Skip to content

Tag: perpustakaan nasional

Sinaga dan Soetjipto

Indonesia punya topik baru, yaitu seorang mahasiswa yang bernama Reynhard Sinaga. Baru-baru ini tersiar kabar bahwa yang bersangkutan telah dijatuhi hukuman seumur hidup atas kelakuan bejatnya memperkosa ratusan pria di Manchester, kota tempatnya tinggal dalam rangka berkuliah. Yang menjadikan orang ini sangat santer dibicarakan bukan hanya karena dia dianggap sebagai pelaku perkosaan berantai terburuk sepanjang sejarah Kerajaan Serikat (United Kingdom). Tampaknya yang membuat orang Indonesia sangat bersemangat memperbincangkan Sinaga adalah bahwa dia adalah seorang pemerkosa yang juga seorang gay. 

Perilaku gay, homoseksual, dan LGBT pada umumnya dianggap sebagai suatu penyakit. Jika ada orang terpergok suka sesama jenisnya, langsunglah ia dicap sebagai manusia berpenyakit jiwa dan dianggap seolah dia bukan bagian dari masyarakat yang menjunjung Ketuhanan Yang Maha Esa. Adanya Reynhard Sinaga ini pastinya menjadi bahan bakar untuk menyemarakkan prasangka di masyarakat yang semacam tadi. Di mata orang Indonesia, Reynhard menjadi representasi LGBT itu sendiri: terlihat tanpa dosa tapi berkelakuan bejat dan bersikap seperti psikopat yang tak menyesali perbuatannya sedikit pun. 

Saking semaraknya orang memperbincangkan Reynhard Sinaga, mereka barangkali lupa atau tak sadar bahwa ia bukanlah satu-satunya gambaran orang LGBT di Indonesia. Kalau kita mau berhenti mendengarkan syak wasangka yang sehari-hari kita anut dan mulai membaca sekitar secara jujur, kita akan banyak menemuman orang-orang lain yang suka sesama jenis tanpa sedikitpun kebejatan dalam hati, namun justru keinginan untuk menemukan kebaikan dan kebenaran sejati. Salah satu contoh yang harus kita lihat adalah Soetjipto. 

Soetjipto sudah lama tiada. Kita tidak tahu kapan dan di mana ia meninggal, tapi kita tahu bahwa Soetjipto dilahirkan tahun 1915 di Balongbendo, Waru, Sidoarjo. Hal ini dituliskan Soetjipto dalam naskah memoarnya yang berjudul Djalan Sampoerna, yang ia selesaikan tahun 1928. Sampai hari ini, naskah ini masih bisa dibaca di Perpustakaan Nasional, dengan tajuk entri katalog Jalan Sempurna Hidupku. Naskah setebal 200 halaman ini ditulis menggunakan mesin tik, dengan ilustrasi di beberapa halaman.

Di masa kolonial Belanda, belum ada yang namanya gerakan LGBT. Penjajah waktu itu pun punya sikap yang keras terhadap orang-orang yang diketahui suka dengan sesama jenis. Namun, pada saat itu Soetjipto secara terang-terangan berkisah tentang cinta pertamanya pada umur 13 tahun dengan seorang “kanda” yang umurnya terpaut dua tahun dengan dia.  

Soetjipto bertutur mengenai awal mula pertemuannya dengan sang kekasih di jalan menuju ke H.I.S. Situbondo tempatnya bersekolah. Setelah sempat kehilangan jejak selama beberapa hari, ia kembali bertemu dengan sang “kakak” pada perayaan bertahtanya Sri Ratu Wilhelmina. Hatinya diliputi kesenangan dan kasih saat mereka bercinta, di samping keragu-raguan tentang bagaimana bisa seorang laki-laki jatuh hati pada laki-laki lain. Mereka kerap bertemu di sela-sela jam istirahat sekolah dan menikmati hari-hari berdua sebagai sepasang kekasih. Sekira 7 bulan kemudian, di atas bukit yang mengintai tempat para santri  bertirakat, sang kakak menuturkan bahwa mereka harus berpisah lantaran ia harus meneruskan sekolahnya ke Malang. Hati Soetjipto pun hancur. Patah hati yang dialaminya itu ia tuangkan dalam paragraf berikut: 

TJINTA-ah berat benar Orang mengan [sic] t j i n t a itoe. Demikijanlah rasanja orang mengandoeng t j i n t a itoe, koerasa bertambah tambah terbajang, koeloepaken boekannja mendjadi loepa, tetapi semangkin inget rasanja. Tetapi kalau koe pikir jang betoel, tida baiklah keadaan ini. Perkara Rama Tiri taro hati bentji padakoe, itoe tida apa; karena itoe telah Nasipkoe. Biarlah koekoewat-koewatken atikoe di dalem taoen ini, karena doeloe saja perloe memoetoesken olehkoe beladjar sekolah. Tetapi kalau demikijan sela anja, tentoe tida baik adanja, ka rena [sic] jang selaar lamanja hanja bertemoe dengan moeka asa sadja. Tetapi sadja saja h e r a n! Ah, mengapa maka lakisama laki sadja bisa djatoeh tjinta jang demikijan ini? ………………….. O, ja; djadi kelau begitoe t j i n t a itoe ada terletak di segala roepa keadaan. Biarpoen pada a n a k, b i n i, t e m a n, dan segala roepa keadaan, semoanja ada terletak tjinta; tetapi jang membikin tjinta, jalah b a d a n s e n d i r i. Djadi sekarang soeda trang bahwa tjinta itoe ada soewatoe keadaan jang tijada bergoena. Ada banjak dari pepatah Orang Belanda, menoendjoeken tijada dari keadaan tjinta itoe, jang dengan di djadiken pepatah kata, demikijan:

Liefde is vondervel! 
Liefde is verschrikelijk! 
Liefde is zacht! 
Liefde is brutaal! 
Liefde is wreed! 
Liefde is heeld! 
Liefde is v u u r! 
Liefde is i j s! 

Ada banjak lagi jang menoendjoeken matjem-matjem kata-kata, dari keadaan t j i n ta (Liefde) itoe. Jalah tjinta itoe bisa menjdadi-djerat leher siapa jang di lekati. Kebanjakan orang harta bendanja abis kaena [sic] dari…………, demikijan poela jang sampai ada jang keloewar tali peroetnja, karena dari……….., apa lagi jang bertaoen-taoen di dalem pendjara. Djadi trang bahwa itoe semoewa hanja karena di lekati t j i n t a sianat itoe sadja. Ada banjak lagi dari djalan kesoesaan, kebingoengan, kenespaan, jang djalannja hanja dari tjinata [sic] itoe sadja. Daji terang sekali bahwa keadaan tjinta itoe ada soewatoe keadaan jang tijada berfaedah. Tetapi sekarang boewat dirikoe, perkara t j i n t a itoe telah tijada terletak padakoe. Jalah karena saja ada o b a t jang boewat………. mempoewasken Napsoekoe. Meskipoen saja tida kawin, djoega tida apa-apa; seperti t e m a n koe atau Dokter jang di kediri itoe. Oo, jaaaa; masi ada banjak lagi djalan bagai kesoesaan; tetapi oempama ranting pohon, ialah jang sebesar-besarnja. Nau, perkara itoe.’ Sekarang soeda abis perkara; karena soeda rasa selesai di dalem h a t o k o e [sic].

Djalan Sampoerna hlm. 62-63

Apa sebetulnya yang bisa kita ambil dari sini? Bagiku, ini adalah suatu tanda bahwa meskipun berbeda orientasi seksual, orang yang suka dengan sesama jenisnya pun merasakan cinta yang sama tulusnya dan sama murninya sebagaimana mereka yang berkasih-kasihan dengan lawan jenis. Soetjipto membuktikan lewat memoarnya bahwa dirinya adalah sebenar-benar manusia, bahkan meskipun ia sadar bahwa perilakunya tidak umum dijalani orang.  

Yang juga penting dalam naskah ini adalah bahwa kaum LGBT di Indonesia tidak menjadi seperti mereka saat ini hanya gara-gara pengaruh ide dari “Barat.” Bahkan sebelum terma LGBT itu sendiri lahir, telah hidup orang-orang yang berperilaku non-heteroseksual. Kita boleh saja berdebat apakah perilaku LGBT itu pantas dianggap normal atau tidak. Tapi kisah semacam ini adalah bukti sejarah yang sulit ditolak bahwa perilaku LGBT sudah ada jauh sebelum kita ramai-ramai mempermasalahkannya seperti sekarang ini. 

Naskah Djalan Sampoerna sendiri tidak berhenti di soal cinta sesama jenis Soetjipto saja. Justru ia lebih banyak bertutur mengenai perjalanan batin yang dilalui Soetjipto menuju jiwa yang murni. Sayangnya, mendiang Benedict Anderson yang mempopulerkan naskah ini lewat terjemahannya hanya menyampaikan kembali 90 halaman pertama saja. Setelah ditinggal oleh sang kekasih, Soetjipto menghadapi konflik dengan ayah tirinya, sampai-sampai ia harus kabur dari rumahnya dan luntang-lantung mencari sanak familinya di Surabaya, Waru, Kudus, dan Kediri. Aku pun belum lagi sempat membaca sisanya, yang sama sekali belum bisa diakses selain lewat naskah asli dan rekaman mikrofilmnya.

Membaca karya Soetjipto ini menjadi penting di tengah-tengah masyarakat yang semakin antipati terhadap kaum LGBT gara-gara tingkah Sinaga yang dengan keterlaluan mengklaim bisa memberi ramuan untuk membuat orang jatuh cinta (yang ternyata diketahui adalah obat tidur untuk membuat korban-korbannya tidak berdaya saat diperkosa). Kita harus ingat bahwa bejatnya Reynhard itu bukanlah karena ia seorang gay. Di samping 1 orang gay yang menempuh jalan kebusukan seperti Sinaga, barangkali ada sejuta orang gay yang berjuang menuju jalan kesempurnaan sebagaimana halnya Soetjipto mengalaminya, hampir seratus tahun silam. 

2 Comments
In word we trust