Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Ekstrakurikuler

Waktu SD dulu, saya suka bergonta-ganti ekstrakurikuler. Kelas 1 SD melukis, kelas 2-3 teater. Kenapa tidak konsisten begitu? Karena…. ah, susah dijelaskan. Saya cuma merasa ekstrakurikuler itu tidak cocok untuk saya. Nah, setelah hengkang dari teater, terus apa? Saya ikut sebuah ekstrakurikuler yang dinamakan SIAS. SIAS adalah Sanggar Ilmiah ala Sekolah Saya. :mrgreen: Singkatannya memang seperti itu, kok.

Jadi alkisah, saya berkenalan dengan ekstrakurikuler tersebut dan langsung suka. Saya jadi bisa lebih sering memegang-megang mikroskop dan kit-kit di lab sains SD. Walhasil, jadilah lab tersebut salah satu spot favorit saya waktu itu. Saya mengenal peralatan laboratorium dari sana. Saya masih ingat ketika percobaan mengamati pernafasan pada tumbuhan air (yang pakai labu Erlenmeyer dan tabung reaksi dibalik itu), juga percobaan rangkaian listrik dinamis dengan kit listrik.

Tapi yang paling berkesan bukan percobaan-percobaan itu. SIAS memperkenalkan saya pada metodologi ilmiah. Saat materi tentang metodologi ilmiah, selain mengajarkan bagaimana cara menyusun laporan ilmiah, guru pembina saya juga mengajarkan pentingnya berpikir kritis. Saya masih ingat waktu itu beliau memberi tugas yang kira-kira seperti ini:

Saya akan menunjukkan sebuah objek. Cari minimal 20 deskripsi dari benda ini, kalau sudah kumpulkan ke saya di ruang guru.

Kemudian beliau menempelkan secarik kertas putih polos ke papan tulis dan langsung pergi.

Saya, seperti anak-anak lain jelas bingung. Saya lupa apakah saya berhasil menyelesaikannya atau tidak. Ah, yang jelas itu mengubah cara pandang saya terhadap mata pelajaran sains untuk selama-lamanya. ๐Ÿ˜€

Selain SIAS, waktu itu saya juga ikut ekstrakurikuler lain yang saya lupa namanya. Katanya, yang masuk ekstrakurikuler tersebut anak pilihan. Dan pilihannya adalah berdasarkan mata pelajaran. Singkat cerita, saya masuk ekstrakurikuler tersebut melalui jalur IPS. Ya, waktu itu saya memang jago IPS meski tahun depannya malah mendapat juara 2 olimpiade matematika yang diadakan sekolah *lho*. Yang ini pengalamannya nggak seberapa, sih. Tapi saya mulai jadi lebih jago pengetahuan umum sejak itu, yang menyebabkan saya direkrut menjadi pengada soal pengetahuan umum untuk sebuah lomba di SMA saya (yang baru saja berakhir).

Seingat saya, ekstrakurikuler tersebut sebenarnya cuma semacam pengayaan. Pembinaan, kalau pakai istilah olimpiade sains di SMA saya sekarang. ๐Ÿ˜†

2 Comments

A Lesson to Remember

It was the day of my appointment as a leader. That time, I can’t help but lamenting on the ridiculousness of what happened: how come some overly introverted and deficient person appointed to lead a group of eighteen people? But she who placed me in that unfitting position seemed to know what she had decided, and she looked like she had made the correct decision. “Perhaps I’m the best of the worst,” I tried to give myself some “motivation”.

Even with all the halfheartedness, I striven to serve the people I was leading. Yet, as I had predicted, they wouldn’t listen to me at all. Or maybe only a little. When there’s fault that happen to came to the people I lead, it was I who must took the responsibility. Briefly said, it was pathetic.

Another day, I lost my faith in myself and asking for my resignation to the person who appointed me back then. But what that person has said to me? “You really don’t understand what being a leader means”. And so, with my request rejected, I wondered about what she said. I still haven’t found the answer until the time I took an even greater responsibility came.

I was elected as leader of an organization, this time far bigger and higher than the previously mentioned. And what followed was exactly the same as happened before. I felt nothing but helplessness. The organization I was leading was nothing than just list of people. I even didn’t took part in an important event that should have me involved. In the end, I met a terrible failure. I believe I was ruining my organization, though no one has said I had done so.

And that’s how my years of leading passed. The days after that, I only wondering of those blunders I’ve made those times. And, well, I realize that all I used to be wasn’t a leader at all. I just telling people whom I thought to be my subordinates to do this and that without even listening and understanding them. There are way too many mistakes to explain here, I suppose.

But the least I could learn from those failing days was: leading is a heavy burden and one should not have pride just because oneself is a leader because it is nothing to be proud of. And that’s why I always respect the people who act as my leader, because leading is not a simple matter.

1 Comment

Catharses Medley #1

Catatan: Di bawah ini adalah hasil salin-tempel catatan saya di Facebook bertanggal 3 Januari 2011 dengan penyuntingan. Mungkin ke depannya saya sekali-sekali akan menggunakan model tulisan seperti ini, membahas beberapa tema sekaligus dalam satu tulisan secara singkat dan tidak menyeluruh. Diharapkan pembaca bisa mendalami sendiri kalau dirasa perlu. Insyaallah bahasan yang lebih panjang dan lebar akan dibuatkan tulisan tersendiri.

———-

Sebagai prolog, saya menulis seperti ini sebenarnya cuma gara-gara keinginan berkatarsis yang tertunda sejak lama dipicu oleh beberapa alasan: malas, malas, malas, dan banyak kerjaan. Kerja apa saja itu? Yang jelas tidak banyak, kok. Hanya saja saya suka menunda-nunda pekerjaan dan mengeluh yang sebenarnya tidak perlu sehingga tugas itu terasa seperti menyampaikan risalah kenabian di atas jejak para rasul. Lebih banyak waktu saya tersita untuk melihat layar komputer berkeliling-keliling mencari link yang menarik dan menamatkan game jadul yang sebenarnya sudah sejak SD saya coba tamatkan (sekarang pun belum tamat!). Oh, juga untuk membeli buku dan nonton anime.

Cukup sekian prolognya.

Sebagaimana yang saya lakukan pada masa-masa PPS menjelang lulus SMP, saya biasanya menuliskan poin-poin penting yang saya pikirkan sebebas-bebasnya (karena itulah yang menjadikan ini katarsis). Yang sering kali kumenthus dan ditambah-tambahi tulisan berbahasa Arab yang sebenarnya adalah judul-judul barang asal Jepang, saking bebasnya. Dan sekarang saya hendak menerapkan cara yang sama dengan harapan bisa sedikit melepas penat dan menguras waktu pembaca.

Amanah

Amanah itu sangat berat. Sekalipun saya sudah berulang kali tertimpa amanah yang untuk ukuran seorang siswa sangat besar, tapi baru kali ini saya merasakan beratnya beban amanah itu. Saya berpikir kembali dan agaknya sedikit memahami mengapa Gusti Allah berfirman pada [33:72] bahwa manusia itu bodoh dan zalim karena mau-maunya menerima amanah yang bahkan ditolak oleh langit dan gunung. Tapi seperti yang saya bilang di awal, mungkin saya yang terlalu hobi bermalas-malasan dan berhiperbola.

Mencintai Kebijaksanaan

[Below this point, there will be pseudo-philosophical gibberish ]

Katanya, filsafat itu dibenci agama. Sekalipun Francis Bacon, filosof abad pertengahan asal Inggirs, pernah berujar “sedikit filsafat akan menjauhkan orang dari Tuhan, banyak filsafat mendekatkan orang pada Tuhan”, tetap saja ini tidak berlaku pada semua situasi. Lebih tepatnya, hal ini sangat banyak pengecualiannya dus tidak akurat. Filsafat merupakan ibu semua pengetahuan, tapi toh diibutirikan dalam kancah diskursus pengetahuan. Agama Islam yang jaman keemasannya ditunjang oleh keberadaan karya-karya filsuf Yunani Aristoteles juga malah mengabaikan peranannya dan mengekspos sains secara membabi buta. Banyak orang Islam misalnya, menjunjung sains modern yang mereka anggap “membuktikan kemukjizatan Al-Quran”, tanpa mau tahu bahwa mereka sebenarnya mempermainkan metodologi ilmiah dan dalam bahaya mentakwilkan firman Tuhan secara sembarangan (yang dikutuk dalam [3:7]). Saya sendiri sebenarnya tidak mau tahu dengan semua itu, karena iman itu masalah hati dan bukannya akal.

Baiklah, sepertinya yang tadi itu agak melenceng.

Bagi yang belum tahu, subjudul di atas itu adalah arti harfiah dari filsafat. Kata “filsafat” berasal dari bahasa Arab falsafah yang merupakan serapan dari bahasa Yunani philosophia. Philo yang merupakan derivat dari philia berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan. Definisi filsafat sendiri sampai saat ini masih diperdebatkan di kalangan para pecinta kebijaksanaan (baca: filsuf). Yang jelas, inti dari filsafat adalah berpikir radikal. Sesuai asal kata radikal yang berasal dari bahasa Yunani radix (artinya akar), filsafat memandang permasalahan pada akarnya dan bukan apa yang tampak dari luar. Jika seorang biolog bertanya “apakah virus itu makhluk hidup?” maka seorang filsuf akan bertanya “apa yang dimaksud dengan hidup?”. Jika matematikawan mencari solusi atas bilangan imajiner dan irasional, maka seorang filsuf akan memikirkan bagaimana manusia bisa menerima konsep bilangan.

Leave a Comment

Bahasa Jawa

Sejak akhir SMP, saya mulai membiasakan diri berbicara dengan bahasa Jawa (ngoko pastinya). Sekalipun kedua orangtua saya bukan orang Jawa, saya yang dilahirkan di Jawa ini jadi tidak bisa berbicara bahasa daerah mereka. Bahasa Jawa pun saya masih agak canggung. Mungkin karena ketularan dialek Suroboyoan-nya teman-teman di sana dulu, jadilah semakin lancar saya berbicara bahasa Jawa. Kebiasaan ini entah kenapa malah semakin parah ketika saya mulai masuk SMA yang katanya RSBI. Kalau sekolah RSBI itu kan harusnya malah nginggris, tapi entahlah ini terpengaruh apa. Pokoknya semakin lama lidah ini makin pandai membacot bahasa Jawa.

Tapi, satu hal yang agak mengganggu adalah ketika orang lain mengajak berbicara dengan bahasa Indonesia (entah baku atau tidak). Misalnya:

Orang : Eh, blablablanya udah kamu kerjakan belum?
Saya : Uwes.

Atau ketika saya mengajak bicara orang lain:

Saya : Eh blablablane wes mbokkumpulno, a?
Orang : Udah tadi di mejanya Pak Anu.

Sebenarnya untuk orang kebanyakan tidak terlalu ada masalah. Tapi saat seseorang menanggapi suatu perkataan dengan bahasa yang berbeda rasanya kurang sreg untuk saya. Apalagi bahasa Jawa itu biasanya di lingkungan tertentu diasosiasikan dengan informalitas, kemarjinalan, atau kesan tidak berpendidikan karena biasanya bahasa Jawa memang stereotipnya digunakan untuk orang-orang yang semacam itu. Orang yang pekerjaannya rendahan, guyub, dan hobi cangkrukan di warung kopi yang tempatnya memakan badan trotoar. Atau mungkin anak-anak sepantaran saya dengan potongan rambut nyeleneh berwarna kemerah-merahan terbakar matahari yang hobi nggandol mobil pick-up atau truk yang kebetulan baknya kosong.

Satu hal lagi yang kurang nyambung tapi masih agak relevan. Di kegiatan MOS sekolah saya (yang juga diteruskan di keseharian warga sekolahnya), seorang junior harus memanggil seniornya dengan sebutan Mbak atau Mas sedangkan sekolah lain (yang satu daerah) memakai panggilan Kak atau malah Bang. Buat saya sendiri, panggilan Mbak dan Mas itu terkesan lebih egaliter daripada Kak dan sebutan lainnya. Dan mungkin memang egalitarianisme itulah yang diharapkan kepanitiaan MOS sekolah saya itu. Apakah ini juga karena bahasa Jawa yang dipakai? Seharusnya, bahasa Jawa adalah bahasa yang sangat menekankan hierarki (ingat sistem unggah-ungguh yang sukar ditemukan di bahasa lain itu). Tapi mengapa di masa sekarang bahasa ini malah terkesan lebih egaliter dari bahasa lain (i.e. bahasa Indonesia/Melayu yang tidak mengenal hierarki)?

Wah kok jadi ngalor-ngidul begini tulisannya. Ada yang bisa memberi masukan, mungkin? ๐Ÿ˜•

Leave a Comment

Setahun

Sudah hampir setahun, ya.
Sudah hampir setahun blog ini tidak ada lema baru. ๐Ÿ˜

Ah, kalau pembaca mau tahu, sebenarnya saya bukannya tidak menulis sama sekali setahun belakangan ini. Karena suatu dan lain hal saya hanya mempublikasikan tulisan di Facebook. Kalau pembaca yang budiman punya banyak waktu untuk dibuang atau sekadar iseng, bolehlah dicek sendiri.

Sebenarnya di sini pun sudah berulang kali saya coba menulis, tapi semuanya tertumpuk di draf. Biasanya ada dua sebab mengapa tulisan saya jadi seperti itu: malas melanjutkan dan kehabisan ide. ๐Ÿ˜†

Leave a Comment
In word we trust