Skip to content

Tag: mahasiswa

Review: Catatan Seorang Demonstran

Catatan Seorang Demonstran
Catatan Seorang Demonstran by Soe Hok Gie

My rating: 3 of 5 stars

Apa yang ada di benak seorang demonstran? Itu pertanyaan yang saya ajukan sebelum membaca buku ini. Selama ini, dalam hemat saya, demonstrasi hanya tindakan sia-sia yang merusak dan tak jarang berbuntut perkara. Apa pikiran yang melandasi tindakan konfrontatif para mahasiswa? Cara terbaik untuk mengenal pemikiran seseorang adalah dengan membaca tulisannya. Oleh karena itu saya mencoba menemukan jawabannya di sini.
Agak kecewa sebenarnya saat saya menemukan bahwa buku ini bukanlah sepenuhnya “catatan seorang demonstran”. Buku ini lebih merupakan sebuah memoar perjalanan hidup Soe Hok Gie, dengan segala kerumitan pikirannya. Bagian yang benar-benar saya suka hanya bab Catatan Seorang Demonstran di mana Soe Hok Gie menuturkan jalannya demonstrasi-demonstrasi tahun 1966 dari sudut pandang mahasiswa.
Tapi sosok Soe Hok Gie sendiri bukannya sosok yang tidak menarik. Sedari kecil dia sudah menolak mentah-mentah pakem keagamaan dan mengikuti sastra dan pemikiran barat. Dia juga mengolok-olok guru bahasa Indonesianya yang dianggapnya tidak mengerti sastra. Di masa mahasiswa, dia adalah seorang idealis tangguh yang benci dengan agenda komunisme. Menjelang akhir hidupnya yang singkat, bisa dikatakan bahwa Soe Hok Gie seorang humanis tulen (bedakan humanis dengan humanitarian) yang menentang segala bentuk militansi.
Walau titik penting buku ini adalah gagasan politiknya, tapi buku ini lebih banyak memuat sisik-melik kehidupan Soe Hok Gie. Soal hidup, cinta, dan aktivitas pecinta alam yang digeluti juga ditulisnya. Semua ini dituliskan dengan pemikiran dan renungan yang dalam sehingga tidak terkesan remeh.
Banyak mahasiswa yang mengaku pernah membaca Catatan Seorang Demonstran tapi banhkan tindakannya amat jauh dari apa yang dicita-citakan Soe Hok Gie. Entah mereka menghayati apa yang dipikirkan Soe Hok Gie dengan sungguh-sungguh atau hanya sekadar mencari pembenaran untuk berdemo saja.

View all my reviews

Leave a Comment

Housekeeper’s Notes #03: Hati dan Organisasi

Organisasi semacam himpunan sejatinya adalah organisasi sukarela, volunteering. Bapak ilmu manajemen, Peter F. Drucker, menyebut para relawan sebagai pekerja yang paling memiliki dedikasi. Peluh yang mereka keluarkan tidak berbahan bakar uang atau kekuasaan, tapi semata-mata tujuan mereka adalah keinginan untuk memajukan organisasi. Ketika para relawan ini lulus dari bangku kuliah, mereka akan menjadi pekerja yang punya daya tahan, motivasi yang lebih baik, dan kemahiran sosial yang lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang tidak berorganisasi.
Setidaknya, begitulah yang semestinya terjadi. Apakah organisasi kita sudah menghasilkan kader-kader pekerja yang punya daya tahan tinggi?
 Tidak juga.
 Pembaca pasti sudah kenal stereotip panitia MOS atau Ospek yang lagaknya sok-sok kaku, bersuara lantang, tapi sebenarnya tebar pesona. Mungkin juga pembaca yang berorganisasi pernah mendapati orang yang dalam rapat tampak menggebu-gebu dan berkarisma tapi sejatinya mencari “mangsa” atau berusaha mengundang tepuk tangan dari teman-temannya. Mau kita akui atau tidak, semua orang tampaknya punya kepentingan pribadi. Apalagi, karena kerja sukarela tidak ada insentifnya, orang-orang dalam organisasi akan berusaha mencari reward-nya dengan cara mereka sendiri. Entah itu dalam bentuk pertemanan, percintaan, sampai akses ke orang-orang dan informasi penting di kampus (yang paling klasik: dosen dan perkuliahan). Ketika reward yang mereka cari itu tidak mereka temukan, maka mereka akan mundur teratur dengan sendirinya dari organisasi kita.
 Satu hal yang saya pahami setelah berorganisasi beberapa lama adalah bahwa kepentingan organisasi pasti akan berbenturan dengan kepentingan diri sendiri. Saya ingin santai-santai menonton serial TV, membaca buku simpanan di hari sabtu dan minggu, atau melakukan kerja sambilan, tapi ada rapat atau kegiatan yang wajib dihadiri. Padahal, di rapat atau kegiatan itu saya tidak betul-betul punya andil selain untuk meramaikan saja. Idealnya sih memang semua orang punya suara dan peran dalam rapat. Tapi, let’s face it, berapa banyak sih orang yang mau berpartisipasi aktif di rapat seperti itu? Oleh karena itu, dalam benak saya, seorang organisator yang ideal adalah mereka yang dengan sukahati mau mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi dan teman-teman mereka di sana.
 Teman-teman dan senior-senior saya waktu SMA punya istilah yang cukup sarkastik untuk organisator semacam ini: orang bodoh. Hanya orang bodoh yang mau diganggu akhir minggunya untuk datang rapat di siang bolong di hari sabtu tanpa diberi imbalan apa-apa. Hanya orang bodoh yang bisa berbulan-bulan bekerja keras untuk suatu acara tanpa diberi ucapan terima kasih dan penghargaan hanya untuk kemudian disuruh lagi membuat laporan pertanggungjawaban. Hanya orang bodoh yang rela memperjuangkan kepentingan teman-temannya yang mungkin tidak peduli hasil kerjanya, bahkan mungkin mencemooh dirinya di belakang.
 Saya tidak setuju menyebut hal-hal tadi sebagai kebodohan dan orang-orang yang melakukannya sebagai orang bodoh. Lebih tepat untuk menyebutnya sebagai pengorbanan. Tapi toh mungkin juga dikatakan, “Pengorbanan dan kebodohan itu bedanya tipis sekali.” Memang betul. Kadangkala orang yang berkorban demi sesamanya akan merasa bodoh, seolah kerja demi orang lain itu hanya membuang-buang waktunya saja. Sebaliknya, orang yang benar-benar bodoh akan merasa berkorban walaupun sebenarnya pengorbanannya itu tak seberapa.
 Kerja organisasi memang lebih banyak tidak bisa dinalarnya. Mengurus organisasi non-profit bukan cuma berkutat pada mengatur-atur masalah teknis, malah ada masalah yang lebih penting, yaitu hati. Seperti yang kita tahu, bicara soal hati memang jatuhnya akan ribet dan tidak karuan. Kent M. Keith, dalam buku kecilnya yang ditujukan pada aktivis mahasiswa di Amerika Serikat pada tahun 60-70an, menuliskan suatu manifesto yang ia beri judul “Perintah-Perintah yang Tak Masuk Akal.” Bunyinya sebagai berikut:
 
Orang lain itu tak logis, tak bisa diajak berpikir, dan mementingkan dirinya sendiri.
Tetaplah mencintai mereka.
Jika kamu berbuat baik, orang akan menuduhmu punya maksud tersembunyi.
Tetaplah berbuat baik. 
Jika kamu beroleh keberhasilan, maka kamu akan mendapat kawan palsu dan musuh sejati.
Tetaplah meraih keberhasilan. 
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini akan dilupakan esok hari.
Tetaplah berbuat baik. 
Berkata jujur dan berterus terang akan membuatmu rentan.
Tetaplah jujur dan terus terang. 
Manusia berhati besar dengan pemikiran terbesar bisa dijatuhkan manusia berhati kecil dengan pemikiran terkecil.
Tetaplah berpikir besar. 
Orang kasihan pada yang tertindas tapi hanya mau turut yang berkuasa di atas.
Tetaplah membela yang tertindas. 
Yang kamu bangun selama bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam.
Tetaplah membangun. 
Orang lain sungguh perlu kamu tolong, tapi jika ditolong mereka bisa menikammu.
Tetaplah menolong orang lain. 
Berikan yang terbaik bagi dunia dan mukamu akan diinjak-injak.
Tetaplah memberi yang terbaik bagi dunia.
Sepintas, memang kata-kata di atas tampak menjadi sesuatu yang ideal dan perlu kita tiru. Tapi, saya pun pada akhirnya juga ragu. Apakah ada orang yang bisa mengamalkan kata-kata di atas huruf demi huruf? Bukannya orang yang bisa melakukan hal seperti di atas itu namanya sudah bukan lagi manusia melainkan malaikat? Bahkan, saya pun tak yakin penulisnya juga sanggup berbuat seperti yang ditulisnya (terbukti sampai saat ini kita-kita juga masih asing dengan nama Kent M. Keith.)
Sebenarnya, sejauh apakah kita harus menyumbangkan hidup kita demi kepentingan sesama? Apa seorang relawan-organisator harus terus-terusam membarter urusan pribadinya untuk organisasi? Bagaimana kita bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan orang lain tanpa harus banyak saling menyakiti untuk mempelajarinya?
Sampai tulisan ini saya teruskan, biarlah pembaca dulu yang menyusun jawabannya.
Leave a Comment
In word we trust