Skip to content

Category: Thoughts

Kritik atas Analogi

Analogi sebenarnya diciptakan untuk memudahkan penalaran, bukan sebagai bagian dari proses menalar itu sendiri. Tapi kebanyakan orang yang ingin menyampaikan hikmah (seperti mubalig atau motivator) merumuskan semua pesan yang ingin mereka sampaikan dengan cara membuat analogi. Akibatnya, seringkali pemahaman orang hanya terpaku pada analoginya dan bukan hal yang dianalogikan.

Memakai terlalu banyak analogi hanya bakal membatasi pemikiran kita. Oleh karena itu, gunakan analogi seperlunya. Jika suatu hal bisa dipahami tanpa harus disederhanakan dengan analogi, apa salahnya kalau disampaikan langsung?

Kalau kau berpikiran bahwa menghindari analogi berarti mengabaikan keindahan, pikirkan lagi. Metafora, analogi, pengandaian, atau apapun namanya tidak selamanya membuat suatu ide menjadi indah. Malahan, gambaran-gambaran itu akan memicu kerancuan dan perbedaan tafsir yang merusak esensi ide yang kausampaikan. Majas bukan cuma metafora, ada belasan majas lain yang bisa digunakan untuk memperindah penyampaian gagasanmu.

Hati-hatilah, karena bergantung pada analogi adalah salah satu tanda malas berpikir. Ketika orang malas berpikir, maka ia akan kehilangan kekritisan terhadap ide-ide yang ia peroleh. Saat kekritisan kian tumpul, jalan bagi indoktrinasi akan terbentang lebar.

2 Comments

1028

Another batch of nostalgic bouts. Do you remember this song?

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=sje7LYCyFVs]

IIRC, that anime was aired in around 2004-2005 at the same time slot as Shaman King. That was when anime still became the primary kids’ watch. I’m not going into the back-then-and-now polemic. It’s true, however, that lesser and lesser anime are being aired nowadays. And most of which are just among the countless re-runs of the old, long, re-running series like Dragon Ball or Doraemon (in fact, it’s been airing even before I was put into conception).

At least, they should give kids more to watch than just crappy news and sinetron.

I think the end of anime in Indonesian television came in 2008 with Kekkaishi. That was the last time there was a good recent anime with good translation quality aired. Afterwards, I haven’t seen any good new anime to be aired on public local TV stations. “Fortunately we were kids back then,” one of my friends said. Well, it’s true.

Leave a Comment

1004

Waktu itu masih pagi buta. Aku bergegas menuju lapangan lalu segera mengenakan tanda pengenalku. Di lapangan, sudah ada beberapa orang lain sepertiku yang sedang bersiap-siap, dan salah satunya berkata, “Wah, paling mek nang kene yo onok acara sing nggenah koyok ngene.” Aku menjawab dalam hati, “yo gak ngono sisan rek.”

Jawabanku tidak salah. Masih banyak pejuang-pejuang di tempat lain yang mungkin kita tidak tahu yang dapat melakukannya jauh, jauh lebih baik dari kita. Dan mungkin, tantangan yang mereka hadapi bisa jadi lebih besar dari kita.

Maaf, aku hanya ingin berpesan bagi kawan-kawanku yang berjuang: jangan takabur. Jangan merasa bahwa kita sudah menjadi yang terbaik. Kita hanya terkurung pada pandangan yang sempit, bahwa semua jalan pemikiran dan perbuatan kita sudah benar. Bahkan, kita masih perlu menempuh jalan yang jauh untuk sampai pada kebenaran. Dan karena ketakaburan itulah kita sekarang harus menanggung akibatnya (semoga hanya untuk saat ini saja).

Sudah banyak yang mau belajar dari kita. Tapi ingatlah, kita sendiri tetap harus belajar. Masih banyak carut-marut yang harus diperbaiki. Masih bertumpuk masalah yang harus diatasi. Dan mungkin, di luar sana akan kita temukan solusinya.

Lihatlah keluar sana dan temukan pembelajaran-pembelajaran baru. Bukankah kita semua adalah pembelajar yang dinamis?

Leave a Comment

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Bisa dibilang, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma adalah karya berlatar penjajahan Jepang yang pertama kali kubaca. Meski kumpulan cerita tulisan Idrus ini tergolong sebagai karya klasik, aku sendiri belum terlalu mengenal pengarangnya. Apalagi, karya-karya dari era Angkatan ’45 memang tidak setenar dan sebanyak angkatan sebelum maupun sesudahnya (Pujangga Baru dan Angkatan ’66). Tentu saja karena pada tahun-tahun itu Indonesia lebih sibuk untuk mempertahankan kemerdekaan daripada mengembangkan sastra.

Buku ini memiliki tiga bagian, yang menceritakan tiga periode yang berbeda di sekitar zaman penjajahan Jepang. Pada bagian Zaman Jepang, Idrus memasukkan cerita Ave Maria dan naskah drama Kejahatan Membalas Dendam. Di bagian ini, Idrus memasukkan unsur-unsur idealismenya, misalnya nasionalisme dan patriotisme yang sangat kentara dalam Ave Maria. Bagian kedua, Corat-Coret di Bawah Tanah berisi beberapa cerita yang intinya menceritakan hal yang serupa: penderitaan rakyat dan kebijakan ketat penjajah Jepang. Bagian ketiga, Setelah 17 Agustus 1945 banyak bercerita soal prahara rakyat Indonesia setelah kemerdekaan.

Semakin mendekati akhir, cerita-cerita Idrus yang semula cerah dan penuh idealisme berubah menjadi gelap dan realistis. Contohnya di cerpen Surabaya yang terletak di bagian akhir. Sebagai orang awam yang hanya tahu sejarah lewat pelajaran sekolah, persepsiku soal perjuangan kemerdekaan benar-benar dijungkirbalikkan. Di sana diceritakan tentang para pemuda yang tidak ragu-ragu menghabisi saudara sebangsanya sendiri karena dianggap mata-mata. Atau tentang kondisi para pengungsi dari perang di Surabaya yang terlunta-lunta, sampai-sampai ada yang harus tinggal di kandang anjing. Walaupun demikian, cerita terakhir Jalan Lain ke Roma kembali lagi ke kesan idealistis yang ada di cerita-cerita awal.
Setelah membaca ini, aku jadi punya banyak pengetahuan baru soal suasana pada masa penjajahan Jepang. Misalnya, tindakan polisi Jepang yang arogan namun terkadang juga manusiawi. Demikian pula kegiatan a la ibu-ibu PKK di perkumpulan Fujinkai yang serbadiatur pemerintah. Kebanyakan cerita mengupas tentang sisi gelap penjajahan Jepang dan penderitaan rakyat pada masa itu. Tidak heran kalau ada ceritanya yang sempat dibredel oleh pihak penjajah. Idrus sendiri juga menceritakan tentang betapa ketatnya kontrol penjajah pada saat itu (maaf, aku lupa di bagian mana).

Oh ya, soal bahasa, buku ini nggak serumit Layar Terkembang apalagi Sitti Nurbaya. Di zaman Jepang, bahasa Indonesia (bukan Melayu) sudah banyak dipakai, jadi ya nggak bakal jauh beda dengan bahasa sekarang.

Jadi kesimpulannya, jangan lewatkan buku ini kalau kalian menemukannya tergeletak. Akan susah mencari buku yang bertema seperti ini, apalagi yang bagus. Karena seperti kubilang tadi, karya-karya yang ditulis dan berlatarkan sekitar zaman Jepang memang tidak banyak jumlahnya.

Leave a Comment

Informasi Pribadi

Waktu sekitar SD dulu, aku suka mengumpulkan biodata teman-teman sekelas. Caranya, aku menulis biodataku beberapa kali di kertas binder lalu ditukar dengan biodata teman-temanku (mereka juga melakukan hal yang sama). Biodata-biodata yang kudapat itu dijadikan satu dalam binder. Salah satu alasan aku suka melakukan itu mungkin karena aku suka mengetahui informasi pribadi orang lain. Kalau dipikir-pikir, ini bisa jadi cikal bakal stalking.

Bedanya, tentu saja sekarang kita tidak perlu ribet-ribet tukar-menukar kertas binder seperti itu. Ada yang namanya Twitter, Facebook, WordPress, Tumblr, dan tempat-tempat lainnya di mana orang bisa menyebar-nyebar informasi-informasi ypenting. Dalam beberapa tahun, informasi semacam itu sudah bisa ditemukan dengan sebegitu mudahnya. Dan yang lebih ngeri lagi, tanpa harus sepengetahuan pemilik informasi itu sendiri.

Mungkin di masa depan, profesi informan sudah tidak ada harganya lagi. Cukup dengan menjadi teman di Facebook atau membuka linimasa Twitter, kita bisa tahu apa pekerjaan orang yang tidak kita kenal, di mana dia berada, apa yang dia lakukan, atau bahkan jadwal hariannya. Itu kalau pengguna internet masih setidak terdidik sekarang.

Leave a Comment
In word we trust