Skip to content

Tag: sastra inggris

Puisi tentang Informasi (dan Sekilas Piramida DIKW)

Sang Elang terbang di pucuk Langit,
Sang Pemburu dengan anjingnya mengejar arah terbangnya.
Wahai bintang-bintang yang beredar tak henti,
Wahai musim-musim yang selalu silih berganti,
Wahai dunianya musim semi dan gugur, yang lahir dan yang mati!
Tiada hentinya putaran gagasan dan tindakan,
Penemuan tiada akhir, percobaan tiada akhir,
Membawa pengetahuan akan gerakan, namun tidak ketenangan;
Pengetahuan akan bicara, namun tidak dengan diam;
Pengetahuan akan kata-kata, dan kebodohan akan Kata.
Semua pengetahuan mendekatkan kita pada kedunguan,
Semua kedunguan mendekatkan kita pada kematian,
Tapi dekat dengan mati tanpa dekat dengan Tuhan.
Di mana Hidup kita yang tenggelam dalam bertahan hidup?
Di mana kebijaksanaan kita yang tenggelam dalam pengetahuan?
Di mana pengetahuan kita yang tenggelam dalam informasi?

Berputar-putarnya langit selama dua puluh abad
Menjauhkan kita dari Tuhan dan membawa kita jadi Debu.

Dikutip dari “Choruses from The Rock” karya T.S. Eliot, terjemahan sendiri

Yang spesial dari petikan korus drama The Rock di atas bukan sang penulis T.S. Eliot yang tidak asing dibahas di program studi Bahasa dan Sastra Inggris, bukan pula kualitas untaian katanya secara sastra, meskipun kedua hal ini juga sudah membuat petikan ini di atas rata-rata karya puisi lain. Pada dua bait yang aku tebalkan di atas, ada beberapa konsep yang digambarkan berkaitan satu sama lain. Kebijaksanaan dikatakan tenggelam dalam pengetahuan, dan pengetahuan itu sendiri digambarkan tenggelam dalam informasi. Artinya, menurut Eliot, informasi (information) itu bisa disaring menjadi pengetahuan (knowledge), dan pengetahuan bisa disaring lagi menjadi kebijaksanaan (wisdom). Inilah yang dikutip sebagai asal mula dari istilah Piramida DIKW.

Bagan Piramida DIKW (data, information, knowledge, wisdom). Sumber: Soloviev (2016) dalam Baldassare (2016).

Piramida DIKW (DIKW Pyramid) terdiri dari empat hal yang tersusun bak piramida.

Yang pertama adalah data. Data dapat kita artikan sebagai sinyal, simbol, atau fakta yang ada dalam dunia. Contohnya, ketika kita lihat warna merah, merah itu bisa dilihat sebagai data.

Selanjutnya ada konsep informasi (information), yang bisa kita jabarkan sebagai “data yang berguna.” Bagaimana cara kita bisa membuat data jadi berguna? Caranya adalah dengan memberikan dan menjawab pertanyaan atas data tersebut. Ketika tadi kita melihat warna merah, kita bisa menanyakan, “Ada di mana warna merah itu?” Misalkan saja kita lihat warna tadi di lampu lalu lintas di perempatan jalan. “Kapan warna merah itu terlihat?” Andaikan kita melihatnya pada saat kita membawa kendaraan waktu pergi ke kantor. Dari sini, data berupa warna merah itu sudah bisa kita simpulkan menjadi informasi tentang isyarat lampu lalu lintas yang ditujukan kepada orang yang sedang berkendara.

Berikutnya, informasi diolah lagi menjadi suatu pengetahuan (knowledge). Definisi pengetahuan lebih sulit dijelaskan, tapi secara singkat kita bisa menganggap pengetahuan itu sebagai berbagai kepingan informasi yang terpadu menjadi suatu susunan yang bisa dimengerti. Dari contoh tentang lampu merah tadi, setelah kita mengumpulkan banyak informasi, tidak saja mengenai lampu merah dan situasi kita di tempat tersebut, tapi juga informasi lain mengenai tata cara berlalu lintas dan tata cara berkendara yang kita pelajari waktu ujian SIM, kita jadi tahu bahwa pada saat kita melihat warna merah di lampu lalu lintas, kita diwajibkan untuk berhenti.

Terakhir, di puncak piramida, ada konsep kebijaksanaan (wisdom). Ini lebih sulit lagi diartikan ketimbang pengetahuan, tapi pendeknya dapat kita katakan bahwa kebijaksanaan itu ialah kemampuan atau keadaan seseorang untuk memilih dan melakukan hal yang benar (what is right) dan hal yang terbaik (what is best) berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka punya. Masih dengan contoh lampu merah, jika kita orang yang bijaksana, maka kita akan bijak memilih untuk menghentikan kendaraan saat melihat warna merah di lampu lalu lintas perempatan. Banyak orang yang tahu arti warna merah di lampu lalu lintas dan apa yang harusnya mereka lakukan, tapi mereka tidak cukup bijak sehingga memilih untuk langsung menerabas. Mereka kurang mempertimbangkan beberapa pengetahuan yang lain yang harusnya atau bahkan sudah mereka punya, semisal tentang kemungkinan terjadinya kecelakaan dan efek dari kecelakaan tersebut atas keselamatan badan mereka.

Gambaran lain tentang DIKW dalam bentuk proses, dengan tambahan konsep pemahaman/understanding dan juga pengetahuan yang sifatnya tersurat (e = explicit) dan tersirat (t = tacit). Sumber: Wikimedia Commons.

Puisi T.S. Eliot tadi memasukkan informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan, tapi tidak dengan data. Ini bisa kita mengerti karena konsep yang kita kenal sekarang soal data (seperti misalnya dalam istilah data di komputer, data penelitian, atau jargon data science dan big data) itu baru populer setelah drama yang memuat bait puisi ini terbit pada tahun 1934. Lebih tepatnya lagi, konsep data baru umum digunakan setelah ditemukannya komputer modern dari konsep Mesin Turing (Turing Machine) yang digagas ilmuwan Alan Turing sekitar tahun 1936.

Piramida DIKW buatku sangat membantu sebagai alat berpikir (mental model), walau tentu banyak yang akan tidak sepakat dengan pengertian-pengertian di atas. Menurutku, Piramida DIKW ini skema yang lebih sederhana ketimbang model-model mengenai pengetahuan yang lain, seperti Taksonomi Bloom. DIKW ini juga punya posisi yang spesial buatku karena aku sendiri juga bekerja di bidang yang terkait dengan informasi (khususnya ilmu perpustakaan dan informasi), banyak yang terpikir bahkan dari membaca petikan puisi TS Eliot di atas saja. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk menggali konsep ini lebih jauh lagi. 😀

Leave a Comment

Cara Menulis Skripsi yang (Tidak) Baik dan (Tidak) Benar

(Tulisan ini adalah himpunan dari twibung yang sempat kubuat beberapa waktu yang lalu.)

Bukan alay kalau ada orang yang bilang nulis skripsi itu susah, dan memang jangan diremehkan kalau ada yang bilang begini. Nggak sedikit orang yang kena masalah kesehatan mental gara-gara skripsi. Jangan sampe gitu ya, rek.

Nah, untuk itu, mari kita bahas beberapa hal yang harus dihindari (dan jika sudah telanjur terjadi, sebaiknya segera diperbaiki) ketika menulis skripsi. Tentunya karena jurusanku sendiri Sastra Inggris, penjelasannya juga akan berkait dengan skripsi di jurusan ini, walaupun bisa juga digunakan buat jurusan lain (to some extent).

Harapannya, dari penjelasan ini, teman-teman nggak bingung dalam proses menulis skripsi sehingga hasilnya pun bisa sesuai dengan yang teman-teman harapkan. 😉

Oke, mulai ya:

#1 : Nggak tahu kenapa harus nulis skripsi

Buat apa sih susah-susah nulis skripsi? Sejujurnya, boleh aja kita protes begini karena toh di luar negeri sekalipun nggak banyak negara yang mewajibkan mahasiswa S1-nya untuk bikin skripsi.

Tapi karena toh semua akan nulis skripsi pada waktunya, kita harus paham dulu tujuan dari adanya skripsi ini.

My take is, skripsi itu secara umum bisa jadi sarana untuk membuktikan bahwa kita sudah memahami apa yang kita pelajari waktu kuliah.

Pemahaman itu dibuktikan dengan cara menganalisis kejadian yang ada di dunia dengan kacamata disiplin ilmu yang kita geluti. Jangan tanya itu definisi dari mana karena itu buatanku sendiri, tapi rasanya nggak akan bertentangan dengan deskripsi mata kuliah di buku kok hehehe.

Artinya, skripsi yang kita buat jangan sampai keluar dari gambaran di atas. Jangan bikin skripsi yang terlalu teoretis, yang di situ kita munculkan gagasan baru di luar kajian terdahulu. Ini akan menyusahkan kita waktu sidang, dan biasanya dosen pembimbing juga akan mengoreksi kok. Jangan pula bikin skripsi yang susah dikaji secara ilmiah (contoh: pengaruh golongan darah terhadap cara pemerolehan bahasa), apalagi yang di luar materi kuliah.

Intinya sih, jangan nulis dengan pokok bahasan yang “terlalu ilmiah” ataupun “kurang ilmiah”. Tulislah skripsi yang sifatnya deskriptif dan topiknya dekat dengan keseharian aja. Artinya, di situ teman-teman mengamati fenomena terjadi dan menuliskannya sesuai pemahaman yang kalian dapat di materi kuliah.

Akan baik kalau skripsi yang kita tulis itu sesuai dengan minat kita. Lebih bagus lagi kalau sesuai dengan profesi yang ingin kita tekuni di masa depan, walaupun ini juga nggak wajib. Misalnya, kalau nanti pengennya jadi translator, ya bikin aja skripsi tentang perbandingan machine translation dengan terjemahan manual manusia. Kalau kamu pengen jadi copywriter, bikin aja kajian semiotik/SFL/dll. soal media iklan di perusahaan yang bagus.

Itu yang pertama. Jadi teman-teman harus sadar dulu kalau skripsi itu menguji pemahaman kita soal apa yang kita pelajari waktu kuliah. Jadi jangan sampai melenceng dari ini. Lanjut~

#2 : Tidak memilih topik penelitian yang menarik

Despite of what people often say, Sasing itu urusannya bukan cuma bikin puisi atau akting drama-dramanya Syekspir. Banyak sekali yang bisa dikaji. Saking banyaknya, seringkali ada yang bingung soal apa yang mau dijadikan topik.

Nah ini ada hubungannya sama poin pertama tadi. Setelah paham apa yang harus ditulis di dalam skripsi, persoalannya sekarang adalah topik bahasan apa yang menarik buat ditulis di skripsi. Harus menarik dong, karena nanti kita harus mempertahankan hasil kajian kita di depan penguji. Biasanya, kalau sudah tertarik, apa yang kita tulis betul-betul bisa kita pahami.

Terus caranya dapat topik yang menarik buat skripsi gimana? Ada 2 hal yang harus diperhatikan.

Yang pertama, tentu kamu harus tahu dulu minatmu di mana. Nah ini untungnya lagi kuliah di Sasing. Practically anything can be related to what we do in our major, entah itu linguistics, cultural studies, atau literature. Suka sepak bola? Bisa analisis komentarnya Bung Valentino Simanjuntak dari segi pragmatiknya. Suka make up? Bisa analisis tentang perbedaan penguasaan kosakata warna di antara laki-laki dan perempuan. Suka nge-game? Bisa analisis gaya bahasa dalam in-game interaction di antara para pemainnya.

Yang kedua, setelah kamu menemukan hal menarik yang ingin kamu tulis buat skripsi, kamu juga harus bisa memilih konsep dan teori apa yang bisa dipakai buat menganalisis kejadian yang ada dalam minatmu itu. Jangan dibalik. Jangan milih konsep/teori/kajiannya dulu sebelum milih objek. Yang ada nanti kalian bakal bingung mencocokkan teori sama objeknya, yang itu baru bisa kalian lakukan setelah mempelajari dari berbagai sumber.

Ini poin bahasan kita selanjutnya.

#3 : Tidak mengenal area kajian yang ditulis di skripsi

Sudah paham tujuan skripsinya, sudah dapat objek, dan sudah nemu teori yang bisa dipakai. Nah, sering ada yang pada akhirnya nggak bisa menulis dengan lancar karena kurang paham dengan batasan-batasan kajian mereka.

Misalnya, ada yang mau nulis soal code-switching di vlog-nya Sacha Stevenson (contoh ngawur aja ini), tapi sendirinya kurang paham apa sih yang dibahas dalam konsep code-switching itu? Apa bedanya code-switching dengan code-mixing? Biasanya yang begini ini terjadi karena sekadar mencocokkan topik skripsi dengan teori/konsep yang dipakai. Padahal yang juga penting adalah memastikan bahwa kita paham teori/konsep yang nanti dijadikan dasar menulis skripsi.

 

Kalau kita nggak sadar soal ini dari awal, akibatnya kita bakal kebingungan waktu nulis skripsi. Bisa jadi gara-gara ternyata objek yang kita punya susah dijabarkan dengan teori kita. Bisa juga gara-gara dosen pembimbing pun kurang sreg dengan ide yang kita punya.

Nah caranya gimana supaya kita paham landasan teori kita? Ya banyak belajar dong, masak banyak browsing Instagram. Belajar nggak harus lewat buku atau artikel jurnal yang kita dapat di kelas aja, kok. Di internet banyak tutorial soal linguistik, kajian budaya, atau sastra. Malah ada video-videonya juga di YouTube. (Moga-moga nanti bisa bikin postingan soal ini).

Pastikan teman-teman mengumpulkan beberapa catatan dari buku/artikel/video/halaman web yang teman-teman baca, jadi sekalian nabung referensi gitu lah ceritanya.

Jangan cuma sumbernya aja yang dikumpulin, tapi kalau bisa kalian punya catatan mengenai tiap sumber yang isinya rangkuman (kalo ada abstrak ya abstraknya aja di-copas ke catatanmu) sama bagian-bagian menarik yang bisa dimasukkan dalam skripsi.

Lanjut yok.

#4 : Nggak membangun hubungan yang baik dengan dosen pembimbing

Nah ini yang sangat penting. Kayaknya sudah jadi rahasia umum kalau banyak mahasiswa yang punya hubungan kurang harmonis sama dosen pembimbingnya. Entah susah ketemu, entah gak sepakat terus soal skripsinya, banyak lah.

Menurutku sih hal-hal kayak begini muncul karena mahasiswanya cenderung menganggap kalau skripsi itu sama kayak tugas kuliah biasanya, yang tinggal dikerjaiiiin terus sampe selesai.

Padahal, idealnya cara ngerjakan skripsi nggak seperti itu. Aku lebih suka menganggap skripsi itu sebagai tugas kelompok, yang kamu adalah salah satu anggotanya.

Lha terus siapa lagi anggota kelompoknya? Ya dosen pembimbing. 😀 Biasanya ini kelihatan waktu kita nulis artikel jurnal, yang di situ dosen juga dimasukkan sebagai salah satu penulis di samping nama kita.

Nah, sebagaimana “tugas kelompok” pada umumnya, kita juga harus teliti dong dalam menentukan “teman sekelompok” kita. :)) Apalagi “teman sekelompok” ini juga yang berperan dalam menentukan nilai kita. Makanya, pilihlah dosbing yang sesuai dengan kebutuhanmu.

Yang perlu dipertimbangkan bukan hanya soal bidang keahlian dan minat riset dosennya aja, tapi juga cara beliau dalam membimbing. Nah ini yang seringkali kelupaan dalam mempertimbangkan calon dosbing.

Ada dosbing yang dari awal sudah ngasih masukan soal judul apa yang bisa diteliti beserta teorinya. Malah bisa jadi dosen dan rencana skripsinya sudah satu paket. (haha)  Biasanya ini dilakukan oleh dosen yang memang punya kegiatan riset yang perlu melibatkan banyak peneliti.

Ada lagi dosbing yang lebih memosisikan diri sebagai partner diskusi. Jadi waktu bimbingan, kamu harus siap dengan bahan yang mau kamu ajukan, dan harus siap juga didebat sama sang dosbing. Dari situ, harapannya waktu sidang nanti kamu sudah punya kepercayaan diri dan argumentasi yang kuat.

Ada pula dosbing yang lebih berperan untuk ngecek skripsimu, entah itu dari segi bahasa/penulisan atau dari isinya. Selama kamu bisa memakai konsep-konsep dan menjalankan metodemu dengan benar, beliau akan oke-oke saja.

Jadi intinya, bikin pertimbangan yang matang dulu sebelum memilih dosbing, karena ini akan mempengaruhi caramu nulis skripsi nantinya.

Oh ya, jangan nunggu sampai ngisi formulir K08 (pendaftaran mata kuliah Thesis) buat nyari dosbing. Yang lebih bagus, konsultasilah ke dosbing incaranmu dari awal, bahkan kalo bisa sejak kamu ambil matkul proposal/TWD.

Kalo sudah ada komunikasi sejak dini gini, selama mahasiswa bimbingan beliau nggak terlalu banyak, kayaknya bakal lebih gampang buat dapat dosbing yang kalian inginkan.

Ketika sudah dapat dosbing, jangan lupa buat menentukan jadwal bimbingan dan metode bimbingan dengan dosbing dari awal. Misalnya, apakah beliau mau menerima hasil kerjaan kita dalam bentuk print-out atau malah harus via e-mail? Kapan deadline buat menyerahkan draf sebelum bimbingan? Dan sebagainya.Kalau ketentuan udah jelas dari awal, kan nanti sama-sama enak, nggak saling bingung kayak lagi nyari sandal ketuker di masjid~

Next!

#5 : Nggak membuat rencana penulisan yang baik

Nah yang terakhir, tapi juga paling krusial, hati-hati dengan waktu. Skripsi beda dengan mata kuliah lainnya yang punya silabus dan agenda per pertemuan. Dalam menulis skripsi, kamu harus bisa memetakan sendiri apa yang mau kamu kerjakan selama satu semester skripsi.

Artinya, segala macam tetek bengek skripsi sebaiknya sudah kamu pikirkan sejak awal. Berapa kali harus bimbingan? Bulan apa harus ganti bab? Bulan apa semuanya sudah harus jadi?

Kalau teman-teman nggak memperhatikan ini, bisa jadi masalah di belakang waktu mau mengajukan sidang. Entah itu jumlah bimbingannya kurang lah, masih banyak revisi lah, atau malah lupa menuhin syarat ELPT/tes bahasa Inggris yang lain. Bisa-bisa mundur pula nanti sidangnya.

Saranku, supaya teman-teman bisa estimasi waktu dengan baik, bikinlah timeline pengerjaan dari belakang. Ambil satu tanggal yang di situ skripsi harus sudah final dan tinggal di-submit buat mendaftar sidang.

Dari situ, mundur ke belakang. Kapan bab 5 harus selesai revisi? Kapan bimbingannya? Kapan bab 4 harus jadi? Dan seterusnya sampai kamu tiba di tanggal hari ini, atau awal semester lah paling nggak.

Harapannya dengan ada timeline itu teman-teman jadi berkurang takutnya akan skripsi, karena pekerjaan besar itu sudah di-breakdown jadi tugas-tugas yang lebih kecil dan manageable. Lagian ngapain juga takut, toh skripsi ngga makan orang kayak Badut Pennywise~

Satu lagi. Akan bagus kalau kamu bikin presentasi TWD (thesis writing design a.k.a proposal skripsi)/skripsi dulu sebelum ngerjain the real thing-nya. Lho kenapa? PPT yang kamu bikin itu bisa berfungsi sebagai outline, sehingga waktu nulis nanti kamu nggak kehilangan arah atau kebingungan.

Skripsi itu minimalnya aja bisa sampe 50 halaman/14000 kata lho. Makanya kalo nggak ada kerangka berpikir sebelumnya, bisa jadi tulisan kita bakal gak nyambung atau melebar ke mana-mana.

Ini juga bisa jadi semacam persiapan mental dikit-dikit menuju sidang. Kalo kamu udah lihat dan utak-atik PPT dari awal, Insyaallah nggak begitu deg-degan lah nanti waktu ketemu penguji.

Besides, lebih gampang mengembangkan ide-ide dari outline yang kita buat di presentasi ketimbang bikin presentasi dari skripsi kita yang sudah luar biasa panjangnya itu.

Satu lagi yang penting: SIMPEN SKRIPSI KALIAN DI CLOUD STORAGE. Mau di Google Drive, OneDrive, Dropbox, Idup.in, Indowebster, Stafaband, bebas! Asal jangan simpen di hard-disk, apalagi di flashdisk atau HP. Duh, jangan. Ga perlu dijelasin kenapanya kan?

Byuh ternyata panjang juga ya. Kalau ada yang kurang jelas, tanya aja ke saya, jangan nanya ke peramal zodiak atau tarot~

Kalau niatnya bagus dan cara ngerjakannya baik, sebetulnya skripsi itu nggak sesusah itu kok. Moga-moga skripsi teman-teman lancar dan hasilnya bisa memuaskan. Good luck!

Leave a Comment

Kaleidoscope, or Why I am an English Literature Student

Oftentimes, I am just tempted to ask myself: why do you have to be here?

By being here, I mean for being placed in this university and taking this major.

Actually, I had planned to take a major in informatics or computer science and aspired to study in Institut Teknologi Sepuluh Nopember. However, as I approach the half of 11th grade, I found my interest for it had dimmed. I feel that my passion does not lay in working discrete mathematical problems or designing algorithms. Truth to be told, I even have a poor understanding of mathematics. It’s very frustating to be working in problems, solving equations when actually I even can’t do basic arithmetic calculations. So, by the end of the sixth semester I already considered other options for my higher education.

I first read philosophy when I was in junior high school. At first glance, philosophy is shocking for me because it forces people to question things they have taken for granted. But after reading Sophie’s World (it’s a truly great book and I’d recommend anyone to read it), I am turned to be a ‘philosopher’ by definition that everyone is in fact a philosopher. It affects the way I see and think about things to this day. Based on this fondness, I considered taking a philosophy degree. There are currently only two state university that offer a bachelor (sarjana) in philosophy, which are Universitas Indonesia and Universitas Gadjah Mada. Studying philosophy will take me apart from whatever I’ve learned in school, which I hated the most.

There’s a problem with taking a philosophy degree, though. As people already said, job opportunities for philosophy bachelors are scarce. Apart from being a lecturer, someone who has a philosophy degree will probably work on fields relatively unrelated to their study such as becoming a journalist, writer, or even an actor or actress (one Indonesian artist really has a philosophy degree, do you know who that person is?). On a not-so-serious note, actually the easiest way you could become a student of UI is by taking a bachelor of philosophy as your choice in SNMPTN/SBMPTN/SIMAK. In SNMPTN 2012, from 25 seats offered for the S1 Ilmu Filsafat only 14 participants chose it. It’s a very good option if you’re so desperate to be a student of UI. :mrgreen:

Here’s some quote I found in Reddit that I use as a guide for choosing a major:

People will encourage you to “study what you love” and things like that. I just disagree completely. Study something practical, and then study what you love in addition to that (in the form of a minor or a second major).

Even though I have a passion in philosophy, it doesn’t mean that it’s good to just study it. We need to think about the opportunities that our study will give us in the future. Given the rate of competition that keeps raising by the years, it’s only logical to choose a major that give more security for finding jobs in the future. For this reason, I was forced to choose something else for my major.

At early 12th grade, by some chance, I found another field that I was interested in: Literature.

So, choose why literature all of sudden? Basically, I’m someone who is fond of reading and writing.  If you hate seeing letters and feel more comfortable writing formulas or codes, then considering amajor of literature is out of question. Another reason is that both literature and philosophy belong to one discipline (and oftentimes one faculty): humanities.  Of course literature is not at all the same with philosophy. But, when you study literature you will certainly meet philosophers within your books. Both literature and philosophy requires their student to be a careful and understanding reader while being an excellent and communicative writer, too. Most importantly, both require their students to think critically and be able to indulge in abstract concepts. In short, there are many similarities between the two fields. If you like to write, read, and think, then a literature department will probably be a perfect place for you.

But that still leaves me (or you, dear reader) with one final question: why English Literature?

Some say that a S1 Sastra Inggris degree may no longer has good prospects in the future. It’s just too mainstream. Most of public and private universities around the country have a S1 Sastra Inggris program. There are too many graduates competing for steady job demands. However, in my opinion the job competition in the humanities sector is not as fierce as the competition in other fields. There are a lot of job opportunities, too. Among the available jobs are in translation, broadcasting, public relations, linguistics (basically, being a language scientist), or even the diplomatic corps. An English Literature graduate will have a job opportunity of literature, communication science, and international relations combined. Some of my friends really work as a presenter in television or radio. Pretty promising, isn’t it? Well, I’ve got no statistics or data that supports my belief. It just came from common sense, although I do know that what people call “common sense” tends to be misleading.

So, that’s it.

1 Comment
In word we trust