Skip to content

Antariksa Akhmadi Posts

Menjadi Apatis dan Hedonis

Kita adalah siswa yang dipenuhi istilah dan jargon. Kontribusi, cinta almamater, Smalane sejati, apatisme, hedonisme, kata-kata semacam itu kita jadikan bahan perbincangan, bahan renungan, dan sering juga bahan pengaderan.

Dan sudah pernah kukatakan sebelumnya, banyak yang suka memaknai istilah-istilah semacam ini secara buta. Waktu ada ribut-ribut soal kepanitiaan yang kekurangan dana, apatis dan hedonis ini terkesan dijadikan kambing hitam. “Ini gara-gara Smalane sekarang banyak yang apatis dan hedonis,” kita sering mengatakan seperti itu.

Orang-orang yang lebih suka nge-game atau bersantai di mall daripada mengikuti kegiatan organisasi kita sebut sebagai hedonis.

Orang-orang yang enggan membayar urunan untuk kepanitiaan atau ikut meramaikan lapangan tengah atau venue even OSIS kita sebut sebagai apatis.

Bahkan, apatis dan hedonis ini dijadikan ejekan. Aku pernah mendengar ada yang memanggil dengan kata-kata, “he, apatis!”

Sudahkah kita tahu arti dari apatis dan hedonis?

Anggaplah arti harfiah dari apatis itu tidak peduli dan hedonis itu hura-hura. Tapi apa pemahaman kita sudah benar? Belum tentu. Bisa jadi kita terbias, menganggap kita sendiri lebih tinggi dengan merasa tidak menjadi apatis dan hedonis yang suka kita capkan ke orang-orang yang menurut kita hatinya kurang peka itu.

Mungkin kita lebih merasa tinggi dari mereka yang kita katai apatis dan hedonis. Merasa lebih cinta almamater dari mereka. Merasa  lebih punya jiwa berkontribusi daripada mereka. Merasa lebih berguna daripada mereka yang kita anggap hidupnya percuma di sekolah ini.

Sungguh, kita harus malu kalau beranggapan seperti itu. Apakah kita sendiri sudah tidak apatis dan hedonis?

Mencap orang lain dengan sebutan apatis dan hedonis tanpa mempedulikan perasaan mereka, itu juga apatis.

Terlalu sibuk menikmati acara sampai lalai dengan panggilan untuk beribadah, itu juga hedonis.

Tanpa disadari, kita juga menjadi apatis dan hedonis. Bahkan bisa jadi lebih apatis dan hedonis daripada mereka yang kita sebut seperti itu.

Leave a Comment

Sapere Aude!

HoratiusAda sebuah perkataan dari orator Romawi Horatius:

Dimidium facti qui coepit habet; sapere aude;
incipe!

Siapa yang memulai telah menyelesaikan separuhnya; beranilah untuk mengetahui, mulailah!

Kenapa harus berani untuk mengetahui, bukan sekedar carilah pengetahuan atau tuntutlah ilmu saja? Menurutku, mungkin karena dalam menggali pengetahuan memang butuh keberanian.

Katanya, ignorance is bliss. Tidak tahu adalah kenikmatan. Sebab ketika orang punya pengetahuan lebih, wawasannya akan lebih luas. Dan ketika orang yang berwawasan luas menghadapi suatu masalah, maka ia terpaksa harus memandang persoalan lebih luas dan berpikir lebih keras ketimbang orang yang tidak terlalu berilmu.

Bahkan, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, maka masalah kita akan bertambah. Kita harus memikirkan masalah yang sebelumnya tidak kita pikirkan. Dan seringkali itu bukan sesuatu yang penting juga untuk dipikirkan. – –

Mengapa kita bisa berbahasa?

Mengapa 1 +1 = 2 ?

Bagaimana kita bisa berpikir atau melihat?

Apakah alien itu ada, atau apakah kiamat akan jatuh tanggal 21 Desember tahun depan? #eh

Kadang-kadang, pengetahuan itu bisa menjadi sesuatu yang tidak disukai. Galileo dipenjara karena menentang ide bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Darwin diolok-olok sampai sekarang karena mengemukakan bahwa nenek moyang semua makhluk hidup adalah sama. Ada orang yang terusik ketika ada diskusi soal filsafat, atau ada juga yang merasa terusik ketika ada kajian ilmu agama. Buat saya, dua-duanya sama-sama aneh sih. :/

__________

Gambar diambil dari Wikimedia Commons melalui Wikipedia.

2 Comments

Tanya Kenapa, plus Curcol

Beberapa kejadian yang menimpa seminggu ini membuatku tersentak dari rutinitas dan aktivitasku selama hampir satu setengah tahun belakangan. Terpaksa berhenti dulu mengurus ini-itu. Meski agak berat melepasnya, tapi itu memberiku sedikit keleluasaan untuk berpikir dan memandang semuanya dari sudut pandang lain.

Cukup dramatisasinya. Sejak dimulainya musim regenerasi beberapa waktu lalu, sebenarnya aku sudah mulai punya suatu kecemasan. Aku yang sebenarnya berjiwa akademik (beneran, meski nilaiku jeblok pol) jadi mulai kehilangan semangat menuntut ilmu seiring dengan bertambahnya himpitan ini-itu yang harus dipenuhi. Semakin banyak beraktivitas dan sulit mengalokasikan waktu. Akhirnya jadilah tugas utama sebagai seorang pelajar terbengkalai.

Mungkin sama seperti satu-dua-tiga dan entah berapa orang, masuk Smala adalah suatu titik balik. Aku yang semula kurang suka berbaur dengan orang lain malah akhirnya keseringan ngumpul dan menyaksikan pembicaraan berbagai macam orang. Bahkan sampai mikir masalah organisasi siswa, masalah Smalane (sebutan bagi warga sekolahku). Aku yang mula-mula dibenci lantaran perangaiku yang aneh, kumenthus (sok tahu), dan nggak dikenal akhirnya mulai dikenal angkatanku. People change, and so do I.

Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, aku malah heran sendiri: kenapa aku bisa berubah segitu drastis? Nggak lain dan nggak bukan ini gara-gara keputusanku waktu awal kelas X dulu untuk menerjunkan diri di organisasi dan kegiatan siswa. Atau istilah kerennya yang biasa digembar-gemborkan, berkontribusi untuk almamater. Tanpa disadari, ternyata aku sudah terjun dalam suatu simulasi masyarakat. Semakin hari, semakin sering aku mendengarkan orasi, pidato, sambutan, atau sekadar petuah dari pimpinan-pimpinan yang menjabat di OSIS dan MPK.

Aku ikut dua ekstrakurikuler, dan selalu dibuat sibuk oleh mereka. Mulai dari bersiap untuk diklat, latihan rutin, sampai pembekalan untuk mengader angkatan selanjutnya. Aku masih ingat pernah sakit kepala berhari-hari gara-gara mikir persiapan diklat, juga betapa aku harus bersatu dengan orang-orang lain yang nggak pernah kukenal untuk bisa menjadi sebuah angkatan. Betapapun ketidaksukaanku bercampur baur dengan orang lain. Setelahnya, ujian mental itu digantikan dengan kelelahan yang silih berganti dan kejenuhan yang acapkali datang karena latihan yang terus-menerus. Tapi entah kenapa aku nggak pernah jera untuk bertahan. Waktu hampir naik kelas, hal yang ramai-ramai dibicarakan orang seangkatanku adalah bagaimana calon penerus kami selanjutnya.

Itu baru satu, ada juga kesibukan sebagai seorang “anggota dewan” (baca: perwakilan kelas). Sebagai perwakilan kelas, aku dituntut untuk tahu permasalahan yang sedang terjadi di lingkungan sekolah. Mulai dari kepanitaan yang kekurangan dana, keterlibatan siswa dalam kegiatan OSIS, bahkan sebatas cara mengajar guru, hal-hal semacam itu sudah jadi makanan pikiranku sehari-hari. Benar-benar seperti sedang memikirkan masalah masyarakat. Simulasi ae wes njelimet koyok ngene, ndanio realitase, pikirku.

Tapi seperti yang sudah disebut di awal, aku sedang benar-benar tersentak sekarang. Dan harus memikirkan semuanya dari sudut pandang lain.

Musim regenerasi ini benar-benar membuatku berpikir. Seperti inikah organisasi siswa yang seharusnya? Sudah benarkah organisasi seperti ini? Aku berusaha melihat aktivitasku dari sisi pelajar. “Organisasi itu hanya suplemen, tugas utama ya belajar,” kata ketua OSIS tiga periode sebelum ini.

Banyak istilah-istilah dan frase-frase mentereng yang sering dipakai beretorika dalam berbagai kesempatan di OSIS, MPK, maupun SS (subseksi, istilah lain ekstrakurikuler di sekolahku). Contohnya dalam menyinggung keaktifan siswa, “aktif dalam kegiatan OSIS” diretorikakan sebagai “berkontribusi untuk almamater“. Sayangnya, retorika semacam ini sering dimaknai secara buta oleh beberapa organisator di Smala.

Sekarang bermunculan istilah-istilah dan retorika yang sebenarnya mengerikan untuk ukuran organisasi siswa SMA. Anak-anak yang lebih suka nge-game, nonton film, atau main musik daripada berorganisasi dan ikut kegiatan siswa dikatai apatis dan hedonis. Ketika suatu kepanitiaan OSIS kekurangan dana dan usaha untuk meminta bantuan siswa belum berjalan maksimal, langsung dibawasertalah kata-kata apatis dan hedonis itu. “Kepedulian siswa semakin menurun,” kata beberapa orang yang menaruh perhatian pada organisasi siswa. Semakin lama semakin banyak yang menggunakan dua kata sakti itu.

Hal lain yang agak mencemaskanku adalah soal regenerasi pengurus OSIS-MPK yang kelihatannya banyak “muatan politis”-nya. Aku banyak mendengar ada seorang atau beberapa orang anak kurang suka pada satu calon kemudian berusaha menjatuhkannya. Pokoknya jangan sampai dipilih. Bahkan sampai terucap kata “politik”. Memang benar bahwa sekolah adalah tempat pendidikan politik, tapi tidak seperti ini caranya. Kalau di simulasi masyarakat saja sudah seperti ini, bagaimana di masyarakat nyata nantinya?

Sebelum tulisan ini jadi tambah ruwet, panjang, dan nggak jelas, aku cuma ingin bilang bahwa aku prihatin dengan praktik beberapa pihak tentang organisasi siswa semacam dua contoh yang kusebut di atas. Semoga bisa menjadi evaluasi bagi organisasi siswa sekolahku untuk lebih maju dan menjadi sarana pendidikan bermasyarakat yang lebih baik.

7 Comments

Rerandoman #1

Aku jadi ingat waktu mbahas soal cinta sama Winanda Denis (XI IA 2) via Facebook. Sebenernya lebih ke nyampahin note orang sih. – -” Aku sudah nggak seberapa ingat lagi apa isi “debat kusir” waktu itu selain tentang tipe-tipe cinta.

Socrates pernah berujar bahwa salah satu langkah awal dalam berdiskusi adalah dengan menetapkan pandangan tentang definisi. Dan di sini (karena tulisan ini dimaksudkan untuk membuat orang berpikir), lebih afdal kalau kita menilik dulu apa toh yang dimaksud dengan cinta.

noun, verb, loved, lov·ing. –noun

1.

a profoundly tender, passionate affection for another person.

2.

a feeling of warm personal attachment or deep affection, as for a parent, child, or friend.
Kutipan definisi di atas disadur dari Dictionary.com.
Tentu kata ini sudah banyak, bahkan terlalu banyak dipakai di berbagai ragam bahasa dan bisa dijumpai di berbagai media mulai dari opera Shakespeare sampai sinetron alay. Sampai-sampai aku sempat kepikiran kalau kata ini sudah jadi klise. Coba bandingkan frasa-frasa ini: cinta monyet, cinta almamater, cinta buku, cinta sesama. Kalau dipikir-pikir, arti kata cinta dalam keempat frasa tersebut berbeda-beda kan? Ini menunjukkan kalau arti kata cinta itu bisa bermacam-macam. 😕
Kembali ke “debat kusir”-ku dan Denis. Waktu itu (kalo aku nggak salah inget) sempat disebut soal kata-kata bahasa Yunani yang berarti cinta, yang kurang lebih adalah:
  • Agape, kata cinta dalam “I love you” diterjemahkan dengan kata ini. You get the idea, lah.
  • Eros, err anggaplah pengertiannya sejenis dengan cinta yang biasanya ada di eroge. *digampar*
  • Philia, kata ini pengertiannya sama seperti cinta dalam persahabatan, persaudaraan, dan semacamnya.
  • Storge, artinya serupa dengan affection, dipakai untuk menjelaskan hal semacam cinta orang tua kepada anaknya.

Segitu dulu deh. Takutnya kalau dipanjangin lagi malah nggak ke-post. – -“

4 Comments

SMA

Tidak terasa sudah setahun saya jadi siswa SMA. Sudah jadi apa setahun ini?

Diterima di sekolah unggulan. Katanya sekolah saya itu salah satu dari 13 sekolah terbaik di Indonesia, atau menurut versi yang lain, satu dari 35. Waktu pertama kali masuk, perasaan pertama yang saya rasakan adalah: kaget. Kenapa? SMP saya dulu hanya berisi 38 orang seangkatan, sedangkan di SMA 288 orang. Jumlah itu hampir dua kali jumlah murid di sekolah lama saya (yang notabene adalah gabungan SMP dan SMA yang seyayasan). Tapi yang benar-benar membuat saya tersentak adalah MOS-nya yang sangat…. berkesan.  Baru kali itu saya mengerjakan tugas dan mencari barang keperluan MOS sampai tidak tidur. Baru kali itu juga saya benar-benar belajar bekerja sama dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya. Mungkin memang dasarnya males dan rada  hikkikomori aja, sih. – –

Masalah lainnya adalah kesulitan dalam menerima pelajaran. Saya yang terbiasa dididik konsep-konsep dasar semata di SMP harus dicekoki materi pelajaran SMA yang bisa dibilang sangat advanced. Jadilah saya kena remedial di nyaris setiap ulangan. Tapi nggak masalah, lha wong biasanya yang kena hampir sekelas, bahkan kadang seangkatan. 😆

Gara-gara MOS, saya merasa terpanggil untuk (coba-coba) mengikuti kegiatan keorganisasian di sekolah. Memang semula rada kewalahan, tapi lama-lama terasa manfaatnya: kemampuan berkomunikasi dan manajemen jadi meningkat. Saya yang dulu anak rumahan sekarang malah pulang malam hampir setiap hari.

Dan gara-gara berorganisasi itulah saya jadi mengurangi porsi waktu untuk bersenang-senang (terkurangi sih sebenernya 😕 ). Pulang malam dan tugas-tugas yang membeludak belum lagi ulangan yang super susah membuat saya jadi jarang bersantai. Kalau saya dulu bisa tiap hari nonton anime dan baca-baca buku, sekarang cuma dua-tiga kali seminggu. Tapi lama-lama terbiasa juga, sih. :mrgreen:

”]Abaikan yang barusan.

Baiklah, ternyata jadi curhat parah begini. Sebenarnya saya nggak mau berpanjang lebar dulu sekarang, lagi menunggu momen yang tepat. Nanti kalau sudah waktunya saya akan tuliskan lagi. =w=

_________

[1] Gambar diambil dari sini melalui Google Images.

Leave a Comment
In word we trust