Skip to content

Month: October 2018

[REVIEW] TENGKORAK – Should You Watch It?

Aku bingung waktu pertama kali nonton trailer film Tengkorak ini. Isinya rekaman-rekaman berita (bohongan) tentang penemuan tengkorak manusia yang tingginya 1,8 km di Yogyakarta dan potongan-potongan adegan aksi dan dialog-dialog nan bikin nderedeg dicampur dengan komentar-komentar tentang makna menjadi manusia. Tapi justru karena bingung itulah aku akhirnya bersemangat sekali buat nonton.

Di hari pertama penayangan pun (hari ini, 18 Oktober), se-Surabaya cuma ada 2 bioskop yang memainkan film garapan Yusron Fuadi ini. Kalo nggak cepat-cepat nonton, pasti bakal lupa dan akhirnya kehilangan kesempatan buat menyaksikan sendiri film yang katanya masuk dalam jajaran sinema fiksi ilmiah Indonesia. Bahkan, di trailer terpampang besar-besar testimoni Joko Anwar: “mindblowing ending!”

Seberapa mindblowing sih memangnya film Tengkorak ini?

Bingung-bingung sedap

Jadi ceritanya, setelah gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu penduduk di suatu pegunungan di Bantul menemukan wajah tengkorak yang sangat besar. Akhirnya, tersiar kabar bahwa itu kerangka manusia yang sangat besar, yang diperkirakan oleh salah satu ahli tingginya mengerdilkan Patung Liberty.

Pemerintah Indonesia menutup-nutupi penemuan ini, bahkan tak segan menembak siapa pun yang nekat ingin menyaksikan sendiri. Bukan cuma itu, PBB bahkan menawar supaya tengkorak ini dihancurkan dengan imbalan mengampuni semua utang negara dan memberi kompensasi 23 milyar dolar. Lha kok?

Sisanya tidak akan saya ceritakan panjang lebar supaya teman-teman pembaca ikut bingung. Hehehe. Intinya, sepanjang film penonton akan mengikuti perjalanan dari tiga karakter yang bernama Ani, Yos, dan Jaka. Seiring cerita interaksi Ani, Yos, dan Jaka mengantar mereka pada makna sebenarnya dari kemunculan bukit tengkorak.

2.jpg
Ani dan Yos. (IDNTimes.com)

Susahnya jadi film indie

Aktor-aktor yang main di film tengkorak semuanya orang baru (kecuali yang cameo seperti Darwis Triadi dan beberapa orang lain yang aku kurang tahu). Penggarapannya pun bukan oleh studio, melainkan kampus yaitu Fakultas Vokasi UGM. Tentu wajar kalau latar, asal karakter, dan tokoh-tokoh yang muncul pun berbau UGM dan Yogyakarta.

Tugas tim film Tengkorak ini berat, kalau tidak mau dikata mendekati mustahil. Aku bilang begitu mengingat premis film ini yang science fiction. Susah sekali buat film yang terbilang indie ini buat mendanai syuting-syuting di berbagai tempat yang selayaknya. Lebih susah lagi buat memenuhi kebutuhan akan special effects dan CGI, sehingga di film ini efeknya pun kurang halus. Banyak shoot lokasi yang terlihat ditempel ke latar belakang via manipulasi komputer.

1
Tampak depan Bukit Tengkorak. (Liputan6.com)

Banyak lagi yang menambah kesan indie di film ini. Salah satunya kostum dan para pemain figuran yang tampak sangat simpel. Banyak tempat syuting yang diakali sedemikian rupa sehingga bisa menyerupai tempat asli (misal laboratorium atau istana presiden). Gambar di layar pun terlihat sangat grainy. Sekali lagi, maklumlah karena toh film ini sponsornya universitas, bukan perusahaan-perusahaan besar.

Dari segi penceritaan, penonton terus-terusan dibuat bingung sepanjang film. Yang bikin bingung bukan hanya ide ceritanya saja seperti yang dijelaskan tadi, namun juga pembawaan penonton menuju inti cerita sendiri. Aku bahkan nggak tahu kapan karakter Ani dan Yos ini bertukar nama. Aku nggak tahu kenapa mereka akhirnya bisa punya keinginan untuk datang dan memecahkan misteri bukit tengkorak. Bagian-bagian film ini seakan terputus satu sama lain.

Tapi, di samping ketidaksinkronan cerita ini, banyak sekali faktor lebih yang bikin aku tetap betah menonton.

Pertama adalah ide ceritanya sendiri. Sangat jarang ada film fiksi ilmiah di Indonesia. Novel pun jarang. Yang aku ingat mungkin hanya Modus Anomali (2012), yang itu pun aku sendiri nggak nonton (belum suka nonton ke bioskop waktu itu). Langkah mengangkat ide cerita seperti ini kuharap bisa menyegarkan jagat film Indonesia, yang sekarang ini sudah mulai banyak meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu dari segi banyaknya film-film bermutu.

Yang kedua, dialog antar karakter alami sekali. Mungkin ini karena dialek Yogyakarta yang dipakai, terutama oleh Yos dan Jaka. (Kalimat yang menarik buatku, mohon maaf: “rupamu iki kementhu” yang cuma dikasih terjemahan “rupamu menawan.”) Relasi antar tiga karakter utama ini asyik diikuti untuk ukuran film fiksi ilmiah. Sayangnya, kurang matang aja sih pendalamannya.

Yang ketiga adalah ending ceritanya. Jujur aku sendiri udah menebak sih bakal gimana akhirnya, dan tebakanku bener. Haha. Dari premisnya aja aku langsung ingat anime Neon Genesis Evangelion. Unsur-unsur ceritanya juga banyak yang mirip sih, walaupun ya pastinya nggak ada pilot dan Eva-nya sendiri. Jangan-jangan Yusron Fuadi ini juga nonton Eva? Bagaimanapun, memang akhir ceritanya cukup bikin syok sih. Penonton yang teliti mungkin akan bisa melihat petunjuk ke arah ending ini, misalnya ketika seorang karakter membuka-buka kitab-kitab suci, dan ayat-ayat yang muncul mengarah ke tema tertentu.

Kurasa film ini lebih cocok jadi web series daripada film feature. Bagian-bagian awalnya bisa jadi episode pertama yang bikin orang penasaran, sementara ending-nya akan bagus dibuat episode final yang bikin terperanjat. Toh secara nilai produksi, kalau jadi web series film Tengkorak ini akan sangat greget. Eksplorasi karakternya pun juga akan kuat, ditambah kesempatan mengembangkan cerita yang lebih lega. Tapi, mungkin ada pertimbangan sendiri dari pembuatnya untuk menjadikan Tengkorak sebagai feature film saja.

3
Evangelion dengan kearifan lokal? (Hipwee.com)

So, should you watch it?

Untuk ukuran film fiksi ilmiah, apa yang dilakukan para pembuat film Tengkorak ini tergolong sangat berani, kalau tidak mau dibilang nekat! Bahkan, di negara lain yang lebih maju pun pengembangan film fiksi ilmiah masih berjalan lambat. Sebagai contoh, pembuat film di China beberapa tahun ini sedang mengembangkan film adaptasi dari novel fiksi ilmiah terkenal Three Body Problem. Penggarapannya sudah dari tahun 2014, namun sampai hari ini ia masih macet di fase post-production. Dalam jangka waktu yang kurang lebih sama, hari ini kita bisa nonton Tengkorak di bioskop, yang dibuat di negara yang PDB-nya hanya sepersekian China. Ini patut disyukuri dan dibanggakan. Sekalipun banyak rumpang di sana-sini, tapi tim dari dosen dan mahasiswa Vokasi UGM ini bisa menghadirkan hiburan yang layak tonton.

Sebagai hiburan, Tengkorak mungkin bukan tontonan yang membuat orang senang. Itulah mengapa mungkin film ini tidak bakal direspons penonton pada umumnya, yang pergi ke bioskop buat melepas penat. Tapi, buat mereka yang suka dengan cerita-cerita baru dan tayangan-tayangan yang tidak bikin bosan, then heck yes they should try this movie.

Leave a Comment
In word we trust