Main bertekad memanfaatkan yang sudah dia dapat dari bacaan-bacaannya untuk bisa membuat dan menerbitkan buku dengan caranya sendiri.

Menurutku baik novel dan anime ini cukup bikin nagih. Ceritanya ternyata jauh lebih seru kalau mengingat sinopsisnya yang nggak membuat orang semangat nonton kayak di atas. 😅 Walaupun judulnya berbau-bau perbukuan, tapi isi ceritanya banyak sekali yang nggak menyangkut buku, kok. Pokoknya seru buat diikuti.

Ascendance of a Bookworm bisa ditonton gratis di Muse Indonesia (Takarir Bahasa Indonesia) dan dibaca versi novelnya di aplikasi Storytel (dengan sistem langganan aplikasi per bulan seperti Spotify).

2 Comments

Love Is…

We cannot escape love. Every language has a word that can be translated as “love.” Every person of every race, religion, and nation, has probably experienced it or at least know about it. It has been the subject of many songs, books, movies, and other works of art. Love is so commonly seen and heard, and yet, when you really think about it, it’s not easy to answer the question, “what is love?”

A lot of people probably would find it difficult to communicate their understanding of love, even though they have certainly experienced it. I have been in love before. And yet, it’s hard for me to explain what it is without using a dictionary. In fact, I tried to look up the definition of “love” on a dictionary, and I don’t quite agree with it.

An easier way to understand love, I believe, is through metaphors. In the book Metaphors We Live By (1980) linguists George Lakoff and Mark Johnson argued that we make sense of the world around us by using metaphors, that is, using one thing to explain another thing even when they have entirely different characteristics. We usually talk and write in metaphors to communicate abstract things like concepts, ideas, or feelings through other things that we can sense with our eyes, ears, hands, or other physical means.

Kaguya-Sama: Love is War might be inspired by a certain cognitive linguistics book. Taken from Wikipedia.

For example, the book mentioned the following metaphor:

TIME IS MONEY

You’re wasting my time.
This gadget will save you hours.
I don’t have the time to give you.
How do you spend your time these days?
That flat tire cost me an hour.
I’ve invested a lot of time in her.
I don’t have enough time to spare for that.
You’re running out of time.
You need to budget your time.
Put aside some time for ping pong.
Is that worth your while?
Do you have much time left?
He’s living on borrowed time.
You don’t use your time profitably.
I lost a lot of time when I got sick.
Thank you for your time.

George Lakoff & Mark Johnson. 1980. Metaphors We Live By.

We use similar words to describe time and money. If someone said, “I’ve invested a lot of time in her,” we can instantly understand that the person is not trying to make a profit just like when we put money into stocks and mutual funds. However, we can see the relation between time and money here. Time is treated as a resource which can we have a lot of or not have at all. This is even though we couldn’t see and store time the way we can put money in our hands, count them, and put them in our wallets or piggy banks. If we try to describe time just as it is, we run into trouble pretty quickly since it is so abstract. And yet, when we use metaphors such as time is money mentioned above, we can instantly understand it through comparing two very different things.

In the same way, we might be unable to explain love through a series of definitions. Just like time, love is an abstract concept, so abstract that even similar kinds of people can have disagreements about what it is. This is where the beauty of metaphor kicks in: you don’t need to point it out explicitly, but you can get a solid grasp by comparing the thing you want to understand to a more concrete object. Lakoff and Johnson wrote several common and easily relatable metaphors about love:

LOVE IS A JOURNEY

Look how far we’ve come.
We’re at a crossroads.
We’ll just have to go our separate ways.
We can’t turn hack now.
I don’t think this relationship is going anywhere.
Where are we?
We’re stuck.
It’s been a long, bumpy road.
This relationship is a dead-end street.
We’re just spinning our wheels.
Our marriage is on the rocks.
We’ve gotten off the track.
This relationship is foundering.

LOVE IS A PHYSICAL FORCE (ELECTROMAGNETIC, GRAVITATIONAL, etc.)

I could feel the electricity between us. There were sparks. I was magnetically drawn to her. They are uncontrollably attracted to each other. They gravitated to each other immediately. His whole life revolves around her. The atmosphere around them is always charged. There is incredible energy in their relationship. They lost their momentum.

LOVE IS A PATIENT

This is a sick relationship. They have a strong, healthy marriage. The marriage is dead—it can’t be revived. Their marriage is on the mend. We’re getting hack on our feet. Their relationship is in really good shape. They’ve got a listless marriage. Their marriage is on its last legs. It’s a tired affair.

LOVE IS MADNESS

I’m crazy about her. She drives me out of my mind. He constantly raves about her. He’s gone mad over her. I’m just wild about Harry. I’m insane about her.

LOVE IS MAGIC

She cast her spell over me. The magic is gone. I was spellbound. She had me hypnotized. He has me in a trance. I was entranced by him. I’m charmed by her. She is bewitching.

LOVE IS WAR

He is known for his many rapid conquests. She fought for him, but his mistress won out. He fled from her advances. She pursued him relentlessly. He is slowly gaining ground with her. He won her hand in marriage. He overpowered her. She is besieged by suitors. He has to fend them off. He enlisted the aid of her friends. He made an ally of her mother. Theirs is a misalliance if I’ve ever seen one.

George Lakoff & Mark Johnson. 1980. Metaphors We Live By.

As I said earlier, I don’t really relate to dictionary definitions about love since they are so abstract, and there are parts of those definition that I don’t agree. Metaphors such as these, though, are instantly understandable. I can relate these metaphors to my past love experiences, specifically my bad experiences with it.

When I first fell in love, I thought that I wasn’t behaving normally. Usually a rational kind of person, I suddenly became erratic. I couldn’t speak well, eat well, sleep well. Certainly, something was wrong with me. I have gone mad over that person. For me at that time, love is madness.

There were moments when I couldn’t point out why I was into that person. It felt as if it came out of nowhere. I did not become in love out of my own free will. In fact, I believed that I was bewitched. This was me thinking that love is magic.

At another moment in life, I was in love with a person that was loved by another person. I was constantly thinking about how to make the person I love to choose me over that another person, who I sorta kinda treated as an enemy. I came up with actions and clever words to impress that person (side note: I am a cis-het and was referring to girls all along; I just like to keep my references gender-neutral 😉). I had to defeat my enemy to win my love. When I didn’t get into relationship with the person that I loved, I thought of myself as a loser, while that other person became a winner. This was when I believed that love is war.

I could even come up with other metaphors. When I was a teenager, one of my favorite TV series is Neon Genesis Evangelion (1995-1996). It had tons of references and dialogues about how human beings try to connect to and also are hurt by each other. Episode 4 of the anime was titled Hedgehog’s Dilemma, which is I think another metaphor for love. Hedgehog’s dilemma basically states that two lonely people trying to connect with one another are like two hedgehogs in the winter that are trying to get some warmth in the winter by getting close to one another. Unfortunately, since the hedgehogs have quills, the closer they get together, the more they hurt each other with their quills. Arthur Schopenhauer, a philosopher who first came up with this metaphor, thinks that humans are like that, too. According to his Hedgehog’s Dilemma, humans cannot love each other without also hurting the ones that they love.

Neon Genesis Evangelion (1995-1996) ep. 4 “Hedgehog’s Dilemma.” Taken from The Verge,

That’s not all! In early 2020, I happened to read a manuscript titled Djalan Sampoerna (or Jalan Sempurna Hidupku as it was titled in the National Library of Indonesia, where it was stored). I wrote a blogpost about the manuscript here. I haven’t finished reading it, but in earlier part of the manuscript, the author talked about his first love and how he lost him. Then, I came across this stirring passage:

So it became clear to me that love was of no use (tijada bergoena). Many are the Dutch sayings that show this plainly:

Liefde is vondervol (love is wonderful)!
Liefde is verschrikkelijk (love is terrifying)!
Liefde is zacht (love is soft)!
Liefde is brutal (love is brutal)!
Liefde is wreed (love is cruel)!
Liefde is heeld (love is happiness)!
Liefde is vuur (love is fire)!
Liefde is ijs (love is ice)!

And there are many other sayings that show how love can strangle those who fall into its toils. For love, many lose all their possessions. In some cases, even their innards leave their bodies. To say nothing of those who spend years and years in prison. And missing all of this because of the treachery of love. There are so many who spend their lives in misery, confusion, and suffering because their path is that of love. So it was clear to me that love was no use. For myself, there was now no room for love, for I had my own medicine (obat) for satisfying my desire. Even if I didn’t get married, it wouldn’t matter … I’d be like my friend, or the doctor in Kediri.

Djalan Sampoerna or Jalan Sempurna Hidupku (ML 524). Translated here by Benedict Anderson.

Is it true? Is love just a feeling that is involuntary, is driving us mad, and has brought us into conflict? For the better part of my life, I sincerely believed in all of this. My past experiences, my failures, and my traumas has led me to think that there is nothing to be gained from love. However, I later found out that this doesn’t need to be the case.

Metaphors We Live By has a chapter that discusses how we can construct new meanings to the things that we have previously known by creating new metaphors. It does not matter what metaphors other people use. As long as our metaphor enables us to understand reality and helps us live through it, that’s completely valid. To demonstrate this point, Lakoff and Johnson came up with an unusual but intriguing depiction of love:

LOVE IS A COLLABORATIVE WORK OF ART

Love is work.
Love is active.
Love requires cooperation.
Love requires dedication.
Love requires compromise.
Love requires a discipline.
Love involves shared responsibility.
Love requires patience.
Love requires shared values and goals.
Love demands sacrifice.
Love regularly brings frustration.
Love requires instinctive communication.
Love is an aesthetic experience.
Love is primarily valued for its own sake.
Love involves creativity.
Love requires a shared aesthetic.
Love cannot be achieved by formula.
Love is unique in each instance.
Love is an expression of who you are.
Love creates a reality.
Love reflects how you see the world.
Love requires the greatest honesty.
Love may be transient or permanent.
Love needs funding.
Love yields a shared aesthetic satisfaction from your joint efforts.

George Lakoff & Mark Johnson. 1980. Metaphors We Live By.

Understanding love as a collaborative work of art is certainly not something that we often see in popular culture, such as movies, songs, TV series, even commercials. We are used to the idea that love comes out of a sudden like magic instead of requiring a lot of work like creating a painting. We often act as thought love will come and grow naturally instead of having to be gained through dedication, compromise, and discipline.

This doesn’t mean that the previous, darker metaphors are not valid. After all, these depictions of love wouldn’t become so popular if people don’t relate to them. We don’t need to entirely discard our catalog of gloomy and destructive ideas about love. But we need to create new meanings.

Our prior impressions, woes, and traumas don’t need to mean that we are destined to fail and be miserable in love. Instead, by re-framing our love stories through brighter lenses, we could focus on the encouraging and more beneficial sides of love.

Leave a Comment

5 Kesalahan dalam Mendaftar di Seleksi CPNS

Kenapa tiba-tiba nulis dengan topik ini? Jujur, yang pertama, alasannya adalah karena seleksi CPNS ini topik yang diminati banyak orang, apalagi di musim-musim susah seperti ini. Terlepas apapun omongan-omongan orang tentang pegawai negeri, aparat pemerintah, umbi-umbian, apapun itu istilahnya, memang seleksi CPNS ini selalu jadi rebutan orang. Bahkan ada selorohan tentang orang-orang yang biasanya nyinyir sama kerjaannya PNS, tapi kalau musim seleksi CPNS juga ikut daftar.

Ramainya orang mendaftar ini juga didorong karena anggapan-anggapan bahwa Pegawai Negeri Sipil itu status yang “unik.” Keunikannya ya bisa dibilang dari hal yang buruk kayak stereotip main Zuma di kantor, pelayanan yang payah, pejabat yang nggak kompeten, dan lain-lain. Ada juga anggapan unik yang mencakup ekonomi kayak gaji stabil, ada uang pensiun, dan sebagainya. Bahkan, ada juga yang berpersepsi PNS itu menempati status tersendiri sebagai kelompok kasta kesatria, atau kalau kata orang Jawa priyayi. Tidak jarang orang menganggap kerja PNS sebagai suatu pengabdian kepada negara. Intinya, status PNS itu seolah dianggap sebagai pekerjaan yang berbeda dari mereka yang bekerja di sawah, di warung, di bank, di perusahaan startup, di agensi-agensi kreatif, dan sebagainya.

Saya sih nggak setuju dengan semua stereotip di atas. Di negara-negara maju, mungkin banyak yang menganggap pegawai pemerintah itu punya kelebihan karena masa kerjanya, benefit yang ditawarkan, sampai kesempatan karir sebagai pegawai pemerintah. Namun, tidak ada yang menganggap kalau pegawai negeri itu sampai jadi kasta tersendiri atau bahkan menganggap dirinya sebagai abdi negara. Betapapun “hebat”-nya pegawai negeri, ya pada akhirnya ia hanya pekerjaan biasa seperti halnya orang-orang lain yang bekerja. Tidak perlu dianggap aneh, diistimewakan, atau dianggap mulia. Nassim Nicholas Taleb, seorang filosof yang saya sukai tulisan-tulisannya, pernah mengatakan:

“A sign of development for a country is in the lack of prestige for government officials.”
“Tanda majunya suatu negara bisa dilihat dari tidak adanya gengsi dalam menjadi pejabat pemerintah.
— Nassim Nicholas Taleb

Saya setuju banget dengan ini. PNS nggak perlu dianggap pekerjaan bergengsi ataupun aneh, karena pada intinya ya ia sesuatu yang sama dengan pekerjaan lainnya. Orang mungkin hanya berpendapat begitu karena kekurangan informasi, dan memang informasi soal pegawai negeri sering nggak disampaikan secara transparan. Entah itu cara seleksinya, pekerjaan sehari-harinya, gajinya, pengembangan karirnya, dan lain-lain. Semua terkubur dalam teks-teks peraturan yang begitu banyaknya hingga sulit dipahami orang awam. Karena itu, untuk menghilangkan kesan “misterius” dalam menjadi PNS ini saya menulis hal-hal yang saya tahu soal PNS. Saat ini, kita mulai dulu dari soal rekrutmen atau seleksi CPNS.

Saya akan mencoba menjabarkan 5 kesalahan yang sering dilakukan pendaftar seleksi CPNS dan bagaimana sikap/tindakan yang bisa diambil buat mengantisipasinya.

1. Tidak tahu alasan mendaftar

Sering kali orang daftar seleksi CPNS tanpa sadar alasan mereka ingin ada di sana. Ya, banyak juga yang sebetulnya tidak ingin tapi terpaksa, but that’s another matter.

Banyak yang beranggapan PNS itu kerjanya pasti santai, pasti uangnya cukup, dan pasti hidupnya terjamin sampai pensiun. To some extent, ini ada benarnya, walau tidak selamanya. Tapi, di sisi lain, ada banyak downsides yang harus dihadapi kalau jadi PNS.

Misalnya, ketika mendaftar peserta harus membuat surat pernyataan bahwa dirinya tidak akan meminta pindah unit kerja dengan alasan apapun selama 10 tahun sejak diangkat. Ini tentu berat buat yang akan merantau. Bahkan perusahaan saja jarang yang kontraknya sepanjang itu.

Hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah banyaknya aturan yang harus ditaati PNS, mulai dari soal kesetiaan kepada negara dan pemerintah sampai urusan-urusan pribadi seperti izin atau menikah. Iya, PNS menikah saja harus juga lapor ke kantor. 💁‍♂️

Di banyak negara termasuk Indonesia, PNS/civil service adalah ranah kerja yang masa kerjanya bisa panjang sekali, bisa bertahun-tahun bahkan hampir seumur hidup. Sebagai gambaran, usia pensiun PNS pada umumnya 58-60 tahun. Ada yang sampai 65 tahun bahkan 70 tahun untuk dosen yang duduk sebagai Guru Besar/profesor. Sementara itu, tidak terlalu sering ada rotasi/mutasi kepegawaian yang memindahkan orang dari satu instansi ke instansi lain. So before signing up, sincerely ask yourself: do I wanna do this job for the rest of my life?

Kalau pembaca masih belum yakin menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya mencoba jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kinerja (PPPK). PPPK ini sama-sama pegawai pemerintah atau istilahnya Aparatur Sipil Negara dengan PNS. Pendapatannya pun sudah diatur sehingga tidak berbeda dengan PNS. Yang membuat beda, PPPK sistem kerjanya kontrak dalam jangka waktu 1-5 tahun. Di satu sisi, ini artinya tidak ada kepastian kerja sampai pensiun. Di sisi lain, justru ini memberikan keleluasaan buat orang-orang yang nggak mau “dikunci” karirnya hanya untuk ke instansi pemerintah atau sektor publik, tapi bisa juga punya mobilitas karir ke sektor swasta sehingga kesempatan bereksplorasinya lebih luas.

2. Salah strategi dalam memilih posisi yang dilamar

Sering kali orang mendaftar karena asal ingin diterima saja. Padahal, seperti kata pepatah, posisi menentukan prestasi. Makanya, pemilihan posisi yang dilamar itu sebetulnya sangat penting.

Ada beberapa hal yang harus diingat waktu memilih posisi:

2.a. Kecocokan formasi

Pastikan teman-teman tidak salah pilih formasi. Di seleksi CPNS ada beberapa macam formasi:

  1. Umum, bisa diikuti oleh semua kategori pendaftar
  2. Lulusan Terbaik alias cum laude, bisa diikuti oleh pelamar yang memiliki IPK 3.5 ke atas dari Perguruan Tinggi terakreditasi A dan program studi terakreditasi A
  3. Diaspora, bisa diikuti pelamar yang berstatus WNI dan sedang bekerja di luar negeri minimal 2 tahun
  4. Penyandang Disabilitas, bisa diikuti pelamar penyandang disabilitas (jenis disabilitas yang diterima tergantung ketentuan dari instansi yang menerima)
  5. Putra/Putri Papua dan Papua Barat, bisa diikuti pelamar yang lahir di kedua provinsi tersebut (yang dibuktikan dengan beberapa dokumen)
  6. Tenaga Pengamanan Siber (Cybersecurity), bisa diikuti oleh praktisi cybersecurity dan ini hanya khusus diadakan beberapa instansi pemerintah yang fokusnya adalah keamanan (misalnya Kepolisian)

Pilihlah formasi yang sesuai dengan kondisi teman-teman. Kalau kriterianya tidak sesuai dengan cum laude, ya jangan dipaksakan daftar karena pasti tidak akan lulus administrasi. Pilih yang sesuai saja. Jangan kalah sebelum bertempur.

Lebih lanjut tentang ketentuan formasi bisa dibaca di Permenpan RB no. 23 tahun 2019.

2.b. Latar belakang pendidikan

Jangan pula daftar posisi yang jelas-jelas kualifikasi pendidikannya nggak cocok. Misalnya, punya ijazah S-1 Sastra Inggris tapi daftarnya guru yang syaratnya S-1 Pendidikan Bahasa Inggris. Ya pasti tidak akan lolos seleksi administrasi.

Jangan daftar posisi D-3 padahal ijazahnya S-1. Ini juga nggak bakal diterima. Kalau posisi SMA gimana? Nah kalau ini baru bisa karena syarat ijazah SMA-nya terpenuhi. But I very strongly recommend against it kalau ijazahnya S-1. Kasian karirnya nanti. 🙁

Kalau misal ragu atau butuh info yang lebih pasti, jangan ragu-ragu untuk bertanya ke panitia seleksi di instansi yang ingin dilamar, baik itu lewat telepon, email, atau media sosial. Tiap panitia instansi biasanya punya kebijakan sendiri-sendiri soal syarat latar belakang pendidikan yang dibolehkan melamar.

Ingat ya, tanyanya ke instansi masing-masing, jangan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang biasanya jadi gerbang info seleksi CPNS dan diserbu banyak penanya. Mereka hanya tahu syarat secara umum saja dalam peraturan perundang-undangan. Yang punya keputusan menerima atau tidak menerima pendaftaran dari jurusan tertentu adalah instansi masing-masing. Kecuali memang mau daftar di BKN, baru bisa tanya ke admin BKN.

2.c. Jenis jabatan yang dilamar

Nah ini yang sering pendaftar nggak aware. Ada dua jenis jabatan PNS untuk yang sifatnya entry-level buat lulusan S-1: jabatan fungsional dan jabatan pelaksana.

Jabatan fungsional adalah jabatan yang disusun berdasarkan tingkat keahlian/keterampilan. Alias jabatan yang punya jenjang expertise. Contohnya dosen yang ada jenjangnya dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, sampai guru besar/profesor. PNS di jabatan fungsional bisa naik pangkat sesuai dengan prestasi kerjanya dalam bentuk angka kredit. Dosen yang sering publikasi atau pustakawan yang sering melakukan layanan pasti karirnya lebih cepat meningkat daripada yang kurang aktif bekerja. Kenaikan pangkat paling cepat 2 tahun sekali tergantung prestasi kerja. Kenaikan jabatannya bahkan (setidaknya secara teori) bisa diajukan setiap tahun.

Jabatan pelaksana adalah jabatan yang job description-nya pakem dan tidak ada jenjang keahliannya. Misalnya posisi “pengelola perpustakaan.” Pekerjaannya akan tetap seperti itu sampai ia berpindah jabatan. Kenaikan pangkat tidak berdasarkan prestasi namun otomatis 4 tahun sekali. Walaupun otomatis naik, tapi ada batas pangkat maksimum kecuali ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau menjadi pejabat administrasi (= posisi manajerial tapi bukan pimpinan tinggi).

Karena tidak ada jenjang keahlian, maka biasanya pejabat pelaksana akan meningkatkan karir dengan menjadi pejabat struktural (biasa dikenal dengan pejabat eselon IV-I) atau pindah ke jabatan fungsional yang mobilitas karirnya lebih tinggi.

Jadi, menurut saya sebaiknya pilih jabatan fungsional saja supaya nanti urusan mobilitas karirnya lebih mudah.

Apalagi, baru-baru ini sudah ada instruksi presiden untuk memangkas birokrasi sehingga eselon III dan IV dihilangkan. padahal jabatan eselon ini adalah satu-satunya sarana “naik kelas” bagi pejabat pelaksana.

Bagi pejabat fungsional, mereka bisa naik karir dengan jadi pejabat eselon atau naik jenjang keahlian. Selain itu, pejabat fungsional juga punya tunjangan khusus sesuai dengan jabatannya masing-masing. Selain tunjangan jabatan fungsional ini sendiri, komponen tunjangan kinerja pejabat fungsional juga lebih tinggi daripada pejabat pelaksana karena biasanya grade atau tingkat jabatannya lebih tinggi dari pejabat pelaksana untuk posisi entry-level (posisi yang diterima setelah lolos CPNS dan diangkat jadi PNS).

Biasanya, di pendaftaran jabatan fungsional ditandai dengan frasa “Ahli Pertama”, misalnya “Guru Ahli Pertama” atau “Pranata Komputer Ahli Pertama.”

Kalau masih bingung soal jabatan fungsional dan pelaksana ini, sila baca daftar jabatan pelaksana dan fungsional beserta deskripsi kerjanya masing-masing:

Daftar dan deskripsi jabatan fungsional: https://www.bkn.go.id/unggahan/2022/09/Profil-Jabatan-Fungsional-2020.pdf

Daftar dan deskripsi jabatan pelaksana: https://jdih.menpan.go.id/dokumen-hukum/KEPMEN/jenis/1626?KEPUTUSAN%20MENTERI

3. Kurang memahami instansi yang dituju

Orang sering salah kira bahwa PNS di mana-mana itu kerjanya sama, jalur karirnya sama, dan gajinya sama. Padahal, sederhananya, 3 hal tadi tergantung di instansi mana kerjanya PNS itu.

3.1. Jenis-jenis Instansi PNS

Secara umum, instansi pemerintah yang “dihuni” oleh PNS ada 4 macam:

  1. Kementerian
  2. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK)
  3. Lembaga Non-Struktural (LNS)
  4. Pemerintah daerah (Provinsi/Kota/Kabupaten)

3.1.a. Kementerian

Dipimpin menteri, dan menteri rata-rata bukan berlatar belakang PNS. Yang PNS adalah pejabat-pejabat eselon I di bawahnya. Misalnya di Kemdikbud, Nadiem Makarim sebelumnya sama sekali nggak ada hubungan dengan PNS tapi jadi pucuk pimpinannya.

Ada juga kementerian yang pimpinan tertingginya diambil dari PNS di sana. Misalnya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang diplomat Kemlu. Memang secara tradisi Menlu adalah “orang dalam” kementerian tersebut.

Kementerian ada yang besar dan ada yang kecil. Semakin besar, maka jumlah kantornya pun semakin banyak. Misalnya Kementerian Keuangan atau Agama yang di masing-masing daerah punya cabang.

Bandingkan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang kantornya cuma 1 di Jakarta. Ini penting untuk dipertimbangkan karena akan mempengaruhi penempatan kerja nantinya. Kalau kementerian hanya ada di pusat, ya otomatis tidak bisa minta pindah ke daerah. Hal ini ada dampak positifnya juga, yaitu kecil sekali kemungkinan dimutasi/dipindahkan keluar lokasi yang ada di instansi yang sekarang. (Kecuali pindah ibukota, hehehe.)

Lembaga kementerian juga biasanya dinamis. Bisa diubah-ubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan presiden. Misalnya Kemristekdikti yang Dikti-nya sekarang dicopot dan dikembalikan ke Kemdikbud. Kementerian Ristek pun juag kemudian bubar juga, dilebur ke Kemdikbud.

3.1.b. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK)

LPNK adalah lembaga yang menjalankan tugas pemerintahan yang khusus dan biasanya skalanya lebih kecil dari kementerian, misalnya LIPI di bidang penelitian atau Perpusnas di bidang perpustakaan.

Berbeda dari kementerian, LPNK hampir pasti dipimpin oleh PNS (kecuali yang pimpinannya dari TNI atau Polri seperti BNPB atau Bakamla). Otomatis, dinamika organisasinya menurut saya relatif nggak sekencang kementerian yang hampir pasti akan berubah setiap presiden mengangkat menteri baru.

Seperti kementerian, LPNK juga ada yang besar dan ada yang kecil. Misalnya, LIPI punya banyak kantor dan pusat penelitian di beberapa daerah. Sementara Perpusnas “hanya” punya 2 kantor pusat dan 2 unit perpustakaan proklamator di Blitar dan Bukittinggi.

Secara kelembagaan, LPNK cenderung nggak terlalu dinamis karena biasanya nggak tersentuh kebijakan politik yang dilakukan presiden. Misalnya, Arsip Nasional RI (ANRI) ya lembaganya cenderung tetap begitu bahkan sejak zaman Belanda waktu namanya masih Landsarchief.

3.1.c. Lembaga Non-Struktural (LNS)

LNS adalah lembaga yang dibentuk dalam rangka melaksanakan peraturan/kebijakan tertentu. Contoh LNS yang terkenal adalah KPK dan Komnas HAM. Yang memimpin biasanya orang TNI/POLRI atau anggota/komisioner dari kalangan sipil.

Anggota dan komisioner ini bukan PNS. PNS tertinggi di LNS biasanya adalah sekretaris jenderal. Secara kelembagaan, LNS biasanya lebih kecil dari kementerian/LPNK sehingga ruang gerak bagi pegawainya pun juga menurut saya lebih sempit.

3.1.d. Pemerintah daerah

Berbeda dari PNS di pusat (kementerian/lembaga) yang dikelompokkan berdasarkan sektornya, PNS daerah semuanya berada di bawah kendali kepala daerah, yaitu gubernur, bupati, atau walikota. Makanya, struktur kelembagaannya pun berbeda-beda tergantung daerahnya.

Akibatnya, penghasilan yang diterima juga berbeda. Banyak PNS daerah yang hidupnya pas-pasan karena penghasilannya juga kecil dan ada juga PNS daerah yang penghasilannya mengalahkan PNS pusat karena daerahnya sudah maju.

Menurutku pribadi, mobilitas karir pada umumnya lebih baik di kementerian/lembaga pusat yang lingkup kerjanya se-Indonesia karena di daerah ya otomatis lingkup kerjanya lebih terbatas. Tapi, jika teman-teman lebih memilih bisa bekerja di daerah asal atau daerah yang diinginkan dibandingkan mengejar kesempatan karir, memang lebih baik memilih instansi Pemerintah Daerah.

3.2. Instansi menentukan remunerasi

Seperti yang sedikit dibahas sebelumnya, pilihan instansi akan menentukan penghasilan yang akan diterima. Orang sering terkecoh dengan tabel gaji pokok PNS yang angkanya memang kecil. Untuk golongan III/a, golongan untuk lulusan S1, gaji pokoknya hanya sekitar 2,5 juta. Jadi, orang sering beranggapan bahwa mereka hanya akan terima sejumlah ini per bulannya jika jadi PNS. Padahal, banyak komponen penghasilan PNS selain gaji pokok, yang jumlahnya biasanya lebih besar dari gaji PNS itu sendiri. Makanya, yang penting buat diketahui dari PNS itu bukan gaji, tapi remunerasi atau penghasilan total selama sebulan alias take home pay.

Nah, ada komponen penghasilan yang besarannya sama untuk semua PNS di Indonesia, tapi juga ada yang berbeda menurut jabatan yang diduduki dan instansi tempat PNS tersebut bekerja.

Komponen penghasilan PNS secara umum. Tidak komplit karena banyak sekali aturannya.

Dari tabel ini, yang paling signifikan mempengaruhi penghasilan PNS adalah Tukin/TPP/tunjangan lain yang sejenis itu. Tunjangan tersebut gap-nya bisa sangat jauh tergantung instansinya. Oleh karena itu, jika ingin hitung-hitungan penghasilan yang diterima, sebaiknya cari informasi tentang Tukin/TPP/lainnya tadi.

Semua informasi tentang komponen penghasilan ini terbuka di internet dan bisa dilihat di berbagai dokumen peraturan tentang penghasilan PNS. Tapi nggak akan cukup tempat di tulisan ini buat membahas sampai ke sana, jadi teman-teman bisa mencari tahu sendiri.

2.3. Instansi Pembina

Oh iya, di poin 2.c. saya sempat menulis bahwa sebaiknya pilih lowongan jabatan fungsional daripada jabatan fungsional. Nah, sebaiknya dalam memilih jabatan fungsional ini juga pertimbangkan apakah jabatan fungsional itu ada di instansi pembina atau bukan.

Apa itu instansi pembina? Jadi, setiap jabatan fungsional punya bidang kepakaran sendiri-sendiri, dan instansi pembina adalah lembaga yang bertanggung jawab atas kepakaran di bidang tersebut. Misalnya, jabatan arsiparis bisa ada di macam-macam lembaga, tapi yang punya kebijakan terkait jabatan itu adalah Arsip Nasional Republik Indonesia sebagai instansi pembinanya. Begitu juga dengan peneliti, yang bisa ada di berbagai macam lembaga pemerintah. Namun, induk jabatan fungsional peneliti alias instansi pembinanya adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Instansi pembina punya peran penting untuk pengembangan profesi di jabatan fungsional yang dibinanya. Misalnya, kegiatan pengembangan karir seperti diklat, seminar, dan semiloka yang terkait jabatan fungsional biasanya diadakan oleh instansi pembina. Demikian juga dalam soal pengembangan karir. PNS jabatan fungsional yang bertugas di instansi pembina biasanya punya peluang karir lebih luas daripada yang tidak bertugas di instansi tersebut. Hal ini karena penilaian kenaikan pangkat dan jabatan untuk pejabat fungsional dipengaruhi oleh instansi pembina.

Apa saja instansi pembina itu? Teman-teman bisa lihat di dokumen Profil Jabatan Fungsional PNS yang saya tautkan di bagian 2.c. tadi.

Jadi, jika memungkinkan, usahakan daftar di jabatan fungsional yang ada di instansi pembina. Tentu ini akan mengurangi opsi lowongan yang bisa jadi pilihan. Tapi ini akan berpengaruh ke mobilitas karir apabila diterima.

Nah, kalau misal opsi jabatan fungsional di instansi pembina tidak tersedia, ya tidak harus dipaksa juga. Bisa daftar ke instansi yang lain dulu. Teman-teman bisa cari advantage di hal-hal lainnya selain soal instansi pembina.

4. Tidak mengurus berkas sesegera mungkin

Ini persoalan yang sebenarnya sepele tapi bikin pusing.

Dalam mendaftar seleksi CPNS, berkas yang dibutuhkan sangat banyak: SKCK, surat sehat jasmani dan rohani dari RS pemerintah, surat pernyataan, bahkan sampai sertifikat bahasa Inggris.

Oleh karena itu, usahakan mengurus semua ini secepat-cepatnya. Semakin mepet deadline, biasanya antrean di Polres dan RS semakin menumpuk sehingga akan susah mendapatkan dokumen yang kita mau di hari itu juga.

Terlebih lagi, semakin dekat deadline biasanya sistem pendaftaran SSCN akan semakin sering macet. Makanya, usahakan selesaikan upload berkasnya seawal mungkin.

5. Tidak tahu apa yang harus disiapkan untuk SKD dan SKB

Pada umumnya, seleksi CPNS punya 3 tahap: 1) Seleksi Administrasi, 2) Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), dan 3 (Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Seleksi Administrasi sebenernya simpel. Selama memenuhi persyaratan secara berkasnya, pasti akan lolos. Ingat-ingat aja poin nomor 4 tadi. Jadi, di sini kita akan fokus ke seleksi tahap SKD dan SKB.

5.a. Seleksi Kompetensi Dasar (SKD)

Soal SKD sama untuk semua pendaftar CPNS apapun instansinya, menggunakan CAT (Computer-Assisted Test, intinya tesnya dikerjakan lewat komputer).

SKD sendiri terbagi beberapa bidang:

  1. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), materinya kewarganegaraan + sejarah + ilmu sosial
  2. Tes Inteligensi Umum (TIU), sama persis dengan Tes Potensi Akademik, Tes Skolastik, dan lain-lain yang biasa kita temukan di ujian masuk kuliah dan seleksi beasiswa
  3. Tes Karakteristik Pribadi (TKP), yang ujiannya berisi soal-soal studi kasus di tempat kerja yang mengukur apakah pelamar punya “mentalitas” atau mindset sebagai PNS atau tidak

Selengkapnya tentang materi TWK, TIU, dan TKP, sila baca Permenpan RB no. 23 tahun 2019 di bagian K (seleksi). Pelajari betul indikator-indikator yang dinilai dan buat sebagai daftar materi untuk dipelajari. Tautan: http://cpns.pertanian.go.id/files/Peraturan_Menteri_PAN-RB_No._23_Tahun_2019.pdf Permenpan RB Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil dan perubahannya dalam Permenpan RB Nomor 52 Tahun 2021.

Ini penting terutama buat TKP, yang tahun lalu banyak membuat peserta gugur karena passing grade-nya tinggi. Banyak yang bilang TKP itu sifatnya subjektif. Ya memang ada unsur subjektivitasnya, tapi semua arah jawaban yang dimau sebetulnya sudah ada di kisi-kisi dari Permenpan tadi. Plus, ini menurutku ya, di dalam mengerjakan TKP itu kita harus bisa mengira-ngira trait atau sifat apa yang diinginkan employer kita, dalam hal ini negara dan pemerintah Indonesia. Nah, sifat-sifat itu kita temukan dengan membaca peraturan tadi. Intinya, please read the fine print.

Nah, pertanyaannya, sumber belajar buat CPNS dari mana? Apakah harus beli buku? Sebetulnya enggak juga. Di Telegram udah banyak grup yang membagi-bagikan materi dan latihan soal buat SKD dan sudah tersusun per kategori dan subkategorinya. Dan soalnya pun sering kali sama dengan buku-buku mahal di toko buku. Sebetulnya hal yang terpenting dari belajar SKD adalah tahu mana materi yang sudah kita kuasai dan mana yang belum, supaya belajarnya terstruktur. Kalau cuma drilling-drilling soal aja tanpa belajar materi menurut saya kurang efisien.

Prioritaskan menguasai apa yang sudah kita bisa, baru setelah itu melengkapi materi yang kurang dimengerti. Misalnya, di TIU, dari aspek kemampuan verbal, numerik, dan figural, mana yang paling kita kuasai dan mana yang paling kita enggak kuasai? Fokus dulu di yang unggul.

Saya sendiri dulu lebih unggul di soal-soal TIU mengenai kemampuan verbal (bahasa). Dari hasil tryout, memang hasilnya lebih tinggi di bagian itu. Makanya di awal-awal saya fokus menguasai bagian verbal.

Baru setelah betul-betul mantap dengan verbal, aku mulai menginjak materi numerik dan figural, sambil sekali-kali mengetes diri untuk melihat progress belajar.

Nah untuk tryout, usahakan tidak hanya mengerjakan soal di atas kertas saja tapi gunakan software tryout yang biasanya sudah tersebar luas di internet atau pakai laman tryout-nya BKN. Ini tujuannya membiasakan diri dengan user interface aplikasi CAT yang nanti dipakai waktu tes.

5.b. Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)

Setelah lolos SKD, maka akan ada SKB, yang pelaksanaannya tergantung instansi. model seleksinya berbeda-beda tergantung instansinya tapi ada komponen CAT Bentuk-bentuk seleksi yang dipakai biasanya gabungan dari: 1. SKB dengan CAT 2. Psikotes 3. Wawancara 4. Praktik kerja 5. Kesamaptaan/Tes fisik

Untuk instansi pusat, ada kemungkinan pakai model seleksi 1-5, makanya lihat pengumuman penerimaan CPNS masing-masing lembaga. Tapi untuk Pemda, setahu saya tidak ada seleksi selain SKB via CAT, sehingga seleksinya lebih simpel. Silakan cek pengumuman penerimaan CPNS-nya supaya dapat info lebih lengkap.

5.b.1. SKB dengan CAT

Model ujian sama dengan SKD dengan software CAT yang sama, yang berbeda adalah soalnya. Hanya ada 1 sesi dengan soal-soal yang terkait dengan posisi yang kita lamar. Biasanya ada 100 soal.

Apa kisi-kisinya? Ini contoh dari pengalaman saya sendiri ya: a. Peraturan perundang-undangan tentang posisi/instansi b. Materi tentang bidang c. Pengetahuan tentang instansi

Kalau dalam pengalaman saya sendiri daftar sebagai pustakawan di Perpusnas, contoh-contoh dari 3 materi itu adalah: a. UU 43/2007 tentang Perpustakaan, Permenpan 9/2014 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dang Angka Kreditnya b. Materi ilmu perpustakaan dari bukunya Sulistyo Basuki “Pengantar Ilmu Perpustakaan” yang sering jadi acuan di program studi ilmu perpustakaan c. Informasi di dalam web Perpusnas

Khusus yang daftar jabatan fungsional, pastikan teman-teman tahu seluk-beluk jabatan fungsional itu, cari peraturannya. Biasanya nama peraturannya “[Nama jabatan] dan Angka Kreditnya” misalnya “Jabatan Fungsional Diplomat dan Angka Kreditnya”

5.b.2. Psikotes

Pelajarin psikotes-psikotes yang biasanya dipakai kayak tes Wartegg atau tes angka. Walaupun tujuan psikotes adalah mengetahui watak, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa practice makes perfect juga di sini.

5.b.3. Wawancara

Maaf kurang banyak informasi soal ini karena aku sendiri kemarin nggak ada seleksi wawancaranya. Tapi dari teman-teman yang ada wawancaranya, biasanya materinya seputar motivasi menjadi PNS dan pengetahuan soal jabatan yang dilamar.

5.b.4. Tes praktik kerja

Beberapa tempat melakukan tes praktik kerja, misalnya microteaching buat dosen atau tes menerjemahkan untuk jabfung penerjemah. Saya sendiri juga nggak merasakan seleksi ini jadi tidak bisa kasih info.

5.b.5. Tes kesamaptaan/fisik

Ada beberapa lembaga yang menuntut tes kemampuan fisik kayak kemampuan atletik, semisal Kemenkeu atau Kemenkumham untuk beberapa posisi. I don’t have much information on this either.

Nah kira-kira itu setumpukan takeaways tentang seleksi CPNS, seluk-beluk pekerjaannya, dan cara-cara seleksinya. Semoga siapapun yang mau daftar bisa berhasil ya, dan nantinya mendapatkan apa yang diinginkan baik saat dan setelah mendaftar, syukur-syukur jika diterima juga. Hit me up should you have any questions. Good luck!

_____________________________

Keterangan Gambar
Tangkapan layar ini berasal dari anime Servant x Service (2013). Ceritanya seputar kehidupan sehari-hari para pegawai pemerintah di suatu kantor kecamatan di Jepang. Cukup relatable buat saya yang sehari-harinya bekerja di pelayanan publik. Hahaha.
Diambil dari blog Lost in Anime. Kalau mau tahu episode pertamanya seperti apa, bisa baca recap di tautan itu.

Leave a Comment

Quarter

It’s been a quarter. But a quarter to what, exactly?

Let’s just start with the basic description of how I am right now:

  • Not in a constant distress, just a routine that sometimes becomes boring
  • Having a good time, but not exactly devoid of any good work
  • Meeting people, but not being attached to them

I have been through things. But to what end they are for, I’m still deciding and waiting for things to unfold.

I just stop expecting anything to happen; I just focus on doing things on my own. Everything that is unfolding and will unfold before me, they are not for me to decide. As long as I know what to do, I think I’ll be fine. Just don’t attach whatever you do into any kind of reward/event that you expect to happen. Whatever is yours will be yours, as long as you happen to meet the conditions. I just need climb towards it with every might I could muster.

“Do things, but don’t make things happen” is what my conscience tells me.

Anyone who is around my age must have heard a lot about quarter-life crisis by now. But come to think of it, haven’t you noticed that this term is somewhat presumptuous? They’re talking about a quarter of our lives as if we’re going to live to eighty or a hundred years. Yes, I read somewhere that a third of humans born after 2000 will live become centenarians, namely people who will have a 100th birthday. But do we have the right to be sure about that? Well, in any case, there seems to be a great number of young adults who suffer from this lack of direction or meaning in their lives. Including me, or maybe you. We have so much to figure out in our brief lives.

What can we do to find meaning? The late psychiatrist Viktor Frankl outlines in his book Man’s Search for Meaning the three ways to meaning:

  1. Creating a work or doing something
  2. Meeting someone and doing things for them
  3. Strengthening yourself in the face of suffering

Let’s talk about these three things. Have I gained meaning from them so far? I’m going to start backwards.

Resilience

For reasons I won’t go into in this writeup, I don’t like my childhood years that much. There were a lot of hard lessons that I had to take and bitter-tasting medicine I had to taste. Sure, they were not Holocaust-level horrors like Viktor Frankl once suffered. But for me, the growing pains were real and they were exactly why I transformed into (I think) a completely different sort of person by now.

I still think I’m missing out on many things. Instead of the joy of childhood, I got myself staring into the abyss. Instead of the playfulness of an adolescent, I sank towards the valley of fear and trembling. In exchange, though, I think I’ve become a more resilient person thanks to these experiences. Broadly speaking, my life these past two and a half decades has taken a path from miserable in my childhood years, terrible during my adolescent years, and then dull and stressful but with many sprinkles of pleasure during this young adult phase (so far). There have still been and there will be things that I had to learn the hard way, but thankfully I’m now in a much better shape to take them head-on.

Attachment

Actually, Viktor Frankl didn’t talk very much about finding someone you love. Maybe it was not much of interest for him. This is a rather difficult subject for me to write about, especially here. But let’s just gloss over the basic ideas I have about it:

  1. It’s kind of useless to talk about love (re: my post about the Djalan Sampoerna manuscript or my attempted translation of a D.H. Lawrence’s poem) because people think about it in wildly different ways
  2. Instead, we can talk about attachment and the need to be attached to others (as per Jacques Lacan’s conception of need)
  3. This is not my attempt to a pessimist or a cynic. In order to settle the matters of heart, we need to have a good understanding of it, and that can only be reached by using the words that can describe our feelings accurately and without any ambiguities. Love is ambiguous; attachment and need are not. As the late Mr. Rogers once spoke, “Feelings that are mentionable are actionable.”

Work

I deem myself to be lucky. I took up college studies in the humanities, and everywhere jobs are so scarce in this sector. Many people I know had to take jobs completely unrelated to the humanities, nothing in common at all with what they were passionate about in their early days. Yet here I am, far from home but doing the work that I think to be important as a humanities-minded person.

So far, money hasn’t become an issue for me. Many people work so they are able to live, but at this moment I live to work. I believe in the value of my work and I think that it helps me grow. It’s enough reason for me to continue doing this despite other people’s skepticisms that I have to swallow.

I am no believer in the advice of follow your passion. Let’s face it: not all passions make money. We can all do the things we love, but those things we love doing don’t always make us better people in the long run, especially in financial terms. This is a fact that rings truer in some work areas, such as the humanities. There’s a really cool book about this, titled So Good They Can’t Ignore You. The writer Cal Newport emphasizes that passion is not a good predictor at all to work success. You might even end up hating your job after the fire of passion has dimmed. Instead, he suggests to find something that is doable and money-making that you can learn to accomplish, then stick on it while trying to improve continuously. Choose a profitable line of work, then learn so much so you can be so good they can’t ignore you. He then outlined the steps to achieve this brand of career fulfillment. In the end, if you can master your work, you will grow a love of it. In Javanese terms, we can speak of this kind of love of work as witing tresno jalaran soko kulino (which can be translated as “love comes from being familiar”).

It’s easy to dislike something that has become ordinary to you. Work is that kind of thing. But if you have grown to love it, you’ll be free from dread and anxiety that comes from work. Even if you think that the work is stressful, you’ll always find reason to come back to it.

And today, on a Sunday, I’m going to my office to work.

What’s next?

As I said before, currently I just focus on doing things. I’m still waiting for things to unfold. There are big plans, but I think I won’t worry about them for the next few months, or even for the next few years for some of these plans. As one line of the opening song in Hamilton put it:

There’s a million things I haven’t done,
But just you wait!

Leave a Comment
In word we trust